
Dini menangis menjadi-jadi sesaat setelah ia mendapat kabar menyakitkan itu. Nyatanya ia tidak hanya dibodohi secara mental, tapi juga fisik.
Hatinya hancur berkeping-keping. Dini tidak menyangka, bahwa pria yang selama ini ia anggap baik, ia anggap sholeh dan bisa membimbingnya ke jannah, ternyata adalah pria berhati busuk. Pria penipu sekaligus bajingan.
Bukan hanya harta Dini yang ia kuras habis, tetapi juga harga diri Dini. Harga diri wanita itu juga pria itu sepelekan. Menikah, tapi memberinya mahar dengan uang palsu.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Dini pada dirinya sendiri. Sungguh, andai bunuh diri tidak dosa, mungkin saat ini Dini akan memilih mengakhiri hidupnya saja. Biar tak ada lagi orang-orang yang berani menginjak harga dirinya.
"Kakak oke?" tanya Viona. Ikutan tegang.
"Ya." Dini tersenyum sekilas. Lalu menagis lagi.
"Sabar ya, Kak." Viona memang tak tahu masalah apa yang sedang dihadapi Dini. Tapi ia yakin, masalah tersebut tidak lah mudah.
"Ya, terima kasih ya. Terima kasih," jawab Dini.
Viona mengangguk mengiyakan. Namun tetap saja, aura kesedihan tetap terpancar dari tatapan dan senyuman sekilas Dini. Membuat Viona kasihan dan tak tega meninggalkan wanita itu sendiri.
Tak lama berselang, Dini kembali menangis. Viona tidak bisa melarang. Karena ia sendiri juga bingung harus berbuat apa.
***
Lita tahu, jika Dini masih shock dan tidak bisa di ajak berkomunitas dengan baik. Itu sebabnya, ia dan Tanjung pun berinisiatif mencari kebenaran tentang Robin sendiri.
Jujur Lita sangat penasarannya dengan asal usul pria tersebut.
"Kamu tau nggak rumahnya, Ta. Ntar kita udah jauh-jauh sampai sini, salah pula," ucap Tanjung.
"Tau pastinya sih enggak, kan aku belum pernah ke sini. Kita kan sama-sama tau, Dini kendalanya juga via online," jawab Lita.
__ADS_1
"Ntar kalo salah gimana? Awas kalo salah, tak cium kamu!" canda Tanjung.
"Udah dikau fokus aja fokus. Nyong yakin kok ini alamatnya. Bener, serius, nyong nggak ngadi-ngadi. Sesuai yang tertera di surat izin nikah, plus Kartu identitas nya pula," jawab Lita sedikit bercanda. Tak lupa ia juga terus memerhatikan lembaran-lembaran kertas itu.
"Untung kamu tau Dini taroh surat-surat pentingnya di mana! Kalo nggak, bisa tambah ribet kita," ucap Tanjung.
"Ya, kamu tahu lah dia sama aku, kek gimana? Kita seia sekata. Andai lain jenis, mungkin kami akan menikah!" jawab Lita, Lagi-lagi diiringi tawa renyahnya.
"Iya, aku pun heran dengan persahabatan kalian. Kok ada gitu, orang sahabatan bisa luar dalam tau," tambah Tanjung.
"Nggak gitu juga sih sebenernya. Nggak smua tentang dia aku tahu. Hanya saja dia suka cerita dan kebetulan aku bisa jadi pendengar setia sekaligus penyimpanan rahasia," jawab Lita, santai.
"Tapi serius, kamu tu peduli banget sama dia. Heran aku. Jujur ni ya, kalo bukan karena cintaku ke kamu, aku ogah nyetirin kamu sejauh ini." Tanjung melirik Lita, ingin tau ekpresi sahabatnya itu.
"Kalo soal niatmu bantuin karena aku, aku ucapain banyak Terima kasih. Tapi kalo soal aku sendiri, Aku lebih kasihan aja sih sama dia. Lihatlah, udah yatim piatu, sekarang ditipu suami, ditambah nggak ada satupun keluarga yang peduli padanya. Semua tutup mata. Kalo bukan kita, para sahabatnya ini yang bantuin, lalu siapa lagi, Jung. Ya kan?" jawab Lita.
