Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Keputusan Final


__ADS_3

Sesuai perjanjian mereka berlima, akhirnya Ibu Zaenab pun masuk terlebih dahulu ke kamar Almera. Sedangkan Warti menunggu tangga.


Pelan namun pasti, Ibu Zaenab pun membuka pintu kamar Almera. Ber acting pura-pura terkejut ketika melihat pengasuh cucunya sedang tidur nyenyak di dalam dekapan putra bungsunya.


"Astaga, Evaaaaaannnnn.... Diniiii.... apa yang kalian lakukan!!!" teriak Zaenab sembari membangunkan kedua insan itu.


Dini bangun terlebih dahulu. Masih berusaha membuka mata. Karena kepalanya serasa pening.


"Dini... ibu nggak nyangka kamu dan Evan bisa berbuat serendah ini!" tuduh Ibu Zaenab tanpa mau memberi kesempatan pada Dini untuk membela diri.


Tanpa mengetahui kesalahannya, Dini pun bertanya, "Ada apa, Bu?" ucapnya.


"Ada apa, ada apa? Lihatlah, apa yang kalian lakukan? Sejak kapan kalian berhubungan ha? Jadi ini alasan Evan memintamu bekerja di sini. Agar kalian leluasa berzina, ha?" tuduh Ibu Zaenab, marah.


"Ha... ha... apa, Bu? Dini nggak mengerti?" jawab Dini, masih dalam keadaan setengah sadar.


"Nggak ngerti, nggak ngerti...tu lihat, siapa yang kamu peluk!" jawab Ibu Zaenab seraya menarik selimut yang mereka kenakan.


"Ha!!! Astaghfirullah hal Azim!" pekik Dini, tak kalah terkejut. Spontan Dini langsung melepaskan diri dari pelukan Evan. Sungguh, ia tak menyangka bahwa sesuatu yang ia peluk dengan sangat nyaman adalah seorang pria. Majikannya. Bukan guling yang tadi ia siapkan.


"Maafkan saya, Bu... saya tidak tahu kalau..." Dini langsung menangis sembari menjauhkan tubuhnya dari Evan. Dini menangis ketakutan karena ia tak mengerti dengan apa yang terjadi.


Beberapa detik kemudian, Warti datang.


"Ada apa, Nya? Kenapa rame-rame?" tanya Warti, ikutan berdrama.


"Lihatlah, War? Ternyata feeling ku benar. Mereka berpacaran. Aku kecewa sekali. Seharusnya mereka jujur kalo pacaran. Bukan malah berzina seperti ini!" ucap Zaenab, tentu saja dengan wajah sok kecewa.


"Tidak, Nya. Sungguh, saya nggak tahu. Demi Tuhan. Masss Evaaann... bangun Mas!" ucap Dini, menggoyang tubuh Evan. Namun Evan masih terlihat sangat nyaman dalam mimpinya.

__ADS_1


Tak lama berselang, Gilang dan Kidi datang dengan ketiga pembantu lainnya.


"Ada apa, Nya? Apakah ada maling?" tanya Kidi. Sedangkan Gilang langsinh mengambil gambar mereka.


"Tu malingnya. Tangkap mereka. Seret mereka ke ruang tamu. Aku mau tau alasan mereka bisa tidur bareng begini!" pinta Ibu Zaenab.


"Ampun, Bu... ampuni saya. Saya nggak tau kenapa ini bisa terjadi. Mass Evan... bangun Mas... Ya Tuhan!" Dini masih berusaha membangunkan Evan. Di detik berikutnya, Evan pun terbangun.


"Ada apa, eememm?" tanya Evan, tak kalah bingung.


Ia lebih bingung lagi ketika melihat ibunya dan semua asisten yang kerja di rumahnya ada di depan matanya.


"Ngapain kalian semua ada di kamarku ha? Ada apa ini?" tanya Evan, masih belum menyadari bahwa saat ia berada di kamar putrinya dan sedang berbaring tanpa dosa di ranjang pengasuh putrinya.


"Ngapain kau tanya? Lihat, kau tidur di ranjang siapa? Tidur sama siapa? Evaaannnnn.... mama kecewa sama kamu. Kalo kamu suka sama Dini, bilang sama mama. Biar mana lamar dia buat kamu. Tapi kalo udah begini, mau ditaroh di aman muka mama, Van?" ucap Ibu Zaenab kesal.


