
Robin masih berpositif thinking pada kekasih hatinya itu. Ia berpikir, Sella sangat mencintainya. Mana mungkin wanita itu akan menghianatinya. Bukankah itu mustahil.
Tak ingin tenggelam dalam prasangka buruk, Robin pun segera menghubungi kekasihnya itu.
Di seberang sana, terlihat Sella kesal dengan panggilan itu. Namun begitu, ia tetap tidak bisa menolak. Bukankah Robin adalah salah satu sumber uang terbaik yang ia miliki? Sayang jika harus hilang begitu saja. Benarkan?
"Iya, Sayangku. Ada apa? Maaf aku belum sempat ngabarin kamu, Sayang. Hari ini aku sakit," ucap Sella. Berpura-pura dengan memanjakan suaranya.
Mendengar sang kekasih sakit, tentu saja Robin langsung peduli.
"Sakit? Kenapa kamu nggak ngabarin Mas, Sayang! Lalu sekarang gimana? Kamu udah makan? Udah minum obat? Udah ke dokter heemm?" cecar pria itu.
" Maafkan aku, Sayang. Aku nggak mau ngrepotin kamu. Aku juga belum enak makan, Sayang. Nanti deh kalo udah mendingan aku makan. Oke! Sekarang aku pening banget, Sayang. Boleh ya aku tutup telpon. Aku pengen tidur, Honey!" pinta Sella, lagi-lagi pura-pura memelas.
"Oke deh, Sayang. Maaf ya, Mas nggak bisa nemenin kamu. Ntar malam deh, kalo sempet mas dateng ya. Pokoknya kabarin mas terus. kalo kamu butuh apa-apa pakek aja dulu yang yang mas kasih. Buat beli apa, makan, ke dokter atau apa yang penting kamu cepet sehat. Oke!"
"Baiklah, Sayang. Jangan terlalu khawatir Aku hanya sakit kepala karena kelelahan saja kok. Nanti juga baikan. Ya udah, mas istirahat juga ya. Minggu depan jangan lupa kesepakatan kita, oke!"
"Aku nggak mungkin lupa, Honey. Bukankan aku sudah menyetujui tantangan mereka waktu itu."
"Aku mencintaimu calon suamiku, sungguh aku bahagia memilikimu," balas Sella, sambil menjulurkan lidahnya karena sangat muak harus berpura-pura manja begitu.
"Mas juga cinta sama kamu, Sayang. Ya udah kami istirahat, ya. Jangan lupa kabarin!"
"Oke, Honey. kamu juga ya. Ingat kalo ada waktu dateng ya ntar malam!"
__ADS_1
"Siap, Sayang! Mas usahakan datang ya. Doakan nggak hujan. Terus wanita jelek itu nggak ribet!"
"Tentu honey! pasti!" jawab Sella sembari terkekeh.
Tak ingin perbincangan mereka didengar oleh Dini, Robin dan Sella pun memutuskan untuk mengakhiri percakapan mereka.
Robin beruntung, saat Dini masuk ia sudah selesai bersayang-sayangan dengan kekasihnya itu.
"Abang... habis telponan sama siapa hayooo!? " canda Dini.
"Ini loh, Yang. Orang yang ngurusin surat-surat perkebunan kita. Katanya sudah ready. Tinggal ambil suratnya, tapi abang capek. Abang bilang minggu depan aja. Abang pengen kangen-kangenan sama kamu lah, Honey. Masak iya kita suruh pisah terus," jawab Robin, tak lupa, pria licik itu kembali menghujani sang istri dengan tipuan-tipuan mautnya. Agar Dini tak banyak bertanya tentang aktivitas nya di luar rumah.
"Tapi nggak pa-pa jika begitu, Bang?"
"Abang bener, alangkah baiknya jika begitu. Ya udah.. sekarang abang makan dulu katanya laper tadi. Habis itu baru bobo, heemm!" ucap Dini seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Oke, aku pun udah rindu masakan istriku. Berhari-hari aku makan masakan orang rasanya kurang pas, Yang!"
"Hilih, ngrayu. Bukannya abang makan di hotel bagus. Bukan di warteg biasa?"
"Iya sih, tapi sambalnya nggak ada yang bisa ngalahin bikinan kamu, Honey. Sungguh!"
Robin memeluk sang istri dan memberinya kecupan penuh cinta. Cinta palsu maksudnya. Nyatanya saat ini ia menaikkan matanya karena lelah berpura-pura.
***
__ADS_1
Hari berganti hari, Robin semakin matang membuat rencana, hingga Dini semakin terlena dengan kebaikan palsunya. Bahkan wanita itu sering tidak menyadari uang dan beberapa barang berharganya hilang.
Maklum, Dini bukan wanita yang gemar memakai perhiasan. Perhiasan itu hanya ia simpan sebagai tabungan. Sayangnya, Dini tidak tahu, bahwa beberapa tabungan nya itu sudah diamankan oleh Robin di suatu tempat yang tidak akan pernah Dini temukan kambali. Yaitu Robin kembalikan ke toko perhiasan tersebut. Alias ia jual. Lalu uangnya ia gunakan untuk bersenang-senang.
Senyum mengembang sempurna ketika Robin berhasil menemukan satu lagi kotak perhiasan sang istri yang disembunyikan di bawah tumpukan baju.
Dini memang pandai menyembunyikan barang miliknya. Ia tidak menaruhnya di satu tempat. Tetapi di sebar beberapa tempat.
Mungkin maksudnya adalah menyebar tabungannya tersebut untuk mengecoh orang-orang yang berniat jahat padanya. Tapi sayangnya, orang tersebut malah berada di dalam selimut. Bukankah ini sial?
Tak ingin perbuatannya di ketahui oleh sang istri, Robin pun langsung memasukkan kotak perhiasan itu ke dalam tasnya. Dan kembali pura-pura memakai baju.
Dini yang saat itu sedang menghitung hasil penjualannya hari ini, tentu saja tak tahu jika detik ini ia sedang kerampokan. Dini terlalu fokus pada angka-angka yang tertera di depan matanya.
"Sayang, mau abang buatin kopi?" tanya Robin, berpura-pura tak terjadi apa-apa.
"Makasih banyak abang, tapi apakah itu tidak merepotkan?" tanya Dini.
"Tentu saja tidak dong, Honey. Masak merepotkan sih? Tunggu ya, abang buatkan. Semangat kerjanya sayangku!" ucap Robin sembari mencubit manja hidung sang istri.
Dini hanya tersenyum. Bahagia. Bagaimana tidak? Robin dinilai selalu bisa mengerti akan dirinya.
Padahal, andai Dini tahu, Cinta yang dibawa oleh suaminya adalah cinta palsu. Bagaimana nanti Dini akan menghadapi hatinya? Siapkah Dini menghadapi goncangan ini nanti? Entahlah...
Bersambung...
__ADS_1