"Kalo soal itu bukan rahasia lagi, Jung. Seluruh alam semesta ini juga tau, kalo kakak adek ibu bapaknya Dini cuma dateng kalo pas butuh doang. Kalo nggak, mana mereka mau peduli sih. haaaahhh... dah ah, ngapain kita ghibahin keluarga orang. Yang penting kita bantu Dini, ikhlas. Itu dah yang paling baik. Iya kan?" balas Lita.
"Kamu bener, Ta. Beruntung Dini punya kamu. Yang peduli. Nolong tanpa pamrih. Duh gemes jadinya. Pengen abang halalin aja rasanya," ucap Tanjung sembari mencolek dagu Lita. Membuat Lita kesal.
"Dasar gila! Jangan pegang-pegang. Denger ya abang Tanjung terhormat, aku bakalan mau sama kamu kalo seluruh mahluk berjenis kelamin laki-laki di dunia ini punah. Paham!" ucap Lita ketus. Sedangkan Tanjung hanya tertawa. Sebab ia tahu, Lita pasti marah jika diisengin. Apa lagi sampai ada yang mencolek dagunya. Lita pasti bakalan mengumpat emosi.
Tepat pukul tiga sore, akhirnya Lita dan Tanjung pun sampai di kampung tempat Robin berasal. Berbekal foto kopy KTP dan juga surat izin menikah, Lita dan Tanjung pun langsung mendatangi rumah pak lurah setempat.
Tentu saja mereka tak ingin kabar yang mereka terima simpang siur. Tapi kalau langsung di rumah petugas setempat, setidaknya data yang mereka dapat pasti akurat.
"Assalamu'alaikum.... " ucap Lita dan Tanjung serempak.
"Waalaikumsalam..." jawab seseorang dari dalam.
__ADS_1
"Maaf, Bu... Pak Lurah ada?" tanya Dini sopan.
"Oh di sini bukan pak lurah, tapi bu lurah. Dan itu saya sendiri, ada apa ya? ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang itu.
"Oh... maaf, Bu. Kami tidak tahu," jawab Tanjung.
"Nggak pa-pa. Mari masuk dulu. Silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Lurah itu lagi.
Tanjung dan Lita pun masuk ke dalam rumah sederhana itu. Lalu mereka pun langsung menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang ke tempat ini.
"Sebelumnya kami minta maaf karena sudah menganggu, Bu Lurah," ucap Lita.
"Ndak, ndak pa-pa. Santai saja. Jadi maksud dan tujuan mbak sama masnya ini, kenapa dan ada apa ya?"
"Jadi gini Bu Lurah, kami mau mencari temen kami yang hilang nggak ada kabar. Barang kali beliau pulang kampung. Sesuai kartu Identitas yang kami pegang, alamat temen kami, di sini. Emmm, apakah dia masih warga sini? Kalo tidak keberatan maukah Bu Lurah bantu kami untuk memeriksanya!" pinta Lita sembari menyerahkan beberapa lembar bukti yang ia bawa kepada ibu Lurah tersebut.
Bu Lurah mulai memeriksa tulisan yang tertera di dalam kertas tersebut. Semenit kemudian, Bu Lurah malah tersenyum. Lalu ia pun bertanya, "Apakah pria ini membuat ulah lagi?"
Pertanyaan yang cukup membuat Lita dan Tanjung terkejut. "Ya... apakah pria ini bermasalah, Bu?" tanya Lita, penasaran.
"Ya, beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan agustus kalo nggak salah, dia masuk penjara karena kasus penipuan. Orang kota seperti kalian juga yang melaporkan. Tapi untuk detailnya hanya pihak polisi dan keluarga pihak wanita yang tau," jawab Bu Lurah, serius.
Lagi, satu fakta lagi yang membuat Lita dan Tanjung tercengang. Ternyata bukan hanya Dini korban dari Robin. Dari info yang mereka dapat, ternyata Robinson sudah beberapa kali mengulang kasus yang sama. Yaitu menipu para wanita dengan menikahinya. Setelah itu ia akan menguras habis hartanya.
Bersambung...
Sambil menunggu Dini update, kalian bisa kepoin karya emak yang lain yesπππ
__ADS_1