
Tak ingin terlihat bersalah di hadapan Dini, Robin pun kembali mengejar istrinya itu.
"Dini sini kamu, jangan coba-coba menghindar ya... di sini kamu yang salah! Usaha kita bangkrut itu gara-gara kamu nggak becus ngurus. Jangan merasa nggak salah kamu!" teriak Robin.
Dini membalikkan tubuh. Lalu menatap penuh tanya pada Robin. Ucapan Robin sungguh membuatnya super bingung. Siapa yang merintis usaha itu? Siapa yang mengembangkannya selama ini? Lalu sebelum mereka menikah, usaha tersebut juga sudah berdiri. Tapi, sekarang dengan pedenya Robin mempertanyakan itu semua. Sedangkan dirinya tak pernah membantu apapun. Bukankah ini lelucon?
"Apakah aku boleh tertawa dengan semua ucapan konyol mu itu, ha? Lihat, siapa di sini yang mencoba menutupi kesalahan. Aneh sekali kamu nuduh aku nggak becus bangun dan mempertahankan usaha. Andai modalku tidak kamu tilap, pasti usahaku nggak akan seperti ini," jawab Dini emosi.
Deg..
"Tilap apa? kamu jangan nuduh ya?"
Jantung Robin serasa tertusuk sembilu. Ucapan Dini seakan membuka semua boroknya. Mati!! Dini sudah tahu semuanya.
"Sudahlah, Bang. Jangan mengelak lagi. Dini sudah tahu semuanya kok. Siapa yang selama ini yang mencuri uang warung!" jawab Dini, mulai tak bisa mengontrol emosi.
"Jadi kamu menuduhku mencuri? Mana buktinya kalo aku pencuri ha? Jangan asal kamu Dini!" bentak Robin.
__ADS_1
"Bukti? Mau bukti apa lagi, Bang? Di rumah ini hanya kita berdua, Bang. Yang punya kunci rumah sama kamar ini juga kita berdua. Yang tau kunci lemari juga cuma kita berdua. Lalu siapa menurut abang, siapa di antara kita pelakunya jika barang yang ada di rumah ini hilang? Di rumah ini semua barang milik Dini, Bang. Hasil kerja keras Dini. Bukan Dini merendahkan abang, tapi kenyatannya seperti itu. Aneh kan kalo Dini yang curi, nggak mungkin kan?" cecar Dini kesal.
"Kamu jangan gila, Din. Aku baru pulang. Aku nggak tau apa-apa!" jawab Robin berkilah.
"Benarkah? Lalu dari mana abang tau kalo Dini bangkrut. Kalo nggak sejak awal abang pantau Dini?" serang Dini.
"Ya... aku dikasih tau mantan karyawan kamu. Katanya kamu pecat dia. Karena usahamu bangkrut."
Dini tertawa. Jawaban Robin sangat bodoh dan tidak masuk akal. Sekarang karyawan mana yang ia maksud. Satu pun karyawan yang Dini berhentikan, hampir semuanya tak ada yang mengenal Robin. Di samping Robin jarang ke kedai. Mereka juga sama sekali tidak pernah bercengkrama. Bukan kah ini pernyataan yang membangongkan!
"Kenapa kamu tertawa? Apanya yang lucu?"
Robin kalah telak. Wajahnya langsung bersatu merah karena malu. Tak tahu lagi harus berucap apa?
"Ahhhh... aku nggak mau tau, pokoknya mulai bulan ini cicilan kamu yang bayar. Aku pusing bayar utang kita sendirian!" jawab Robin emosi.
Dini diam. Ternyata ini alasan Robin sedari tadi menyerangnya. Dia bedak lari dari tanggung jawab.
__ADS_1
"Kenapa pusing, Bang? Bukankah kita ada hasil dari investasi kebun sawit. Jangan bilang kalo investasi itu bohong?" desak Dini.
"Ya nggak lah, kamu kan udah terima surat-suratnya. Mana bisa aku bohong."
"Bisa saja dimanipulasi. Uang Dini saja abang tega curi, apa lagi hanya sebuah surat. Iya kan?
"Jaga ucapan kamu ya, Din! Aku nggak ngerasa seperti yang kamu bilang. Aku nggak tau apa-apa!"
"Sudahlah, Bang. Jangan mengelak lagi. Sebaiknya abang jujur. Dosa bang nipu istri. Lagian apa sih bang kurangnya Dini sampai abang tega nglakuin itu semua ke Dini. Salah Dini apa coba? Dini nggak pernah minta sepeserpun dari abang. Dini nggak pernah ngrepotin abang juga kan? Kalo pun abang keluar uang buat beliin Dini jajan, rasanya wajar kalo suami jajanin istri. Lalu, selain itu? Apakah Dini pernah merengek minta ini itu, nggak kan, Bang? jadi salah Dini dimana?" desak Dini, semakin emosi. Bahkan mata wanita cantik ini pun berkaca-kaca.Menandakan hatinya sangat lelah menghadapi suami tak tahu diri ini. .
Robin diam. Terlihat salah tingkah.
"Kenapa? Kenapa diam? Sadar sekarang siapa yang bertanggung jawab di sini. Aku diam bukan aku nggak tau, Bang. Kalo abang memang merasa memiliki usaha itu, lalu kenapa abang sengaja ngancurin semuanya. Sekarang, katakan... abang pakai apa uang itu? Apa benar abang punya wanita lain di luar sana? atau abang menyembunyikan hal lain dari Dini. Katakan, Bang! Jangan berbohong lagi?" Desak Dini lagi.
Robin semakin tersudut. Dini ternyata tidak sebodoh yang ia kira. Diam-diam wanita ini memendam rasa yang Robin kira, rasa itu tidak pernah ada. Sayangnya, Robin tidak menyesali hal itu. Justru dia memiliki rencana untuk kembali memperalat wanita ini.
Dengan wajah sok polosnya, Robin pun mendekati Dini. Bersiap merayu wanita itu.
__ADS_1
Bersambung....