"Kalian ngomong apa sih, aku nggak ngerti?" jawab Evan, masih linglung.


"Halah, kamu nggak usah bohong sama mama. Pantas saja kamu paksa mama buat terima Dini kerja di sini, rupanya biar kalian leluasa pacaran. Tadi sore saja kalian berduaan di meja makan, kan War?" desak Ibu Zaenab.


"Astaga, Ma... ini nggak bener. Lagian Evan tadi tidur di ruang kerja. Buka di sini. Ya Tuhan... hay Dini, kenapa aku tiba-tiba ada di sini ha?" tanya Evan, bingung.


"Dini mana tau, Mas. Ini kan kamar Dini. Dini juga nggak paham kalo ada Mas di sini. Tiba-tiba saja ibu datang, terus ... Dini nggak ngerti, Mas!" tangis Dini kembali pecah. Karena ia memang tidak mengerti dan tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sudah, kalian berdua keluar. Kita bicara di ruang tamu. Sinta, Ani... kalian jaga Almera, jangan sampai cucuku terbangun gara-gara kedua sejoli ini. Kau Mukidi, Warti, seret kedua anak tak tau malu ini ke ruang tamu. Aku ingin tau alasan mereka mengelabui ku," pinta Ibu Zaenab tegas.


"Astaga, Ma! Jangan di panjang-panjangin lah. Mungkin aku mimpi. Lalu tanpa sengaja masuk ke kamar Dini," ucap Evan.


"Ah.. tidak, mana ada begitu. Cepat kau ke ruang tamu. Dini, berhentilah menangis. Tangisanmu bikin aku tambah emosi tau," ucap Ibu Zaenab.

__ADS_1


Dini melangkah terlebih dahulu, lalu diikuti Evan. Kemudian para saksi palsu yang sudah dibayar oleh Zaenab.


"Duduk kalian!" pinta Ibu Zaenab sembari menatap tajam ke arah kedua sejoli menjengkelkan itu.


"Apa kalian tau, kalo aku sangat tidak suka dengan kebohongan?" tanya Ibu Zaenab.


"Maafkan saya, Bu. Tapi sungguh, saya tidak mengerti dengan ini. Seingat Dini, Dini sendirian tadi malam. Tak ada siapapun yang masuk, demi Tuhan!" ucap Dini.


Ibu Zaenab menghela napas dalam-dalam. Menatap Evan yang saat ini terlihat santai.


"Evan, katakan sama mama, apa ini rencanamu?" tanya Ibu Zaenab.


"Rencana apa sih, Ma? Mana Evan ada rencana. Dini kali yang naksir aku diam-diam," tuduh Evan.


"Nggak, Mas. Mana ada Dini naksir masnya. Dini nggak ada perasaan apapun sama masnya, Demi Tuhan!" jawab Dini jujur.


"Masak? Buktinya kamu bawa aku ke ranjangmu. Berarti kamu yang naksir aku!" jawab Evan.


"Hah? mana bisa begitu. Saya saja tidur di kamar sendiri. Terus situ tiba-tiba ada situ. Lalu gimana ceritanya saya naksir situ. Enak aja!" balas Dini tak mau kalah.


"Ya aku mana tau, bisa jadi kamu kasih aku apa gitu. Biar aku nurut sama kamu!"


"Astaghfirullah, Mas... mana Dini punya pikiran seperti itu. Mas jangan ngarang deh... "


"Diam! Diam kalian, diam! Kalian berdua salah. Aku nggak mau tau siapa yang salah dan benar di sini. Yang jelas kami semua sudah melihat dengan mata kepala kami sendiri kalo kalian sudah berbuat tak pantas. Mama nggak mau berita ini sampai menyebar ke luar. Terserah kalian siap atau tidak. Setuju atau tidak. Mam mau kalian menikah hari ini juga. Paham!" ucap Bu Zaenab memberi keputusan.


Terang saja, Evan dan Dini langsung melongo. Tak tau harus menjawab apa. Mereka terlanjur shock. Shock dengan apa yang terjadi. Shock dengan keputusan sepihak yang harus mereka terima tanpa boleh memilih.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2