Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Shock


__ADS_3

Dini sedang kebingungan saat ini. Uang gaji para karyawan yang sudah ia hitung dan sisihkan, tiba-tiba saja berkurang. Bukan hanya itu, uang modal yang sudah ia hitung semalam juga berkurang. Sungguh, Dini merasa bingung dengan kejadian ini.


Rasanya kejadian ini terasa sangat cepat. Semalam ia sendirian di rumah. Bahkan suaminya tidak pulang.


Lalu?


Siapa yang berani melakukan ini?


Dini menghapus kasa air wajahnya. Rasanya lelah saja mengingat kejadian tak masuk akal ini.


Lama wanita cantik ini melamun. Hingga tak lama kemudian, ia tersentak dari lamunan ketika tersengar suara sering ponsel yang ada di depannya.


"Hallo... Assalamu'alaikum... Berkah Catering di sini, ada yang bisa saya bantu?" sambut Dini.


"Walaikumsalam... Mbak, ini dari PT Adiyasa Perkasa. Kami ingin memesan nasi box 200 buah untuk hari Jum'at jam 12 siang. Apa bisa?" tanya admin perusahaan tersebut.


"Bisa, Kak... Mau yang harga berapa? 25k, 35k atau yang lengkap 45k, Kak?" tanya Dini.


"Kalo yang 25k isinya apa aja, Kak?" balas Admin itu.


Dengan sabar Dini pun menjelaskan menu-menu yang ada di dalam Masing-masing harga tersebut.


"Sesuai rapat dengan bendahara bajed kami cocok dengan yang harga 35k, Kak. Untuk pembayarannya bagaimana? Kami lunasi atau DP dulu, Kak?"


"Bisa dilunasi, bisa DP dulu Kak. Lagian kita kan udah langganan. Iya kan?" Dini tersenyum. Begitu pula Admin perusahaan tersebut.


"Emmm, sebaiknya kami transfer lunas saja deh, Kak. Biar nggak tanggungan."

__ADS_1


"Boleh silakan!" jawab Dini.


"Makasih atas kerjasamanya, Kak."


"Sama-sama," jawab Dini, sedikit kurang semangat.


Ya, orderan selalu masuk. Usaha Catering pun bisa dikatakan cukup lumayan. Namun anehnya, uang yang ia dapat tidak sebanding dengan hasil kerja kerasnya.


Beberapa hari ini Dini sering kehilangan uang. Padahal saat hendak tutup kedai, terlebih dahulu ia menghitung uang tersebut. Nominal pendapatan dan pengeluaran serta laba pun juga sudah ia tulis di buku jual beli. Tapi, keesokan harinya ketika ia hendak membayar belanjaan, uang itu tiba-tiba saja berkurang. Bukankah ini membingungkan. Sedangkan di rumah tak ada siapapun. Bahkan suaminya pun tak pulang semalam.


"Mungkinkah ini ulah abang? Dia pulang, tapi aku tak tahu. Atau... " gumam Dini, curiga. Sebab yang pegang kunci rumah dan kamar mereka hanya ada dirinya dan sang suami. Namun... "Tapi jika seandainya dia pulang, kenapa nggak bangunin aku. Lalu, andai dia yang ambil uang itu, dipakai apa uang itu? Bukankah selama ini abang nggak pernah kasih aku uang. Harusnya uang hasil ojek dia utuh dong!" gumam Dini lagi, masih berusaha menerka-nerka kronologi kehilangan yang ia alami.


Dini mengigit bibir, bingung. Antara curiga dan tak ingin suudzon. Tapi sungguh, kejadian ini tidak sampai di otaknya.


"Nggak.. nggak.. aku nggak boleh suudzon sama abang. Kalo bukan dia, jatuhnya fitnah nanti. Sebaiknya aku cari tahu saja. Dari pada malah jadi boomerang dalam rumah tangga kami. Bukankah ini malah bahaya," ucap Dini seraya menutup buku yang ada di depannya.


Tak ingin membuang waktu percuma, Dini memilih bekerja. Ia pun beranjak dari tempat duduk, merapikan meja setelah itu ia mulai melangkah ke dapur untuk melihat, mengontrol dan juga membantu para pekerjaannya. Barang kali ada yang kurang.


Siang telah berganti sore, waktunya Dini pulang. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja Dini teringat dengan beberapa perhiasan yang ia miliki.


