
Di sisi lain, Robin stres berat. Karena ia selalu kalah dalam permainan judi.
Uang yang ia miliki terkuras habis. Hingga tak bisa pulang. Bahkan motor satu-satunya pun telah ia jual untuk menambah modal berjudi.
Sella yang melihat wajah murung sang kekasih, langsung mendekati pria itu dan menyodorkan segelas bir kepadanya.
"Sayang, jangan bersedih. Kita masih punya solusi kok. Tenang... aku pasti bantu kamu cari modal," ucap Sella.
"Caranya?" tanya Robin.
"Aku bakalan ngenalin kamu sama papi Deon. Dia itu suka kasih pinjam modal buat kita-kita yang terpuruk. Supaya kita bangkit lagi. Tenang aja, bunganya nggak besar kok atau kalo nggak kamu bisa pakek istrimu sebagai jaminan. Dia terima wanita kok, tenang aja," jawab Sella, bersemangat.
Awalnya Robin yang lemas karena stres karena uangnya habis. Tiba-tiba bersemangat untuk kembali berjuang.
"Benarkah? Benarkah dia mau jaminan wanita?" tanya Robin, memastikan.
"Ya, beneran. Paling kalo ambil 50 juta, cuman suruh nglayanin dua atau tiga kali. Tergantung servisnya sih, kalo memuaskan, biasanya dia malah kasih kita bonus. Ditambahin gitu maksudku," jawab Sella.
Robin tersenyum senang. Sebab Sella selalu bisa mencarikan solusi untuknya.
Persetan dengan Dini, yang penting saat ini ia bisa mendapatkan uang untuk bermain judi.
Hutang yang melilitnya sudah cukup banyak. Ditambah ia tak bisa lagi mencuri aset-aset berharga milik Dini. Karena semua sudah ia babat habis.
"Kapan kamu bisa mempertemukan aku dengan orang itu?" tanya Robin.
"Emmm, besok boleh. Sekarang papa sedang ada tamu. Dia nggak bisa diganggu," jawab Sella.
"Dari mana kamu tau kalo dia sekarang lagi ada tamu?" tanya Robin curiga.
"Ya tahu lah, Mas. Kan Sella kenal baik sama beliau. Beliau juga suka kasih uang jajan buat Sella. Beliau itu baik banget tau sana Sella. Dia udah anggap Sella anak sendiri," jawab Sella.
__ADS_1
"Oke deh, mari kita coba pinjam uang ke dia. Siapa tau kita bisa menang. Aku bosan sekali miskin. Aku ingin kaya. Biar nggak ada lagi orang mau merendahkan ku," ucap Robin, pelan. Lebih tenang. Lebih tenang dari pertama kali Sella datang mendekatinya.
"Ya udah yuk pulang. Malam ini mau pulang ke rumah Sella atau pulang ke rumah bini tua, hemm?" tanya Sella.
"Aku malas sekali lihat muka dia. Aku lagi stres. Bisa tambah stres aku ngladenin manjanya dia."
Sella tersenyum. Lalu ia pun menjawab, "Ya udah, malam ini tidur di rumah Sella lagi. Tapi nggak pa-pa. Istrimu nanti nyari!"
"Dia nggak bakalan nyari, aku udah kirim pesan kalo malam ini aku nggak pulang."
"Oke kalo udah izin. Yang penting kan udah izin. Biar dia nggak cariin cintanya."
Robin tak membalas ucapan terakhir sang kekasih. Ia memilih diam agar pikirannya kembali tenang.
***
Benar saja, Kini Dini sedang duduk termenung sembari membaca pesan teks yang di kirim Robin.
Dini bingung harus membalas apa pesan tersebut. Sebab jujur, kejadian yang terjadi hari ini sudah cukup membuatnya kesulitan berpikir.
***
Keesokan harinya..
Sesuai janjinya pada Robin, akhirnya Sella pun mengenalkan Robin pada pria yang biasa ia sebut papa Deon itu. Beliau adalah pengusaha peternakan ayam negeri dan memiliki beberapa club dan tempat judi. Temasuk tempat judi yang biasa di pakai Robin untuk berlaga.
Kini Sella dan Robin sudah duduk markas pria bertubuh pendek dan sedikit gemuk itu.
Robin terlihat cemas. Sedangkan Sella sangat santai.
"Jangan tegang, Sayang. Papi Deon nggak kejam kok. Dia baik. Sangat mengayomi. Kamu rileks aja," bujuk Sella.
__ADS_1
"Oke oke, aku akan rileks. Semoga dia mau kasih pinjam ya. Semoga dia mau percaya padaku," ucap Robin, gugup.
"Tenang, dia pasti mau. Jaminan kamu kan istimewa," jawab Sella.
Ya, Sella saja selalu rival Dini, mengakui bahwa Dini sangatlah cantik. Lalu di mana mata batin Robin, yang tidak bisa melihat kecantikkan istrinya. Astaga!!
Lima belas menit menunggu, akhirnya pria yang di panggil Papi Deon oleh Sella itu pun datang. Dengan berpakaian biasa, namun perhiasan yang menempel ditubuhnnya tak diragukan lagi keasliannya.
"Selamat siang, Pi. Apa kabar?" sapa Sella seraya memberikan pelukkan dan kecupan di pipi untuk pria itu. Sella terlihat tidak canggung saat melakukan itu. Seolah sudah terbiasa.
"Selamat siang, Sayang. Kamu apa kabar hem?" tanya pria itu.
"Sella baik, Pi. Oiya Pi, ini orang yang Sella ceritain ke Papi. Dia lagi butuh dana, Pi. Tolonglah kasihani dia. Hemm," ucap Sella merayu.
"Oh iya iya, boleh... tapi sebelumnya kamu udah kasih tahu dia belum apa syarat meminjam uang padaku?" jawab Deon.
"Sudah, Pi. Papi tenang aja. Dia udah siapin jaminannya kok. Cantik, Pi. Papi pasti suka," jawab Sella, Lagi-lagi merayu dengan suara manjanya. Membuat Deon tersenyum senang.
"Oke, silakan berikan aku foto dan alamat tempat tinggalnya. Biar anak buahku cek terlebih dahulu. Nanti kalo Oke, uangnya bisa kamu ambil lusa. Bagaimana?" tanya Deon, tanpa mau berbasa-basi lagi.
Tanpa berpikir panjang, Robin pun menyerahkan ponsel yang berisi foto tercantik Dini. Kemudian ia juga menuliskan alamat di mana istrinya itu tinggal.
"Cantik, lumayan!" ucap pria mata keranjang itu, senang.
"Cantik kan, Pi! Papi pasti bisa nahlukkin dia. Baru pria ini doang yang jamah dia, Pi. Pria ini juga nggak akan keberatan kalo Papi mau jadiin ni cewek istri ke enam Papi. Serius," bisik Sella, seriuss.
"Benarkah?" tanya Deon.
"Tentu saja, memangnya Sella kapan sih boong sama Papi. Sella mana berani sih Pi, boong sama Papi," rayu Sella lagi.
Seperti mendapatkan durian runtuh Deonoun langsung menyetujui permintaan Sella agar meminjami uang Robin. Namun sebelum Robin menerima uang yang ia inginkan, terlebih dahulu Robin memintanya tanda tangan dalam surat perjanjian pinjam meminjam itu dan menjadikan Dini sebagai jaminan jika sampai Robin tidak sanggup membayar hutangnya.
__ADS_1
Bersambung...