Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Hampir Saja


__ADS_3

Evan duduk di kursi kemudi dengan tenang. Sedangkan Dini ada di sampingnya. Menunggu Evan menanyakan alamat rumahnya.


Sayangnya, apa yang Dini tunggu tak kunjung datang.


Evan tetap berkendara tanpa banyak bicara. Tapi, yang membuat Dini merasa aneh adalah tanpa bertanya Evan sudah hafal dengan jalanan menuju rumahanya. Seolah pria ini sering datang ke tempat ini.


Dini sendiri sengaja tidak menegur, jujur ia ingin tahu, seberapa pahamkah Evan tentang dirinya.


Sesampainya di depan kontrakan Dini.


Evan memarkirkan mobilnya tepat di depan kontrakan Dini. Namun, ia merasa aneh, kenapa Dini tak kuncung turun. Malah menatap dirinya.


"Ngapain kamu ngliatin aku begitu? Udah turun, kemarin Barang-barangmu sana," ucap Evan sembari mencari ponselnya.


"Nggak, aku ngrasa aneh aja," jawab Dini.

__ADS_1


Sungguh pernyataan yang sukses membuat Evan ikutan merasa aneh.


"Aneh kenapa? Apa yang aneh?" tanya Evan.


"Dari mana kamu tahu kalo ini kontrakanku?" tanya Dini dengan tatapan mengintimidasi.


"Ya dari mama lah, siapa lagi?" jawab Evan, berbohong.


"Mama siapa? Ibu Zaenab?" balas Dini.


"Tapi aku belum pernah kasih alamat tempat tinggalku sama beliau. Bahkan temen-temen kerjaku pun banyak yang nggak tahu di mana aku tinggal. Lalu lihatlah sekarang, orang yang baru aku kenal, nyatanya malah langsung tahu di mana aku tinggal. Bukankah ini mencurigakan?" pancing Dini.


"Sebaiknya kamu nggak usah suudzon sama aku. Sebaiknya kamu masuk dan kemasi Barang-barangmu. Ingat jangan da yang ketinggalan. Aku nggak mau nganter jemput lagi. Oaham," ucap Evan, Pura-pura kesal. Berharap Dini bisa melupakan apa yang sedang ia curigai saat ini.


"Anda jangan mengalihkan perhatian. Jujur aku curiga sama kamu. Katakan padaku, siapa kamu? Kenapa kamu selalu bersikap aneh denganku?" cecar Dini, marah.

__ADS_1


"Aneh apa sih? Memangnya aku klakuin apa ke kamu. Kok kamu sampai panik begitu hemm?" tanya Evan tak mau kalah.


"Gimana aku nggak panik? Tiba-tiba saja, tanpa ada angin, tanpa ada hujan. Kamu berbelanja banyak. Lalu memberikan belanjaan itu padaku. Bahkan uang kembaliannya juga kamu kasih kea aku. Dan sekarang lihatlah, kamu tau rumahku tanpa aku memberitahu alamatnya terlebih dahulu. Bukan kah ini patut kita curigai?" tanya Dini, tegas.


"Astaga! Soal itu, kalo soal itu nggak cuma kamu kali yang dapat . Aku sering iseng begitu memang. Kamu nggak usah se baper itu. Udah masuk, jangan bepikir yang macam-macam. Sekarang masuk dan kemasi apa yang ada sekarang. Aku nggak mau anter kamu balek besok kalo alasannya barang ada yang tertinggal. Paham?" ucap Evan.


Dini memantulkan bibirnya. Rasanya aneh saja kegabutan orang kaya. Memberikan apa yang ia mau untuk membantu sesama. Sedangakan dirinya, ia harus menuruti keinginan pria itu biar yak baper.


"Sudah, cepat. Kasihan Mera nungguin kamu," ucap Evan.


"Tapi sebelum itu, bolehkan saya mandi sebentar. Soalnya lengket. Takutnya Nanti Adek Mera langsung minta sana aku. Sedangkan aku masih kotor dan lengket ini," ucap Dini meminta izin.


Evan mengangguk, memberi izin pada wanita itu. Tentu saja agar Dini tidak melanjutkan obrolan mereka. Tidak bertanya aneh-anahe.


Evan ingin, Dini tidak mencurigainya seperti yang terjadi saat ini.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2