Curiga perhiasannya hilang, Dini pun berniat memeriksa simpanannya itu ketika sampai di rumah nanti.


Sungguh, hari ini pikiran Dini jadi ruwet tak karuan. Bagaimana tidak? harusnya hari ini ia harus membayar gaji para karyawan. Tapi uang yang udah ia sisihkan tiba-tiba berkurang, terpaksa ia meminjam uang pada Lita. Sahabatnya. Ia tak ingin membuat para karyawan kecewa. Karena Dini tahu, mereka bekerja untuk mencari nafkah. Kalau dia bayarnya telat, kasihan mereka. Dini takut mereka merasa tidak dihargai.


Lima belas menit berkendara, Dini pun akhirnya sampai di rumah. Namun keadaan rumah masih sepi. Robin ternyata belum pulang.


Sengaja Dini tidak menghubungi pria itu. Karena ia ingin merealisasikan niatnya terlebih dahulu. Yaitu mencari beberapa perhiasan yang ia miliki.

__ADS_1


Dini segera berlari ke kamar. Lalu mencari kunci lemari tempat ia menyimpan barang-barang tersebut.


Di satu titik, Dini masih merasa lega. Karena barang peninggalan orang tuanya itu masih lengkap. Masih utuh. Belum tersentuh. Dini segera merapikan barang itu dan menyimpannya di tempat lain. Di tempat yang tidak akan ada orang yang tau. Selain dirinya. Yaitu di kamar mendiang kedua orang tuanya.


Selesai menyimpan barang paling berharga itu, Dini pun kembali ke kamar. Melanjutkan aksinya mencari perhiasannya yang lain.


Sayangnya, Dini harus kecewa. Perhiasan-perhiasan itu lenyap tanpa bekas. Bahkan kotaknnya pun tak ada.


Dini shock, sampai menangis pun tak bisa. Dadanya terasa sesak. Kejadian hari ini seperti mimpi buruk baginya.


Bagaimana tidak? Di dalam rumah ada rampok. Tetapi bodohnya ia baru menyadarinya sekarang.


Tak bisa menyimpan masalah ini sendiri, Dini pun meminta Lita datang ke rumah. Karena hanya dengan Lita lah ia bisa mendiskusikan masalah ini.


Beruntung Lita sedang tidak repot. Dengan senang hati sahabatnya itu pun langsung datang ke rumah.


"Kamu udah nanya ini ke suamimu?" tanya Lita, lembut. Padahal dalam hati sebenarnya ia curiga dengan pria itu.


"Aku nggak berani, Ta. Aku takut dia merasa dituduh."


"Nggak, caranya nggak gitu. Tanya baik-baik aja. Atau kalo nggak, kamu pura-pura minta bantuan dia aja. Atau kalo nggak, kamu pasang CCTV aja di kamar kamu, Din. Gimana?" ucap Lita, memberi ide.


"Nanti aku coba tanya deh, Ta. Tapi nggak bisa kalo pasang CCTV, kamu tau kan tabunganku menipis. Jangankan buat itu, buat bayar karyawan aja aku ngutang sama kamu," jawab Dini memelas.


"Sabat ya, Din. Semua pasti ada jalan. Ya udah ini sudah sangat malam. Sebaiknya kamu istirahat. Soal hutang pribadimu ke aku nggak usah terlalu dipikirin. Aku santai kok. Semoga kamu cuma lupa naroh and perhiasan mu itu masih ada, masih rezeki, oke." Lita tersenyum, mencoba menguatkan sahabatnya. Namun, tak dipungut bahwa saat ini ia sangat curiga dengan Robin. Karena hanya dialah satu-satunya tersangka yang memungkinkan.


"Makasih ya, Ta. Kamu udah mau dateng dengerin curhatan aku. Semoga saja aku memang lupa naroh. Aku pusing, Ta.. sungguh." Dini memijat pelipisnya yang mulai terasa berat. Otaknya serasa amat sangat lelah. Sungguh...

__ADS_1


Lita memberikan pelukan pada sahabatnya, berharap setelah kepergiannya nanti Robin segera datang. Dan Dini bisa menanyakan masalah ini pada pria itu. Agar sahabatnya itu segera mendapatkan jawaban atas kejadian yang membingungkan sekaligus menyakitkan ini.


Bersambung...


__ADS_2