Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Mempertanyakan Hak


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak Dini tahu barang berharganya banyak yang hilang. Dini jadi malas menghubungi Robin.


Ia sengaja membiarkan pria tersebut berbuat semaunya. Bukan apa, Dini hanya ingin tahu kesungguhan Robin menjalin hubungan pernikahan ini dengannya.


Kini Dini lebih banyak melamun. Bagaimana tidak? uang modal usaha semakin menipis. Usahanya hampir bangkrut, terpaksa Dini mengistirahatkan sementara beberapa karyawan.


Keadaan ini pun akhirnya memancing Lita, untuk datang menghibur sahabatnya itu.


"Aku turut prihatin dengan masalahmu, Din! Tapi aku cuma bisa do'ain, semoga masalah ini segera berakhir," ucap Lita.


"Makasih, Ta. Kami mau dengerin curahan hatiku saja, itu sudah lebih dari cukup. Aku udah seneng banget, Ta. Serius!" jawab


"Bagaimana? Apa sudah ada kabar dari suamimu? Apa dia sudah pulang?" tanya Lita pada sahabatnya ini.


"Tidak, Ta. Dia seolah tak peduli padaku. Kalo bukan aku duluan yang kirim pesan, dia nggak kirim. Aku telpon dia nggak angkat. Terkesan seperti menghindar," jawab Dini jujur.


"Apa dia sudah feeling kalo kamu udah tahu tentang barang-barang mu yang hilang. Hingga dia ketakutan, dan takut pulang?" tebak Lita.


"Entahlah, Ta! Yang jelas aku sekarang merasa dia berubah. Dia seperti bukan Robin yang dulu. Berbeda dengan Robin yang aku kenal. Dia banyak berubah!"


"Sabar ya, Din. Semoga Tuhan kasih jalan buat semua masalah kamu. Aku berharap semua akan segera selesai. Tapi seandainya memang dia pelakunya, kamu gimana?" tanya Lita.


"Entahlah, Ta... aku bingung." Dini mengusap air wajahnya, sedikit melemah. Karena jujur, kebenaran itu pasti akan sangat menyakitkan baginya.

__ADS_1


"Tapi, aku minta maaf ya, Din. Kalo aku pribadi sih curiga. Curiga kalo dia pelakunya. Tapi pertanyaannya, uang itu digunakan untuk apa? Kan kamu bilang dia nggak pernah kasih kamu uang. Dari pertama kalian nikah kan?" tanya Lita penasaran.


"Iya, Ta... aku sendiri juga bingung. Kenapa dia bisa seaneh itu? Cuma yang bikin aku curiga lagi, dia suka sekali keluar tengah malam. Saat aku tidur. Katanya sih ngojek, tapi nggak tahu juga sih!"


"Ya udah, gini aja, Din. Nanti kalo dia pulang, coba bicarakan masalah ini sama dia. Jangan dibiarkan berlarut. Aku takut, nanti kalo berlarut bisa-bisa malah semakin runyam. Dianya jadi nggak nyadar, kalo dia itu perbuatan keji. Nipu istri sendiri," ucap Lita.


Dini terdiam, sebenarnya ia tak ingin membahas ini dengan siapapun. Namun Robin keterlaluan. Dini begitu percaya, tapin lihatlah sekarang. Pria itu menyepelekannya. Sudah lama tak pulang, tak memberi kabar, bahkan terkesan menghindar.


***


Siang telah mengganti malam. Namun Robin masih belum memberinya kabar.


Dini duduk termenung di balkon kamarnya. Termenung seorang diri. Sama seperti ketika ia belum memiliki suami.


Terlihat Robin berjalan ke arahnya. Tapi sayang, tak ada senyum mesra seperti biasa. Pria itu malah menatapnya dengan tatapan marah.


"Bisa kita bicara?" tanya Robin, langsung menyerang Dini.


"Ya, silakan. Tapi ngomong-ngomong, ke mana abang pergi selama beberapa hari ini?" balas Dini, dingin, sama seperti sikap Robin kepadanya.


"Aku cari uang lah... buat kamu, buat bayar utang kita!" jawab Robin, dengan nada meninggi. Membuat Dini terkejut takut.


"Memangnya kamu? Kerja bukannya berkembang malah bangkrut. Aneh! Kerjamu ngapain selama ini haaa?" serang Robin lagi.

__ADS_1


Spontan, Dini pun merasa tertampar. Harga dirinya merasa terinjak. Dini yakin, saat ini Robin sedang mencari alasan agar Dini tertipu. Takut dan tak jadi mencecarnya, atas kesalahan yang nyata-nyata ia lakukan.


Sayangnya, Robin salah. Justru Dini sadar, bahwa saat ini dirinya sedang playing victim.


"Abang tanya apa kerjaku selama ini ha? Lalu apa kerja abang selama ini? Ke mana uang yang abang dapat yang katanya sibuk kerja kerja itu, ha?" balas Dini, tak mau kalah.


Robin membelalakkan mata. Tak menyangka bahwa Dini, wanita yang ia sangka akan diam saja, ternyata berani melawan. Robin terlihat gugup.


"Kenapa sekarang kamu bermain melawan ku ha? Sudah hebat kamu rupanya?" tantang Robin.


"Maaf, Bang. Bukan Dini berniat melawan abang, tapi abang yang mulai duluan. Abang tahu usaha Dini sedang terjun bebas. Harusnya sebagai suami, Abang tu tetap dukung Dini. Bantu Dini cari solusi. Bukan datang-datang malah marah dan menuduh Dini seperti itu? Coba posisikan diri abang di tempat Dini, selama kita menikah, apa pernah Abang nafkai Dini secara lahir, enggak kan? Selama ini Dini juga nggak pernah nuntut abang? Jadi sebenarnya yang salah di sini siapa? Dini atau abang?" tanya Dini, mulai berani mempertanyakan haknya yang tak pernah dipenuhi oleh Robin.


"Alah... itu alasanmu saja. Ngapain aku kasih kamu uang. Kamu kan punya lebih banyak di banding aku. Aneh!" balas Robin.


"Tapi abang kan imam, harusnya abang yang kasih ke Dini. Itu kan hal Dini. Coba sekarang Dini tanya, abang ke manakan uang abang selama ini? Apa abang punya wanita lain?" tanya Dini.


"Wanita lain? Gila kamu! jangan nuduh ya!" serang Robin.


"Aku hanya bertanya, Bang! Kalo tidak pun bagus. Tapi jangan begini, sikap abang membingungkan!" ucap Dini.


Tak ingin perdebatan ini semakin panas, Dini pun memilih meninggalkan Robin dan masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan Robin, ia terlihat gugup. Karena ia yakin, Dini pasti sudah curiga tentang kelicikan nya selama ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2