
Dini melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli pada Salsa yang melonggo memerhatikannya. Tak ingin membuat partner kerjanya itu marah, Salsa pun memutuskan membawa makanan tersebut ke belakang. Ke tempat biasa mereka menyimpan makanan.
Sedangkan Dini, wanita cantik ini hanya mengeluh malas.
"Siapa sih pria itu, bisa-bisanya bikin aku sudah begini. Awas saja kalo aku tahu siapa orangnya! Yakin, pasti ku omelin dia," ancam Dini kesal.
Kembali Dini memfokuskan perhatiannya pada tugasnya mencocokkan stok yang ada dengan laporan yang di tulis oleh Salsa.
Dini memang suka melakukan ini di awal, agar laporan akhirnya nanti, bisa sama dengan laporan awal. Dini tidak mau terlalu santai, salam bekerja. Ia tak mau, jika terlalu santai, nanti dia susah sendiri.
Suasana minimarket siang ini memang agak sepi, sehingga ada waktu baginya untuk memeriksa stok di awal.
Namun, ketika Dini sedang asik menghitung stok, tiba-tiba ada seorang anak kecil menepuk pundaknya.
Spontan, Dini langsung menoleh dan memberikan senyum terbaiknya untuk gadis cantik itu.
"Hai, Sayang! Kamu mau apa?" tanya Dini pada bocah cantik itu.
"Susu," jawab bocah cantik itu, lugu.
Dini segera berdiri dan mencari seseorang yang menyertai bocah cilik ini. Namun, sepi. Tak ada seorang pun di dalam mini market ini selain dirinya.
"Astaga, kamu sama siapa, Sayang? Ha?" tanya Dini seraya menggendong gadis kecil itu.
Dini melangkah menuju pintu. Pintu terbuka lebar. Mungkin tadi Salsa pas masuk, dia lupa menutup pintu. Sehingga bocah ini tertarik masuk ke sini.
"Haduh, anake sopo iki? Mari Sayang, kamu mau apa tadi ha?" ucap Dini, langsung gugup.
"Susu," jawab gadis cilik itu lagi.
"Oke, kita beli susu yuk. Ya Tuhan, kenapa teledor sekali orang tuanya. Kalo ada apa-apa denganmu bagaimana, Sayang. Hemmm!" ucap Dini seraya melangkah mendekati rak penyimpanan susu dan segera memilihkan susu untuk gadis menggemaskan ini.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Salsa datang.
Melihat Dini menggendong bocah kecil, tentu saja langsung membuat Salsa bertanya.
"Anake sopo, Mbak?" tanya Salsa.
"Emboh iki. Mau awakmu ga nutup pintu ya, arek iki langsung mlebu e," jawab Dini.
"Owalah... la ndi ibuk bapak e?" tanya Salsa lagi.
"La yo mboh. Coba kamu tengok di depan, mungkin ada yang kehilangan," pinta Dini.
Berbagi tugas, Dini bertugas menjaga bocah itu. Sedangkan Salsa membantu mencari orang gua bocah cilik itu.
Beruntung, baru Salaa keluar dari pintu, ia melihat dia satpam dan satu wanita paruh baya sedang kebingungan Seperti sedang mencari sesuatu.
"Pak Satpam!" panggil Salsa.
"Lagi ngapain?" tanya Salsa.
"Lagi nyari cucunya ibu ini. Lihat tak?" balas satpam itu lagi.
"Anaknya cewek cowok?" tanya Salsa.
"Cewek, Mbak. Cucu saya cewek. Usianya kira-kira dua tahun setengah, pakai baju pink, rok kuning. Sepatu hitam. Rambutnya ikal," jawab wanita paruh baya itu. Khawatir.
"Ooo... anak itu ada di sini, Bu. Dia ada di dalam sekarang sama temen saya. Mari," jawab Salsa, senang.
Spontan wanita paruh baya itu langsung tersenyum senang. Rasa takutnya seketika hilang. Terganti oleh rasa lega yang tak terhingga.
"Mana, Mbak... aduh... makasih banyak, Mbak. Kalo bapaknya tau anaknya habis hilang, maka habislah aku," ucap wanita paruh baya itu sembari memegang tangan Salsa.
__ADS_1
Kemudian, keempat orang tersebut pun masuk ke dalam mini market itu.
Betapa senangnya wanita paruh baya itu ketika melihat sang cucu ada di depan matanya. Sedang digendong oleh petugas mini market da sedang asik memilih cemilan yang dia mau.
"Ya Tuhan, terima kasih Mbak. Mbak usah jagain cucu saya," ucap wanita paruh baya itu seraya mendekati Dini.
Dini langsung menoleh dan menatap wanita paruh baya itu.
Berapa terkejutnya Dini ketika menatap wanita paruh baya itu. Sebab wanita itu sangat tak asing baginya.
Dini melepas maskernya, lalu segera menyapa wanita itu. Wanita yang ternyata adalah mantan majikannya.
"Nyonya Zaenab," sapa Dini.
Wanita itu juga menatap Dini. Karena ia heran, kenapa pegawai minimarket ini mengenalnya?
"Ya, ini saya. Kok kamu bisa tau ini saya?" tanya wnaita paruh baya itu.
"Iya, ya... gimana saya nggak tau. Kan saya pernah kerja sama Nyonya. Cuma saya berhenti gara-gara kecelakaan. Nyonya masih ingat sama saya, Dini. Yang baru kerja beberapa hari, setelah itu berhenti," ucap Dini, berusaha mengingatkan.
"Entahlah, aku lupa. Tapi terima kasih kamu sudah membantuku menjaga cucuku. Aduh, aku nggak tahu kalo sampai terjadi sesuatu padanya. Ayah nya pasti bisa langsung murka padaku," jawab Zaenab terus terang. Karena begitulah perangai sang putra sekarang. Suka marah dan memecat siapa pun yang tak mampu membujuk sang putri untuk diam ketika menangis.
"Ya jelas nyonya lupa. Padahal saya inget loh sama nyonya. Apa lagi dengan baby cantik ini. Namanya Al-mera kan, nyah?" tanya Dini.
" Iya benar, namanya Al-mera. Aku juga Zaenab. Cuma aku sungguh-sungguh lupa. Dirimu ini yang mana. Nanti kasih tahu ya, namun sebelumnya aku ucapkan banyak Terima kasih sama kamu. Karena kamu sudah mau menjaga cucuku," ucap Zaenab seraya berusaha mengambil Al-mera dari gendongan Dini.
Sayangnya, Al-mera tak mau. Justru ia malah memeluk erat Dini.
Membuat omanya terheran-heran.
Bersambung..
__ADS_1