
Dini masih menjaga sikap ketika mereka masih berada di kantor polisi. Bahkan ketika mereka berada di mobil. Tetapi tidak ketika mereka sampai di dalam kamar.
Kini Dini terlihat menatap tajam ke arah Evan. Seperti tak sabar ingin menghakimi pria itu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? apa ada yang salah?" tanya Evan ketika dia melepas kancing-kancing kemejanya di depan Dini.
"Aku rasa saya tidak perlu jelaskan panjang lebar tentang kesalahan anda. Bukankah dari awal anda sudah tahu apa kesalahan anda," jawab Dini tegas.
"Kesalahan? Kesalahan apa? Kalo soal pernikahan kita, ya aku salah. Karena tanpa sengaja aku sudah tidur di ranjangmu. Bahkan sekarang aku juga udah tanggung jawab. Lalu salahku di mana lagi?" tanya Evan.
Dini mencebikkan bibir meremehkan. Karena ia merasa, saat ia sudah cukup punya bukti untuk membongkar kebohongan Evan selama ini terhadapnya.
"Apa benar anda adalah bosnya Bian?" tanya Dini.
"Ya... kenapa?"
Dini tertawa lirih. Tertawa meremehkan.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang salah dengan itu?" tanya Evan.
"Sayangnya ada terlalu lalai untuk menyembunyikan kebohongan yang seharusnya masih anda simpan rapi Mas. Apakah anda lupa, siapa yang menghubungkan kita selama ini?" pancing Dini.
"Yang menghubungkan kita?! Bian.... " Evan menatap penuh tanya pasa Dini.
__ADS_1
"Tepat sekali! Jadi sekarang anda paham, apa yang saya maksud?" tanya Dini.
"Astaga!" pekik Evan tersadar.
"Haaa.... sadar dengan kebohongan anda sekarang?" tanya Dini.
"Sorry... aku nggak bermaksud menipumu, Din. Aku serius dengan pernikahan kita," ucap Evan berusaha meraih tangan Dini dan meminta wanitanya itu mengerti akan dirinya.
"Jangan coba-coba menyentuhku. Pernikahan ini hanya tipuan. Anda tidak berhak menyentuhku. Saya rasa, apa yang terjadi pada kita pasti juga karena ulah licik anda bukan? Katakan... apa motif anda melakukan hal ini pada saya?" tanya Dini kesal.
"Maafkan aku, Din. Sungguh aku nggak punya maksut jahat sama kamu. Justru aku ingin melindungimu. Menjagamu. Aku jatuh cinta padamu, Din. Aku serius!" ucap Evan, sembari bersimpuh di depan istrinya.
"Saya sudah pernah tertipu. Bahkan saya kehilangan segalanya karena sebuah pernikahan. Itu sebabnya saya berjanji pada diri sayasendiri untuk tidak menikah. Tapi kejadian bodoh ini malah membawa saya terjerumus ke dalam sesuatu yang paling saya benci. Dan itu semua gara-gara anda. Lalu atas dasar apa saya harus percaya pada anda. Katakan?" jawab Dini marah.
"Kalau kau mencintaiku, harunya kamu jangan paksa aku menikah. Mencintai kan tidak harus menikah. Alasan!" jawab Dini kesal.
"Lalu gimana caranya mengapresiasi kan rasa cintaku kalo tidak dengan menikah Dini?" tanya Evan kesal.
"Ya anda bisa terus jadi pengagum rahasia, mungkin!" jawab Dini, santai.
"Ahhh... ya nggak bisa. Namanya mencintai itu harus memiliki. Apapun caranya!" balas Evan.
"Nggak, pokoknya saya nggak mau anda pegang-pegang. Anda sentuh-sentuh sebelum saya yakin kalo anda serius. Paham. Awas maksa!" ancam Dini.
__ADS_1
"Astaga! Lalu apa gunanya kita menikah Din, kalo peluk cium melaksanakan kewajiban sebagai suami istri nggak boleh? Kau tak kasihan aku udah puasa selama 29 tahun!" jawab Evan jujur.
"Bodo amat, siapa suruh situ tipu saya. Setidaknya anda kasih saya kesempatan dong untuk meyakinkan diri, kalo anda memang serius ama saya. Saya sudah pernah tertipu, jadi saya tidak ingin tertipu untuk kedua kali. Harap anda mengerti itu!" pinta Dini.
"Oke! aku bakalan kasih kamu waktu buat mencari kebenaran tentangku. Tapi kira-kira berapa lama?"
"Ya nggak tahu, seyakin nya aku!"
"Aduh, kalo kayak gitu kamu sengaja menyiksaku, Din! Kamu nggak kasihan sama aku, Din?" tanya Evan.
"Itu hukuman untuk penipu. Dah ah, aku malas. Aku mau balik ke kamar Mera. Dia pasti mencariku. Kasihan dia," ucap Dini seraya beranjak dari sofa.
"Nanti aku nyusul ya!" bujuk Evan.
"Nyusul ke mana?"
"Ke kamar Mera! Kan kita udah boleh tidur seranjang. Peluk-pelukan. Kan udah halal, Din!" jawab Evan, sok lugu.
"Astaga! Apakah anda tahu kalo wajah anda saat ini sangat menyebalkan?"
"Kok gitu? Bukankah aku tampan?" canda Evan.
"Sebaiknya anda renungi kesalahan anda. Jangan coba merayu saya kalo anda belum menyadari kesalahan yang anda lakukan. Paham!" jawab Dini. Tak ingin berdebat lagi, Dini pun memutuskan untuk pergi ke kamar Almera. Karena ia yakin, di sana jauh lebih aman di banding kamar ini.
__ADS_1
Bersambung...