
"Kenapa dia tak mau denganku? Malah memelukmu erat begitu?" tanya Ibu Zaenab heran.
Dini mengelus Almera, sambil membalas pelukan itu dengan penuh cinta.
"Mungkin dia merasa nyaman dengan teman saya, Nya. Biarlah masih mereka waktu. Mungkin mereka saling rindu," ucap Salsa, mencoba mengerti kerinduan Dini pada anak yang pernah diasuhnya itu.
"Baiklah kalo begitu. Kalo nggak ganggu kerjaan kamu. Aku tunggu di depan ya," jawab Zaenab, berusaha mengerti.
"Baik, Nya. Sebantar saya bantu bujuk dia." Dini tersenyum.
"Iya, terima kasih," ucap Zaenab seraya keluar dari minimarket itu. Dini mengangguk menyetujui.
"Sa, aku izin di depan sebentar ya. Nitip ini. Sebentar lagi Lida datang. Biar dia yang jaga kasir untuk sementara. Oke!" jawab Dini.
"Siap, Kak."
"Makasih ya, Sa."
"Sama-sama ,Kak. Dia memelukmu erat sekali. Sepertinya ia sangat merindukanmu," ucap Salsa.
"Entahlah, tapi pegangannya erat sekali, lihatlah," jawab Dini sembari menunjukkan lingkaran tangan Almera di lehernya.
"Iya, Kak... sudah keluarlah, ibu nyonya sudah menunggu tu di depan. Kasihan beliau, sepertinya sedang kebingungan," ucap Salsa sembari memerhatikan ibu Zaenab yang terlihat gelisah.
"Iya, sepertinya dia sedang ada masalah. Coba aku deketin. Siapa tau kita bisa bantu. Ya kan?"
"Bener, Kak."
Dini tersenyum, lalu melangkah keluar mini market, mendekati ibu Zaenab tang terlihat gelisah.
__ADS_1
"Duduk dulu, Nya. Nyonya kenapa? Nyonya ada masalah?" tanya Dini.
"Iya, sebentarnya ibu ada masalah, Din. Putra ibu pindah dari rumah nggak bilang-bilang. Katanya dia pindah ke apartemen ini. Ya Tuhan, punya anak dua saja kok rasanya punya anak sepuluh. Susah banget di suruh akur," jawab Ibu Zaenab jujur.
"Emmm... sabar, Nya. Semoga mereka segera akur," jawab Dini.
"Di tambah lagi pengasuh Almera nggak ada yang betah. Ibu pusing, sebenarnya ibu ini kurang apa?" eluh Zaenab.
"Bagi saya, Nyonya baik kok. Saya kan pernah kerja sama Nyonya. Adek juga anteng waktu sama saya. Sekarang ini lihatlah, nempel kek gini. Eh, dia tidur, Nya," ucap Dini sembari menunjukkan wajah Almera yang menempel di dadanya.
"Aduh, maafkan saya, jadi ngrepotin," ucap Ibu Zaenab.
"Nggak lah, Nya. Di lantai berapa putra Nyonya tinggal, biar adek saya antar ke sana," tawar Dini.
"Nggak pa-pa kah? Nggak ngrepotin?" tanya Ibu Zaenab.
"Tidak, Nya. Tenang saja. Tadi saya juga udah izin sama temen saya. Katanya nggak apa-apa," jawab Dini.
Dalam perjalanan menuju unit itu...
"Nyonya sudah lama tinggal di sini?" tanya Dini.
"Nggak, aku masih tinggal di rumah lama. Aku ke sini mau suruh putraku pulang. Aku sengaja bawa anaknya biar dia mau pulang. Ehhh... baru ditinggal ke toilet si kecil malah kabur," ucap Ibu Zaenab.
Dini tersenyum. Ia mengerti kenapa sekarang Almera lepas dari pengawasan Ibu Zaenab. Ternyata ditinggal ke toilet.
"Ternyata jaga anak sekarang lebih susah dari jaga anak jaman dulu. Kalo jaman dulu dibilangin tunggu ya tunggu. Kalo anak sekarang, dibilangin tunggu malah klayapan. Pusing aku," ucap Ibu Zaenab lagi, kesal.
"Kalo anak segini mana bisa dibiarin sendiri, Nya. Harusnya memang ada yang jaga, yang ngawasi. Emang babysitter nya ke mana, Nyah?" tanya Dini.
__ADS_1
"Babysitter nya izin pulang. Tapi nggak datang-datang. Entahlah... " jawab Ibu Zaenab. Kesal.
"Semoga dia segera balik, Nyah. Kasihan. Anak segini sangat butuh perhatian. Oiya, Nyah. Tadi unitnya di lantai berapa? nomer berapa?" tanya Dini.
"Di lantai 20 nomer 543. Ni coba kamu lihat, bener nggak?" ucap Ibu Zaenab sembari menyodorkan secarik kertas pada Dini. Kemudian Dini pun membacanya dan segera memecat tombol angka yang tersedia di dalam lift tersebut.
"Makasih banyak ya, kamu udah bantu Ibu gendong dia. Berat nggak?"
"Sama-sama, Nya. Selama saya bisa bantu, pasti saya bantu. Dia memang gembul, tapi nggak pa-pa. Saya menyukainya," ucap Dini.
"Iya, kasihan sekali dia. Dia tak tahu apa-apa tapi banyak yang membencinya, termasuk ayah kandung dan ayah sambungnya," ucap Zaenab.
Dini terdiam. Sungguh, ia tak menyangka bahwa Dini akan mendengar ucapan menyedihkan itu perihal bocah cantik yang kini ada di gendongannya.
"Maafkan aku. Aku jadi curhat sama kamu," ucap Zaenab sembari menghapus air mata yang tak sengaja menetes.
"Tak apa, Nya. Saya siap jadi pendengar anda," ucap Dini.
"Makasih banyak ya. Jangan panggil aku nyonya, panggil saja ibu," pinta Zaenab.
Dini tersenyum, lalu menjawab, "Baiklah, Bu. Kalo ibu butuh bantuan saya, silakan cari saya di bawah. Insya Allah kalo saya ada, saya pasti bantu."
"Terima kasih banyak, Din. Kamu baik sekali. Kalo misalnya aku minta tolong buat kamu jagain Almera lagi, kamu mau nggak?" tanya Ibu Zaenab.
"Em, bukan saya nggak mau, Bu. Cuma saya nggak enak sama bos saya."
"Iya, aku mengerti. Tapi kalo misalnya aku yang ngomong sama bosmu, yang minta izin, kamu mau nggak?"
"Gimana ya, Bu? Kok saya jadi gimana gitu? Coba deh nanti saya ngomong sama bos saya. Kalo misalnya boleh, saya pasti mau. Saya pun senang sama anak-anak. Apa lagi secantik dan semenggemaskan ini," ucap Dini sembari menatap wajah mungil Almera.
__ADS_1
Kini mereka sudah berada di depan apartemen milik putra Ibu Zaenab. Dengan santai Dini dan Ibu Zaenab pun mengetuk pintu itu. Menunggu dengan sabar sang pemilik membukakan pintu untuk mereka.
Bersambung...