
"Brengsek! Dia menipu kita Tuan. Dia mempermainkan kita. Dia sengaja membuat kita kalang kabut. Sial!" umpat Bian kesal.
"Tidak! Kau salah. Dia pasti dengar pembicaraan ku dengan Dini. Itu sebabnya dia kabur. Aku yakin dia pasti ingin kita pergi agar dia leluasa menyakiti istriku," jawab Evan yakin.
Evan sangat tahu bagaimana liciknya seorang Damian.
"Sebaiknya kita jangan bicara di depan banyak orang. Aku yakin, di antara kita ada mata-mata," ucap Evan lirih.
Dan benar saja, selepas Evan berkata demikian, mereka mendengar suara mobil. Evan sangat hafal bahwa itu adalah mobil abang kandungnya.
"Tu kan? aku tidak mungkin salah membaca apa yang dia rencanakan. Ya Tuhan, untung tadi aku nggak ninggalin Dini sendiri di kamar. Kalo nggak, entah apa yang bakalan terjadi pada istriku," jawab Evan.
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya Bian.
"Sterilkan rumah. Jangan sampai ada benda yang mencurigakan. Kita sama-sama tau, jika Damian sangat hafal dengan seluk beluk rumah ini. Aku takut dia akan menyusup lagi," jawab Evan.
Bian yang paham, langsung bertindak tanpa banyak tanya. Ia yakin, bos besarnya ini pasti punya banyak cara untuk melindungi istrinya.
***
Ibu Zaenab meremas jari jemarinya. Wanita paruh baya ini khawatir. Sebab ia belum diizinkan untuk melihat situasi yang terjadi di kamar Evan. Ia takut, jika Dini kenapa-napa.
"Sabar, Nya. Semoga tidak ada baku tembak!" ucap Warti ikutan tegang.
"Ya, semoga saja. Aku heran dengan Damian. Kenapa dia bisa berbuat jahat seperti ini? Evan itu adeknya. Papanya juga membagi harta kami sama. Tidak ada beda. Tapi mengapa anak itu serakah sekali. Aku pusing di buatnya," ucap Ibu Zaenab khawatir.
"Saya mengerti, Nya. Tapi saya rasa, Tuan Muda Evan bisa kok mengatasi ini. Lihatlah, beliau punya banyak pasukan untuk menjaga kita," jawab Warti.
"Ya, aku tahu. Tapi sampai kapan perang saudara ini berlanjut, War. Kau tahu, aku merasa gagal menjadi ibu." Tangis ibu Zaenab pecah. Rasanya sesak yang ia rasakan di dada tak mampu ia bendung lagi. Zaenab tak habis pikir dengan jalan pikiran putra sulungnya itu.
__ADS_1
"Sebaiknya Nyonya jangan tunjukkan kesedihan Nyonya di depan tuan muda Evan. Takutnya dia sedih melihat ibunya menderita begini." Warti berusaha menenangkan majikannya ini.
"Aku tau, Evan pasti sedih. Meskipun dia jahil dan terus mengancam mau meninggalkanku, tapi dia tidak pernah sungguh-sungguh melakukannya. Anak itu sangat manis, War. Aku tidak rela jika abangnya terus menyakitinya," ucap Ibu Zaenab.
"Iya, Nya. Saya paham. Semoga Tuan Muda Damian segera sadar dan bisa mengerti, bahwa hidup tidak selalu tentang harta. Tapi saudara itu lebih penting dari segalanya.
" Aamiin.. War. Semoga putraku yang itu segera sadar."
Perbincangan antara Ibu Zaenab dan asisten rumah tangganya itu tak sengaja di dengar oleh Evan.
Hati Evan terasa tercabik.
Bagaimana tidak?
Ibunya sudah tua, tapi ia belum bisa memberi wanita itu bahagia.
Andai Evan bisa menyeret Damian ke bawah kaki ibunya, ingin rasanya ia melakukan itu. Agar pria bajingan itu sadar. Bahwa ia telah menyakiti wanita yang telah melahirkannya.
Tak tahan melihat ibunya menangis, Evan pun langsung berlari dan memeluk wanita itu.
"Sabar, Ma... percayalah... ini adalah kebodohan terakhir abang. Evan janji, Evan bakalan bawa dia kehadapan mama dan meminta maaf atas semua yang telah ia lakukan pada kita. Evan janji, Evan tidak akan diam kali ini," ucap Evan.
"Mama tidak ingin ada pertikaian darah antara kalian, Evan. Tapi abangmu sungguh keterlaluan. Bahkan Dini yang tak tau apa-apa, hendak ia sakiti. Bagaimana cara mama meminta maaf sama kamu," ucap Ibu Zaenab.
"Tak perlu pikirkan itu, Ma. Semua akan indah pada waktunya. Dini sudah tenang. Ia mengerti tentang keluarga kita. Dia shock sih, tapi aku yakin Dini adalah wanita yang tangguh," ucap Evan.
"Ya, beruntung sekali wanita yang menikah denganmu adalah Dini. Dia tak banyak bicara dan tak protes meskipun nyawanya sedang dalam bahaya. Justru dia malah mengkhawatirkan mu. Sungguh Evan, mama bahagia kamu nggak salah pilih pendampingan," ucap Ibu Zaenab bangga.
"Doakan kami, Ma. Doakan mami bisa melewati setiap rintangan yang ada di dalam rumah tangga kami," pinta Evan.
__ADS_1
"Tentu saja, Sayang. Mana mungkin mama tidak mendoakan anak sebaik kamu. Kamu merelakan diri untuk menjadi penebus kesalahan abangmu. Lalu sekarang kamu rela di sakiti untuk kesekian kali, demi menjaga martabat mu sebagai laki-laki dan suami. Bagaimana mungkin mama bisa membiarkanmu selalu terzolimi. Mama nggak iklhas kalo kami selalu di sakiti, Van!" ucap Ibu Zaenab.
Kini, Evan paham bagaimana perasaan mamanya ini untuknya selama ini.
Awalnya Evan memang marah dengan sikap pilih kasih ibunya. Namun ternyata, apa yang dipikirkan Ibu Zaenab jauh dari itu.
Ibu Zaenab memaksanya menikahi ibunya Almera karena tak ingin wanita itu dibunuh oleh Damian. Dan sekarang, wanita ini tak rela jika dirinya di sakiti lagi oleh Damian.
Lalu, kasih sayang mana yang Evan ragukan?
***
Di sisi lain...
Damian marah besar karena anak buahnya tak berhasil membunuh adik iparnya.
Padahal, ia sudah membayar mahal pembunuh bayaran tersebut.
Damian tak mau kalah...
Sekali lagi, ia pun membuat rencana untuk meruntuhkan bisnis adiknya.
"Jika aku tak bisa membunuh fisiknya, maka akan ku serang mentalnya," gumam Damian licik.
Bersambung...
Sambil nunggu Evan n Dini Update, yuk kepoin karya emak yang lainππππ
__ADS_1