Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Rencana Terbaca


__ADS_3

Evan ditemani Bian dan para anak buahnya, akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat Damian berada.


"Sejak kapan kamu tau ini, Bi?" tanya Evan.


"Sepertinya rencana pernikahan anda bocor, Tuan!" jawab Bian.


"Em... sampai kapan dia akan bersikap seperti anak kecil. Tidaklah dia malu dengan umurnya?" ucap Evan, malu.


"Tuan tidak perlu panik, dia tak akan berani menghadapi anda sendiri. Sebaiknya kita memang harus kasih beliau pelajaran!" jawab Bian.


"Ya, kau benar. Tapi kenapa harus Dini? Harusnya aku ia targetkan."


"Istrimu terlalu cantik untukmu, Tuan. Sepertinya dia tak suka."


"Ha?" Evan menatap Dini. Dan benar apa yang dikatakan oleh Bian. Bahwa istrinya ini memang sangat cantik. Bisa saja Damian iri dan ingin memilikinya. Atau dia tidak bermaksud memilikinya tetapi dia juga tak mengizinkan Evan bahagia. Mungkin lebih tepatnya seperti itu.


Melihat sang putra begitu serius membahas ini dengan para anak buahnya, Ibu Zaenab langsung tanggap dan yakin jika peristiwa ini pasti ada hubungannya dengan putra sulungnya.


"Evan... tunggu!" pinta Ibu Zaenab.


"Ya, Ma... ada apa?" tanya Evan. Berusaha menyembunyikan bahwa apa yang terjadi ini adalah ulah kakak kandungnya.


"Mama ikut!" pinta Ibu Zaenab.


"Jangan, Ma... ini sangat berbahaya," jawab Evan, sembari menatap Dini yang terus menatapnya khawatir.


"Sebahaya apa? Mama penasaran sebangsat apa abangmu sampai berani menyerang rumahnya sendiri. Apa dia sudah gila!" ucap Zaenab marah.

__ADS_1


"Ma... jangan dibahas di sini. Nanti Dini takut," ucap Evan.


"Tidak, Dini sekarang adalah bagian dari keluarga kita. Ia harus tau apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa kita memang memiliki satu anggota keluarga yang jahatnya tidak ketulungan. Mama menyesal pernah membelanya. Nyatanya ia memang tak pantas untuk di bela," jawab Ibu Zaenab tegas.


"Terserah, Mama kalo gitu." Evan sedikit melirik Dini. Andai tak tak banyak orang, mungkin saat ini Evan pasti akan memeluk istrinya itu. Agar hatinya tenang.


"Bi... kamu siapkan beberapa orang untuk menjaga mama. Aku anter istriku ke kamar sebentar," ucap Evan.


"Baik, Tuan. Mari Nyonya." Bian mempersilahkan Ibu dari bos besarnya ini untuk masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Evan, langsung menggandeng Dini dan membawanya masuk ke dalam kamar pribadinya.


"Jangan ke mana-mana! Tetap di sini. Tunggu aku pulang. Oke!" ucap Evan.


"Apa Mas perginya lama?" tanya Dini.


"Tidak... hanya beberapa jam saja. Kamu tidak perlu khawatir. Bi Warti akan menjagamu. Jangan takut, hemmm!" ucap Evan lagi.


Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Dini pun meraih tangan Evan dan mencium tangan itu dengan hikmat. Seolah ia ingin menyalurkan doa terbaik untuk perjalanan suaminya.


Sungguh, apa yang dilakukan Dini seperti sebuah amunisi untuk Evan. Kekuatan dan keyakinannya bertambah, bahwa ia bisa melawan kakak kandungnya itu.


Apapun yang terjadi, Evan berjanji akan memberi pelajaran pada pria itu. Evan pastikan itu.


Sebelum berpisah, tak lupa Evan memberikan pelukan pada sang istri. Lalu kecupan penuh cinta di kening wanita itu.


Ingin rasanya Evan mencium bibir Dini. Namun ia takut. Takut Dini belum siap. Takut Dini terkejut dengan aksinya. Terpaksa, Evan pun mengurungkan keinginannya itu. Agar tidak menyakiti perasaan sang istri.

__ADS_1


"Kamu ganti baju di kamar itu, ya. Semua perlengkapan mu sudah di siapkan sama mama. Jangan menolak, kasihan mama udah siapin semua ini buat kamu. Buat kita. Kamu paham kan maksudku?" tanya Evan.


"Apa Lita dan bang Endrik sudah pulang?" tanya Dini.


"Ya, mereka ada kerjaan katanya. Almera ada di kamar mama. Kalo kamu kangen minta bibi bawa dia ke sini. Pokoknya kamu jangan keluar dari kamar ini. Paham!" jawab Evan.


Dini kembali mengangguk. Menyetujui apa yang di pesan oleh suaminya.


"Satu lagi, kamu lihat tombol merah kecil di sisi ranjang itu. Kamu pencet jika sekiranya kamu dalam bahaya. Akan ada bantuan yang datang nanti. Kamar ini kedap suara. Teriakanmu tak akan di dengar oleh siapapun yang ada di rumah ini. Itu sebabnya aku menyiapkan alarm itu. Agar mudah bagi para orang-orang di sini menjagamu. Paham," ucap Evan.


Dini mengangguk lagi. Meski tak paham dengan bahaya yang saat ini sedang mengancamnya. Dini tetap menuruti apa yang suaminya katakan.


Selepas memberi sang istri pesan dan meminta wanita itu jaga diri. Evan memantapkan niatnya untuk pergi.


Namun, ketika ia hendak keluar, tanpa sengaja Evan melihat sepasang kaki bersembunyi di balik lemari besar yang berisi buku-buku pribadinya.


Evan mengurungkan niatnya sejenak. Lalu mengirim pesan pada Bian, agar waspada. Karena seseorang yang ia targetkan saat ini sedang ada di dalam kamarnya.


Evan yakin, sepasang kaki yang ia lihat itu pasti Damian.


Entah apa maksudnya?


Mungkinkah ia menginginkan istriku ? batin Evan.


Evan tersenyum licik.


Mendengar beberapa orang yang ia minta datang sudah berada di depan pintu kamarnya, Evan segera meraih tangan Dini dan membawa sitrinya itu lari.

__ADS_1


Sedangkan Bian dan kawanannya langsung mengepung pemilik sepatu tersebut.


Bersambung...


__ADS_2