
"Sayang, maafkan aku. Oke, aku mengakui semuanya. Akulah yang mengambil uang itu. Tapi aku hanya ingin membelikan makanan untuk anak-anak jalanan, Sayang. Aku ingin membantu mereka. Tapi uangku kurang. Aku ingin ngomong di awal sebenarnya.Tapi aku takut kamu nggak setuju dengan tujuanku. Maaf, harusnya aku ngomong saja sama kamu. Izin gitu!" ucap Robin merayu.
Dini melirik kesal pada Robin. Namun sayang, wajah sok polos Robin nyatanya sanggup membuatnya bergetar.
"Sudah jangan merayu, aku malas denganmu, Bang! Harusnya kalo abang mau beramal, abang bilang. Biar Dini bisa bantu siapkan. Lalu kalo udah begini, gimana?" tanya Dini, bingung.
"Maafkan aku, Sayang. Memangnya separah itu kah efeknya. Bukankah aku cuma mengambil beberapa ratus ribu?" tanya Robin, lagi-lagi dengan suara lembut. Membuat Dini melemah, emosinya mereda seketika. Nyatanya Robin sangat pandai menggunakan senjata andalan itu.
"Dini nggak ngerti lagi mesti ngomong apa, Bang. Entahlah, Dini capek!" jawab Dini seraya melepaskan tubuhnya dari jerat Robin. Sayangnya Robin bukan pria yang mudah menyerah saat memiliki tujuan. Ia tetap mengikuti ke mana pun sang istri melangkah. Robin yakin, dengan kepandaiannya bersilat lidah, Dini pasti akan melemah dan menyerah.
"Ada apa lagi?" tanya Dini.
"Tidak, aku hanya menginginkan maafmu. Maafkan aku, Sayang!" pinta Robin, kali ini bukan hanya memeluk. Tapi juga menciuni lengan Dini. Sungguh rayuan maut yang memabukkan.
Dini menghela napas dalam-dalam. Rasanya lelah sekali bertengkar hanya karena uang. "Jujur Dini kecewa sama abang. Tapi mau bagaimanapun Abang adalah suami Dini. Dini nggak bisa marah terlalu lama sama abang. Sudahlah, Bang. Sebaiknya kita tidur. Sungguh Dini lelah sekali," ucap Dini lemah.
"Abang pijitin ya," rayu Robin. Tanpa diminta, ia pun memijat kaki sang istri.
"Dini bingung mesti gimana, Bang! Dini udah coba pinjam modal sama temen-temen Dini. Tapi mereka juga lagi dalam masa sulit," ucap Dini, memelas. Sengaja Dini tidak menyinggung perihal perhiasan. Karena ia malas bertengkar. Bagi Dini cukup tahu saja. Bahwa Robin lah pelakunya. Bukan orang lain.
"Ya udah, besok abang bakalan rajin ngojek deh biar abang bisa ngembaliin uang Dini yang abang pakai. Sekarang tidur lah, biar pikiran kamu tenang. Abang nggak mau kamu sakit, Yang," rayu Robin.
Dini diam. Enggan membalas ucapan itu. Percuma, Robin selalu berucap demikian tetapi tak pernah ada bukti.
"Dini mau kerja aja, Bang. Kayaknya Dini mau tutup saja usaha Dini. Modal Dini sudah habis. Abang nggak masalah kan kalo Dini kerja?" tanya Dini.
Mendengar suara istri mau mencari uang. Robin langsung berjingkrak dalam hati. Setidaknya wanita ini tidak akan merepotkannya. Karena masih bisa menghasilkan uang sendiri. Lagian, ia juga masih bisa memanfaatkan Dini untuk membayar cicilan utang di Bank. Sedangkan dirinya bisa fokus main judi dan membayar hutangnya pada papi Deon.
"Kerja ikut orang nggak capek, Yang?" tanya Robin pura-pura khawatir.
"Habis gimana, Bang! Dini butuh uang buat bangun usaha Dini lagi. Kalo abang nggak keberatan, besok Dini ke kota ya. Dini ditawarin jaga bayi orang," jawab Dini.
"Jaga bayi? Kamu kerja jadi pembantu. Memangnya gajinya berapa? Besar nggak? Kalo kerja jaga bayi gajinya kudu gede lo, Yang. Kalo nggak jangan mau," jawab Robin.
Astaga, kerja saja belum. Kenapa gaji yang ia tanyakan?
"Masalah gaji Dini di suruh nego sendiri. Kalo abang izinkan, besok Dini mau ke rumah itu. Mau interview."
Robin kembali berjingkrak dalam hati. Kepergian Dini ke kota pastinya bakal memberikan dua keuntungan baginya.
__ADS_1
Pertama Dini akan menghasilkan uang untuknya dan yang kedua, dia akan lebih bebas bertemu dengan Sella. Bukankah dua keuntungan itu cukup membuatnya senang?
"Kalo kamu memaksa, abang bisa apa, Yang? Yang penting kamu jaga diri dengan baik. Sering-sering kabari abang. Tapi kalo abang lagi pengen gimana? apa bosku nggak keberatan kalo abang datang?" ucap Robin manja.
"Ya nanti coba Dini omongin sama nyonya bos. Semoga kita di kasih waktu ketemu. Setidaknya seminggu sekali. Ya, Bang!" ucap Dini.
Robin mengangguk menyetujui.
