
Terdengar seseorang membuka pintu untuk mereka.
Seorang pria, menggunakan baju santai. Ala-ala pria pada umumnya saat bersantai di rumah.
Pria tersebut memakai kaos dan celana pendek berwarna senada. Namun ketampanannya tetap terjaga. Ketampanan yang terjaga itu, sama sekali tidak diragukan oleh siapapun yang melihatnya. Dia tampan, bahkan sangat tampan.
Dini tertegun ketika bertemu mata pria itu. Begitu pun dengan pria itu. Mereka sama-sama tertegun tanpa kata.
Bukankah pria itu adalah pria yang itu.
Dini menatap tajam ke arah pria yang berhasil merepotkannya itu. Entah mengapa, Dini yakin jika pria ini adalah dia. Pria yang berbelanja di tempat ia bekerja. Lalu memberikan semua belanjaan itu padanya.
Di sini bukan hanya Dini yang tertegun. Pria itu pun sama. Ia terdiam. Tak menyangka bahwa hari ini ia akan kedatangan tamu. Tamu yang tak diundang. Seseorang yang selama ini ia kagumi. Namun masih belum berani ia kejar secara terang-terangan.
"Evan! Kenapa kau malah mematung begitu. Kau tak lihat mbak ini keberatan gendong anakmu," ucap Ibu Zaenab ketus. Spontan, ucapan itu menyadarkan kedua sejoli ini dari lamunan.
"Eh, sorry, Ma... " jawab Evan seraya membuka pintu apartemennya selebar mungkin. Agar ketiga wanita beda usia itu bisa masuk ke dalam rumahnya.
"Saya tidurkan di mana adek, Bu?" tanya Dini.
"Ke kamar bapaknya aja, Din. Evan, kasih tau kamar kamu. Biar bayimu ditidurkan di sana!" pinta Ibu Zaenab.
Tak ingin membuat ibunya murka, Evan langsung mengajak Dini masuk ke kamarnya.
"Iya, Ma... Mari Mbak," jawab Evan seraya melangkah menuju kamarnya.
Dini segera mengikuti langkah pria itu.
Evan membukakan pintu dan langsung menyiapkan tempat tidur untuk Almera. Di ranjang miliknya tentunya.
__ADS_1
"Di sini saja, Mbak," ucap Evan, sembari menyalakan pendinginan ruangan.
"Baik," jawab Dini seraya membaringkan Almera di kasur mewah milik pria itu.
Pelan namun pasti, Dini mencoba lepaskan pelukkan Almera. Namun, saat ia mencoba melepaskan pelukan itu. Justru Almera malah semakin erat memeluknya. Membuat Dini sangat mengurungkan niatnya untuk itu. Takut Almeria terbangun dan menangis.
"Bagaimana ini, Mas?" tanya Dini.
"Kalo mbak nggak keberatan, tunggulah sebentar. Setidaknya sampai dia terlelap dan mau lepaskan pelukkannya," jawab Evan.
Dini menurut, ia pun akhirnya mendiamkan sebentar tubuhnya dipeluk oleh gadis cilik itu. Sedangkan dirinya langsung berpamitan keluar.
Di ruang tamu....
Terlihat Zaenab sedang menatap tajam ke arahnya. Seperti marah besar terhadapnya.
"Ayolah, Ma. Jangan menatapku seperti itu! Aku malas berdebat," ucap Evan.
"Ma... jangan memaksaku. Mama tau alasanku menjauhi Almera."
"Mau bagaimanapun, Almera itu anakmu, Van. Kamu adalah bapaknya. Paham!"
"Mama selalu pilih kasih, kenapa nggak ngomong gitu ke Damian?" balas Evan.
"Evan, bukan mama membelanya, tapi mengertilah!"
"Apa yang harus Evan mengerti, Ma? Kelicikan kalian menjebak Evan. Atau kebusukan kalian menyembunyikan kebenaran dari khalayak. Evan heran, sebenarnya Evan ini anak kandung mama apa bukan sih! Selalu aja bela Damian, giliran Evan... mama hempaskan sejauh yang mama bisa," jawab Evan kesal.
"Tidak seperti itu, Van. Kalo mama nggak nglakuin ini, mungkin Almera nggak bisa mama selamatkan. Kamu tahu bagaimana kejamnya abangmu," jawab Zaenab, sekali lagi meminta pengertian Evan.
__ADS_1
"Selalu orang lain yang mama utamakan. Evan juga mau bahagia, Ma. Evan lelah... dah lah!" jawab Evan, cemberut.
"Sekarang mama tanya, kamu tega lihat bocah semanis itu mati, ha? Kamu tega lihat bocah semanis itu disiksa sama abangmu. Kalo kamu tega, kasihkan saja sama abangmu yang kejam itu. Mama nggak sanggup lagi jadi penengah di antara kalian," jawab Zaenab, mulai tak sabar menghadapi kedua putranya.
Evan diam. Suasana jadi hening. Tak lama kemudian, Dini keluar dari kamar Evan.
"Maaf, Bu... Adek sudah tidur. Saya pamit balik kerja ya," ucap Dini sopan. Dini melirik sekilas pada Evan. Sedangkan Evan cuek. Pura-pura tak mengenalnya.
"Oh, iya. Makasih ya Din. Ini ada sedikit uang jajan buat kamu," ucap Zaenab seraya menyerahkan satu lembar uang senilai seratus ribuan pada Dini.
"Astaga, Bu. Nggak usah. Dini nggak mau beginian!" tolak Dini.
"Nggak pa-pa, Din. Ambilah! Ayolah!" bujuk Zaenab.
"Bu, bener saya ikhlas bantu Ibu. Jangan pakek beginian. Pokoknya, selama saya bisa bantu, Ibu boleh telpon saja. Dini serius, Bu. Dini senang bisa bantu ibu," jawab Dini seraya menutup gengaman jari jemari Zaenab. Lalu mengelus lengan wanita paruh baya itu.
"Bener?"
"Iya, Bu. Dini serius!"
"Emmm, manis sekali. Sungguh, baru kali ini ibu ketemu orang setulus kamu. Nggak ngungkit kebaikan yang dilakukan," ucap Zaenab seraya melirik Evan. Bermaksud menyindir putra bungsunya itu.
"Nggak gitu lah, Bu. Insya Allah kalo Dini bisa, Dini pasti selalu siap bantu. Em, Dini pamit dulu ya, Bu. Balik kerja lagi," ucap Dini.
"Baiklah, makasih banyak ya, Din."
"Sama-sama, Bu. Dini permisi. Assalamualaikum."
"Walaikum salam... "
__ADS_1
Dini pun keluar dari apartemen milik Evan. Milik pria itu. Pria aneh yang membuatnya kesusahan beberapa hari ini. Dini juga curiga, bahwa pria yang mengirimkan makan untuknya beberapa hari ini adalah dia. Evan, si pria misterius itu.
Bersambung...