Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Berusaha Bangkit


__ADS_3

Kesedihan Dini berlanjut sampai detik ini. Ia tak lagi bisa bekerja. Tulang kakinya yang retak, sekaligus kepergian buah hatinya menjadi penyebab utama wanita ini murung dan tak banyak bicara. Beruntung Lita begitu setia menjaga dan mengajaknya berbicara.


Sekarang Dini hidup menumpang di rumah Lita, sahabatnya. Sebab pria yang menabrak Dini tidak mengizinkan wanita itu tinggal sendiri selama Robin masih buron.


Pria itu takut, Robin masih membuat ulah dan membuat janji-janji lain dengan rentenir atau penyedia hutang lainnya.


"Beruntung bapak yang nabrak kamu baik ya, Din. Nggak lepas tanggung jawab. Mau bantu kita juga. Tapi aku penasaran sama wajahnya," ucao Lita.


"Penasaran kenapa? Aku aja yang ditabrak nggak penasaran. Kenapa situ yang nggak ada hubungannya jadi penasaran? Yang jelas beliau pasti orang baik. Seorang pria dan beliau pasti orang penting. Makanya nggak mau ketemu orang sembarangan. Apa lagi sekelas remahan peyek kek kita," jawab Dini sembari terkekeh.


"Remahan peyek.... kebagusan. Kita ma butiran debu di kolong meja. Puas!" Lita ikutan terkekeh.


"Lahhh... lebih parah. Tapi bener juga sih. Sampai bapaknya nggak mau ketemu sama kita," ucap Dini lagi.


"Yo wis ga pa-pa lah... penting mau tanggung jawab. Tapi kasihan bapak asisten itu ya. Bolak balik bolak balik ke sini. Cuma buat ngecek kamu doang," balas Lita.


"Habis mau gimana lagi? Ponsel saja aku tak punya. Di sita pak pongisi kan. Ya sudahlah, pasrah saja. Sekarang malah jadi benalu di rumahmu. Gimana dong?"


"Nggak pa-pa. Mungkin sekarang kamu benalu di rumahku. Siapa tau besok-besok aku yang jadi benalu di rumahmu. Namanya hidup nggak mungkin diam di tempat, Din. Pasti ada naik turunnya. Iya kan?"


"Ya, tapi selama ini... selama kita kenal... banyakkan aku yang ngrepotin kamu, dari pada kamu ngrepotin aku. Gimana dong?" Dini tersenyum malu.


"Belum aja, Din. Siapa tau nanti aku yang ngrepotin kamu. Sudah jangan bahas itu terus, sebaiknya kamu bantu aku cek hasil jualan ku hari ini. Aku mau mandi. Aku tahu ini hari Kamis, jadwal pak asisten jenguk kamu. Kali aja doi mau nglirik aku," canda Lita, Dini tersenyum mendengar itu. Menurutnya, Lita sangat menggemaskan jika genit begitu.

__ADS_1


"Baiklah, Kak.... mari sini aku yang kerja. Kakak dandan yang cantik ya. Kali aja bener, pak asisten jodohnya Kak Lita. Jangan lupakan aku kalo udah nikah sama beliau ya Kak!" balas Dini, terkekeh.


"Heh... kita apaan sih? Ngayalnya nggak banget. Untung pak asisten nggak ada di sini. Kalo ada, matilah aku, Din."


"Mati kenapa?"


"Ketauan naksir!" Lita terkekeh begitupun Dini. Merasa lucu dengan kekonyolan mereka.


Di detik berikutnya, Dini langsung memfokuskan pandangannya pada angka-angka yang tertera di dalam kertas yang ia pegang. Lalu dengan licahnya ia pun mulai menarikan jemarinya di atas kalkulator milik sahabatnya.


Sangking seriusnya, Dini tidak tahu jika Bian sudah duduk di depannya.


"Serius amat, Mbak. Sampek nggak lihat aku udah duduk di sini lama," ucap Bian.


Spontan, Dini pun mengangkat wajahnya. Lalu tersenyum pada pemuda itu.


"Nggak pa-pa, Mbak. Gimana kabar Mbak, udah enakan?" tanya Bian.


"Alhamdulilah... Udah enakan. Udah bisa jalan, meski pakek tongkat. Dirimu gimana? Sehat? Pak bos gimana? Sehat juga?" balas Dini.


"Ya, kami semua sehat, Mbak. Ini titipan beliau. Buat Mbak," ucap Bian sehari menyerahkan amplop berisi uang untuk Dini.


"Ya Tuhan, nggak usah lah Bi. Bilang sama pak bosmu, kalo untuk makan, aku masih bisa lah. Lihatlah, aku pun kerja sama Lita, sahabatku. Dia udah kasih aku makan gratis di sini kalian nggak perlu khawatir. Tapi kalo untuk berobat, kamu tahu sendiri kan. Aku dalam keterbatasan soal itu," jawab Dini seraya mendorong amplop itu ke arah Bian.

__ADS_1


"Nggak pa-pa, Mbak. Mbak nggak bawa kasus ini ke jalur hukum saja, Pak Bos udah syukur. Soalnya kalo urusan polisi, dia yang ribet. Bukan mau lepas tanggung jawab, cuma Mbak tau kan, kerjaan beliau. Nasib ribuan karyawan ada di pundaknya," jawab Bian.


"Iya aku tau itu, aku juga salah dalam hal ini Bi. Aku nyebrang nggak hati-hati."


"Iya, kami tahu posisimu saat itu, Mbak. Eh ngomong-ngomong mbak Dini lagi ngerjain apa ini?" tanya Bian.


"Biasa, penghasilan tokonya Lita. Udah, kamu bawa lagi aja amplop ini. Bilang sama pak Bos, aaku udah kerja. Kalo untuk makan masih bisa lah. Aku nggak mau terlalu banyak hutang budi sama bosmu, Bi," ucap Dini.


"Baiklah jika begitu, Mbak. Nanti saya sampaikan. Oiya, Mbak... Suamimu saat ini masih buron. Aku harap, Mbak hati-hati kalo mau bepergian. Karena takutnya, dia masih mengincar, Mbak Dini."


"Iya, Bi. Aku tau itu. Tapi mau gimana? Aku pun nggak bisa berdiam diri terus di rumah. Nanti kalo udah enakkan, aku mau kerja di toko punya Lita. Do'ain aku cepat sembuh ya, Bi. Oiya, nanti kalo aku udah sembuh, kamu masih mau kan berteman denganku?" tanya Dini.


"Tentu saja, Mbak. Masak berteman nggak mau. Pokoknya saling kasih kabar aja. Maaf aku nggak bisa lama-lama, Mbak. Habis ini aku mesti ke salah satu klieny bos. Mau ngambil surat-surat penting. Beneran ini aku bawa lagi?" Balas Bian.


"Iya, Bi bawa aja. Aku aman kok. Nanti kalo ada apa-apa aku pasti kasih tahu kamu," jawab Dini.


Obrolan berakhir, Bian pun berpamitan dan Dini kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Lita maaih berdandan di kamar. Berharap terlihat cantik di mata Bian.


***


Di lain pihak...


Robin kembali melancarkan aksinya untuk mencari mangsa. Seorang wanita lugu yang mau membiayainya untuk pergi ke Thailand. Karena ia tau, Sella sekarang sedang berada di sana.

__ADS_1


Apapun yang terjadi, Robin sudah berjanji, bahwa ia akan mengejar ke mana pun Sella berada.


Bersambung..


__ADS_2