Pertengkaran mereda. Dini sudah mendapatkan izin untuk bekerja. Besok tinggal pergi ke kota. Perihal bagaimana nanti, Dini tak mau terlalu memikirkan nya. Menurutnya mencari uang untuk membayar hutang sekaligus menyelamatkan usahanya adalah prioritasnya saat ini. Sedangkan suaminya, sangat tidak berguna. Tidak bisa ia andalkan, sama sekali.
***
Keesokan harinya...
Robin mengantar Dini ke terminal. Dengan wajah sok sedih, Robin pun beberapa kali terlihat memeluk istrinya. Seolah-olah dia bersedih karena mau ditinggal Dini pergi.
"Sayang, kamu yakin mau ninggalin, Abang?" tanya Robin, memelas.
"Kita nggak punya pilihan lain kan bang? Kan kita pisahnya nggak lama. Nanti kalo hutang kita lunas, Dini janji, Dini bakalan berhenti kerja, oke!" jawab Dini seraya mengelus pipi sang suami.
"Abang nggak bisa jauh-jauh dari kamu, Sayang. Pokoknya cepat kabarin abang kalo udah sampai ya. Jangan lupa share lokasi. Kalo abang ada rezeki nanti abang susulin kamu ke kota. Sukur-sukue nanti ada yang mau pakek tenaga abang. Abang juga mau kerja, Dek!" ucap Robin.
"Serius abang mau kerja?" tanya Dini.
"Ya udah ntar kalo ada lowongan kerja, Dini kabarin ya. Yang penting aktifin ponselnya terus ya, Bang. Jaga rumah baik-baik. Abang jaga diri juga ya. Jangan telat makan, oke!" ucap Dini lagi.
Bus hendak berangkat. Sebelum masuk ke dalam bus, tak lupa mereka saling memeluk dan mencium. Seakan mereka adalah pasangan saling mencintai. Padahal jika dilihat lagi, pria itu begitu licik dan tak punya kejujuran sama sekali. Sayangnya Dini masih tak bisa menyadari itu. Entahlah...
***
Sesuai info yang ia dapat, Akhirnya Dini pun sampai di depan rumah yang cukup mewah.
Tak ingin salah, Dini pun bertanya dengan penjaga di sana.
"Permisi, Pak? Apakah ini rumah ibu Zaenab?" tanya Dini, sopan.
"Benar, Mbak. Mbak ini siapa, ya?" tanya tim keamanan di sana.
"Oh perkenalkan nama saya Dini, Pak. Saya dapat info dari Pak Ujang, sopir di rumah ini, katanya ibu Zaenab butuh pengasuh untuk bayinya," jawab Dini jujur.
__ADS_1
"Oh, gitu. Sebentar ya Mbak, saya konfirmasi ke dalam sebentar," ucap pria itu.
"Baik, Pak. Saya tunggu!" jawab Dini, sabar.
Temudian petugas keamanan itu pun masuk ke dalam pos jaganya. Lalu menelpon seseorang. Tak lama berselang petugas tersebut kembali datang mendekat dekati Dini.
"Mbak, disuruh masuk nyonya. Silakan mbak!" ucap petugas itu.
"Terima kasih, Pak. Permisi!" jawab Dini.
Dini masuk ke dalam rumah super mewah itu. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya berpakaian modis turun dari tangga. Lalu melangkah mendekati di mana Dini berada.
"Siapa namamu?" tanya wanita paruh baya itu. Tanpa basa basi.
"Dini, Nyonya," jawab Wanita cantik ini.
"Em, sudah pernah jaga bayi?"
"Belum, Nyonya. Tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin menjaga nona baby, Nyonya."
"Emmm, jadi kamu belum ada pengalaman, ya. Tapi nggak pa-pa lah dicoba. Ujang udah kasih tahu tugas-tugas kamu kan?"
"Sudah, Nyonya."
"Em, masalah gaji, kamu nggak perlu khawatir. Kalo kinerja kamu bagus, aku bakalan kasih kamu gaji bagus. Tapi kalo tidak sesuai kriteria, maka maaf, dengan berat hati aku akan memulangkan kamu. Mengerti?"
"Mengerti, Nyonya."
"Ujang sudah kasih tahu aku kalo kamu ada suami. Jadi kamu boleh libur sebulan 2 kali. Tapi nggak boleh nginep. Karena si baby adalah tanggung jawabmu sekarang. Gimana? Kamu setuju tidak?"
"Baik, Nyonya, Terima kasih. Saya akan coba."
"Bagus! Sekarang kamu ke belakang. Di sana kamu cari seseorang bernama Warti. Dia yang akan ngajarin kamu cara kerja di sini. Oiya, putraku tidak suka putrinya menangis. Usahakan ketika dia pulang, si baby tidak menangis. Atau kamu bakal kena masalah nanti, mengerti!"
"Mengerti, Nyonya! Terima kasih!" jawab Dini.
Wanita paruh baya itu tersep sekilas. Lalu ia pun kembali menaiki anak-anak tangga. Setelah wanita itu tak terlihat, barulah Dini ke rumah belakang dan mencari seseorang yang akan mengajarinya bekerja.
Dini senang. Karena interview pekerjaannya tidak terlalu sulit. Dini juga yakin dengan kepercayaan yang telah ia dapatkan sekarang, ia pasti bisa menaklukkan pekerjaannya.
__ADS_1
Sayangnya, di balik kebahagiaan yang saat ini ia dapatkan, ternyata anak buah papi Deon sedang mencarinya. Sebab Robin melarikan diri. Pria tersebut mengingkari janjinya pada Deon. Sehingga mau tak mau Deon pun mencari Dini untuk meminta pertanggungjawaban suaminya.
Bersambung...