Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Penghalang


__ADS_3

Dini menangis terus di dalam kamarnya. Apa lagi ketika Ibu Zaenab mengirimkan gaun berwarna putih bersih lengkap dengan hijab serta seikat bunga untuknya.


Jujur, ini adalah pengalaman terburuk dalam hidupnya setelah perceraiannya dengan Robin.


Dini pikir, setelah terlepas dari pria itu, dia bisa bersantai dan menikmati hidupnya. Tidak mau memikirkan laki-laki apa lagi pernikahan. Sungguh, Dini sangat tidak menginginkan ini.


"Sudah, Mbak Dini. Jangan nangis terus. Toh Tuan Muda sudah mau tanggung jawab. Kalo misalnya Mbak Dini hamil, kan udah ada bapaknya," bujuk Warti.


"Tapi aku nggak merasa nglakuin seperti yang kalian tuduhan Bi War. Bagaimana aku bisa senang? Aku tak ingin menikah. Aku nggak suka menikah," jawab Dini, masih dengan isak tangisnya yang tak mampu ia bendung.


"Sabar, Sayang. Jangan bilang begitu. Siapa tau ini adalah jodoh yang memang Tuhan kirim untukmu. Selama ini kamu sangat menderita. Siapa tau, Tuan Muda dan Almera adalah sumber kebahagiaan mu nanti. Kita nggak akan tau itu. Jadi berserah lah. Berharaplah bahwa ini adalah jalan yang Tuhan kasih untukmu. Jalan menuju kebahagiaan, oke!" ucap Bi Warti sembari membantu Dini merapikan gaunnya.


"Haruskah aku begitu, Bi?" tanya Dini ragu.


"Ya, Bibi rasa, kamu harus mengambil sisi positif dari setiap kejadian yang menimpamu. Percayalah, Tuan Muda itu sangat baik. Hanya sedikit jahil. Tapi dia romantis kok." Bi Warti tersenyum senang.


"Tapi aku takut sama dia, Bi!" ucap Dini jujur.


"Tidak, Sayang. Jangan takut. Tuan Muda sangat baik kok. Intinya, kita sebagai perempuan harus nurut. Yang penting tidak di pukul, tidak di sakiti secara mental dan fisik. Maka semuanya aman aman, Sayang. Lagian Ibu Nyonya juga sayang sama kamu. Bibi rasa, Ibu Nyonya juga senang kalo kamu jadi mantunya," ucap Bi Warti semangat.

__ADS_1


"Benarkah, Bi?"


"Ya, percayalah pada Bibi. Sekarang hapus air matamu. Kita harus segera berangkat ke KUA. Nanti keburu tutup kantornya. Oiya, gimana temenmu, dia bisa datang nggak?" tanya Bi Warti.


"Bisa, Bi.. dia sama abangnya datang sebagai saksi. Mereka sebenarnya bukan cuma temen, tapi juga masih sodara sama Dini."


"Ya sudah kalo gitu. Nanti saksi dari pihak kamu ada Bibi sama Mukidi. Jadi sudah boleh. Ayu, gek dihapus air matanya. Terus make up nya di tambah tipis-tipis, biar kelihatan ayu. Nanti pas suami lihat kan senang," rayu Bi Warti. Padahal, jika boleh jujur, Dini sangat tidak peduli dengan itu.


***


Di kamar Evan...


Evan terlihat begitu tampan. Membuat sang ibunda senang melihatnya.


"Duhhh... tampannya putra Pak Victor ni... mama jadi pengen muda lagi," canda Bu Zaenab.


"Mama nggak lucu ah triknya. Kasihan Dini tau!" balas Evan.


"Makanya jangan coba-coba menekan mama. Siapa suruh cuma kasih waktu dua hari. Ya suka-suka mama lah. Setidaknya kan berhasil," jawab Bu Zaenab santai.

__ADS_1


"Iya, tapi nggak gitu juga kali, Ma. Kasihan Dini. Mama nggak lihat tadi dia nangis tersedu-sedu begitu. Hati Evan ikutan sakit, Ma," jawab Evan jujur.


"Jika kamu tak rela orang lain menyakiti kekasihmu, maka jagalah mulai hari ini. Kamu adalah laki-laki Evan, jangan pernah kau sakiti hati istrimu. Bagaimana pun masa lalu Dini, jangan pernah kau ungkit? Bagaimanapun kekurangan Dini, jangan pernah kau ceritakan pada orang lain? Simpan baik-baik keburukannya. Sayangi dan hormati dia, maka rezekimu pasti akan mengalir tanpa henti. Karena rezeki suami adalah hasil dari doa istri. Paham!" ucap Ibu Zaenab.


Inilah yang Evan sukai dari wanita paruh baya yang melahirkannya ini. Selalu bisa memberinya nasehat, kapanpun ia butuhkan.


"Evan deg deg an, Ma," ucap Evan sembari memeluk ibunya.


"Ini reaksi wajar, Sayang. Apa lagi yang hendak kamu nikahi adalah kekasih hatimu. Mama doakan semoga ini adalah pernikahan terakhir mu. Kalian bisa langgeng sampai maut memisahkan," ucap Ibu Zaenab.


"Makasih atas doa restunya, Ma. Evan harap, Dini bisa bahagia. Seperti kebahagiaan yang Evan rasakan saat ini," ucap Evan penuh harap.


Sayangnya, di kubu Evan terdapat penghianat. Pengkhianat tersebut menyampaikan pada kakak kandung Evan tentang berita pernikahan Evan.


Tentu saja, pria yang selalu memiliki dengaki pada adik kandungnya sendiri itu pun berniat menggagalkan pernikahan Evan.


Tak tanggung-tanggung, Damian menyewa penembak jitu untuk membunuh calon istri Evan. Karena sampai kapanpun Damian tidak akan pernah rela sang adik bahagia. Apa lagi sampai menikah.


Biarpun Bumi terbelah dan Langit runtuh, Damian telah bersumpah... selama seluruh harta keluarganya tidak di serahkan kepadanya, maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan kebahagiaan adiknya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2