
Tak menunda waktu lagi, Dini pun langsung menghubungi bos sekaligus sahabatnya. Berharap mendapatkan izin untuk resign kerja.
"Kenapa kamu tega sekali, Din? Lalu siapa yang bakalan bantu aku kerja?" rengek Lita.
"Bukan masalah tega nggak tega, Ta. Tapi ini masalah perkembangan mental seorang anak. Aku ingin menyelamatkan masa emas, Ta. Mengertilah!" rayu Dini, meminta pengertian Lita.
"Ya Tuhan, jika begini aku bisa apa? Tapi berapa lama kamu bakal kerja sama majikan lamamu itu? Nggak lama-lama, kan? Satu atau dua bulan saja kan?" tanya Lita. Masih belum rela jika Dini berhenti bekerja padanya. Karena Dini lah yang selama ini ia percaya untuk mengelola minimarket yang ada di apartemen itu.
"Kalo soal itu aku nggak bisa jawab sekarang, Bestie. Aku tetap menunggu bocah itu bisa mandiri dan mengerti. Aku hanya ingin menyelamatkan jiwanya. Itu saja."
"Aku tu heran sama kamu, Din. Kamu tu selalu mikirin orang lain dari pada dirimu sendiri. Bahkan sekarang mantan anak asuhmu pun kau pikirkan. Napa kamu mesti mikirin masa depan dia dari pada ketenangamu sendiri. Kamu tu terlalu baik jadi orang, Din. Tiati, takutnya nanti kena tipu lagi," ucap Lita.
"Ish, doain nyaaaa..... Masak gitu. Niat baik kok di do'ain begitu. Doainnya itu semoga aku berhasil. Biar ni anak bisa berkembang dengan baik atuh. Kan menyelamatkan satu anak, sama dengan menyelamatkan generasi penerus bangsa. Iye kan?" jawab Dini, sok ngedrama.
"Iya, serah elu ja Din... Din... pokoknya kalo dikau tak lagi kerja di sana, nggak usah kerja di tempat lain. Langsung balik aja ke minimarket. Oke!" balas Lita, kesal.
"Hah... beneran? So?" Sini berjingkrak senang.
"So, so apaan? Soto?" balas Lita kesal.
"Emmmm, Cute nya... uuhhh makin lope deh. Makasih banyak ya best, semoga kebaikanmu dibalas berlimpat ganda sama Allah. Oke! Aku bakalan bilang sama anak asuhku nanti, bahwa dia punya aunty yang sangat baik," ucap Dini, merayu.
"Beeuuhhh.... lebay. Dah... jadi masalah gaji gimana? Di ambil atau mau ku pakek modal dulu nih?" ucap Lita, Pura-pura kesal.
"Duh, eneng... gitu aja sih. Kita nggak putus kok, Best... Hanya berpisah sementara aja. Jangan sedih gitu dong?" jawab Dini.
"Dih... belum apa-apa udah eror. Aku nanya ni gaji elu mau diambil apa mau disimpan dulu eneng?"
__ADS_1
"Titip dulu, nanti kalo aku yang pegang, malah habis. Nggak jadi beli rumah, Best. Lalu sampai kapan princes seperti ku ini jadi gelandangan?" jawab Dini sembari terkekeh.
"Dasar gila! sudah diam kau. Sebaiknya rapikan dulu kerjaanmu. Nanti aku antar kamu ke tempat bosmu yang baru. Mumpung aku lagi di Depok sekarang. Ntar kamu ku jemput," ucap Lita.
"Ehhhhh, nggak usah, Best. Aku dijemput sama bapaknya bocah," tolak Dini, dengan senyum cantiknya.
"Ya Allah... pantas saja nolak. Ternyata dia udah punya gebetan anyar. Hati-hati, ntar baper!" canda Lita.
"Ish... nggak lah. Mana aku berani. Dah, aku mau lanjut kerja. Ini aku dah dapet izin berarti ya. Makasih banyak, Best. Semoga usahamu makin lancar. Makin sukses. Pokoknya jaya terus lah," ucap Dini.
"Iya. Makasih. Untukmu juga. Pokoknya kalo ada apa-apa cepat kabari. Jangan disimpan sendiri. Oke!" pesan Lita.
"Siap, Bosku. Makasih banyak untuk bantuanmu selama ini ya, Ta... " Dini terlihat menitikkan air mata.
"Iya, apapun untuk persahabatan kita. Oke!" ucap Lita.
Dini menutup panggilan telpon itu. Kemudian membalikkan tubuh.
Dini terkejut, karena tanpa ia tahu, ternyata Evan sudah ada di belakangnya.
"Ih... kaget aku. Huufff!" ucap Dini sembari mengelus dada.
"Gitu aja kaget. Orang aku cuma diem. Gimana sih?" jawab Evan, sok polos, sok tidak berdosa. Padahal ia bukan hanya mengejutkan Dini. Tapi mendengarkan pembicaraan wanita itu dengan sahabatnya.
"Gimana? Dikasih izin resign nggak?" tanya Evan, Pura-pura tak tahu apa-apa.
"Dikasih.Tapi nggak boleh lama-lama," jawab Dini, jujur.
__ADS_1
"Maksudnya?" Evan mengerutkan kening.
"Ya, Dini boleh jaga adek, tapi kalo bisa jangan lama-lama. Nanti kalo adek udah bisa mandiri, dia mau aku balik lagi kerja di sini," jawab Dini.
"Nggak, enak aja. Mana bisa begitu. Kamu udah setuju jagain putriku, maka selamanya harus jaga. Kau pikir putriku apaan? Kamu sayangi, lalu setelah nyaman, kamu tinggalkan. Gila aja kamu, kalo begitu mending nggak usah," ucap Evan ketus.
Dini menatap Evan. Menatap pria itu geram. Belum juga mulai kerja, udah dihakimi saja. Pantas saja tidak ada yang betah jaga Almera.
Bapaknya saja ketus ngalah-ngalahin haters.
"Ngapain bengong. Udah kemasi barangmu. Aku tungguin di sini. Habis itu aku antar kamu ke kos. Ambil barang-barang kamu," tambah Evan lagi.
"Iya, sebentar. Ya Tuhan, galak sekali," jawab Dini kesal. Sedangkan Evan hanya tersenyum. Tersenyum senang bisa melihat kekasih hatinya kesal. Ternyata Dini sangat menggemaskan ketika kesal. Evan menyukainya.
***
Di lain pihak, Robin mabuk parah setelah tahu bahwa Sella kembali melayani laki-laki lain selain dirinya.
Hati Robin terkoyak. Jantungnya serasa tertusuk samurai. Sakit sekali rasanya. Nyatanya, apa yang ia lakukan pada Sella malah menyakiti dirinya sendiri.
Sedangkan Sella, ia malah terkesan sengaja dengan merangkul mesra pelanggan pertamanya. Mencium pria itu penuh nafsu. Namun, tatapan matanya tetap terfokus pada Robin yang kini melihatnya sambil meneguk minuman laknat itu.
Bersambung...
Sambil nunggu emak update, yuk ke poin karya sahabat emak😍😍😍
__ADS_1