
Dini stres berat hingga mengakibatkan kesehatannya memburuk.
Beruntung dia memiliki bos yang baik dan perhatian. Untuk membuatnya sehat kembali, Bu Zaenab meminta sopirnya untuk membawa babysitter cucunya ini untuk berobat.
Dini sangat berterima kasih untuk itu. Ternyata masih ada segelintir orang yang peduli padanya. Meskipun itu bukan orang yang memiliki hubungan keluarga dengannya. Seperti suaminya sekarang, mungkin!
Selepas dari dokter, Dini diminta untuk istirahat di kamarnya. Memulihkan kesehatannya. Hingga nanti ia siap untuk bekerja kembali.
Namun, jika boleh jujur, saat ini yang sakit dalam diri Dini bukan hanya fisik tapi juga hati. Hati Dini serasa tercabik-cabik oleh kelakuan bejat sang suami. Hati Dini terasa remuk oleh rahasia-rahasia Robin yang nyatanya tak lebih dari racun yang mematikan.
Dini semakin hancur. Mana kalau ia tahu, ternyata sang suami memiliki wanita lain selain dirinya dan lebih gilanya lagi, wanita yang menjadi simpanan suaminya itu ternyata adalah gadis yang pernah dia bawa untuk bekerja padanya.
Dini menatap foto-foto yang di kirim Lita. Sebenarnya Lita tak ingin mengirim bukti itu by phone. Tapi Dini memaksa. Ia ingin tahu bukti nyata dari kabar yang ia terima, segera. Mau tak mau Lita pun mengirimkan bukti itu. Tentu saja, agar Dini merasa lega.
Bohong jika bukti tersebut tidak semakin memperparah keadaannya. Andai saat ini Robin ada di depannya, mungkin Dini akan memakinya sepuas hati.
Sayangnya, sejak Dini keluar rumah untuk bekerja, tak sekalipun pria itu menghubunginya. Bahkan, Dini sendiri pun tak bisa menghubungi pria itu.
Dini Stress berat dibuat oleh suami jahatnya itu. Andai bisa memutar waktu lagi, Ingin rasanya Dini memilih untuk tidak mengenal pria itu.
Dini kalah. Dini kalah dalam cinta. Nyatanya cinta dan ketulusan yang ia berikan pada sang suami, ternyata hanya dianggap angin lalu belakang. Nyatanya, pria itu terlihat sangat nyaman di dalam dekapan wanita lain.
__ADS_1
Kini Dini menyadari sikap Robin yang jarang mau menyentuhnya, ternyata pria itu memiliki wanita lain di luar sana.
Bukan hanya itu, Dini juga shock mengetahui fakta lain.
Dini merasa sangat bodoh ketika ia tahu bahwa perhiasan miliknya ternyata diberikan pada wanita itu oleh Robin. Jadi, Robin tega mencuri harganya hanya untuk menyenangkan wanita itu. Dan menurut Dini, ini sangat jahat dan biadab.
Dini berjanji, jika dia pulih nanti, ia pasti akan menuntut mereka berdua.
Lihat saja nanti! ancam Dini dalam hati.
***
"Sabar ya, Din... kita lagi berusaha buat nyari suami kamu. Kita bakal paksa dia bertanggung jawab atas kerusuhan yang dia timbulkan. Kamu berdoa saja, semoga semua segera berakhir baik," ucap Lita sembari mengelus punggung kurus sahabatnya itu.
"Aku nggak habis pikir, Ta. Kenapa orang selembut Robin ternyata memiliki jiwa psiko yang sangat kejam. Dia memang tidak menyerangku secara fisik, tapi lihat, jiwaku hancur karenanya, Ta. Aku nggak tau harus bagaimana lagi bersikap. Andai aku dikasih kesempatan untuk bertemu dengannya. Ingin rasanya aku tembak saja dia. Biar nggak ada lagi wanita-wanita seperti aku yang jadi korbannya," ucap Dini dengan linangan air mata yang tak mampu lagi ia kendalikan.
"Iya, Din... kami tau gimana perasaanmu. Tapi aku mau tanya satu hal, Kira-kira bener kamu pernah ketemu ni cewek?" tanya Lita sembari menyodorkan satu lembar foto Robin sedang memangku gadis itu.
"Ya, gadis ini namanya Sella. Dia pernah melamar kerja di tempatku. Yang bawa ya dia juga. Katanya ni adek dari temennya. Asli Tegal. Tapi nggak tau juga aku, kalo ternyata dia wanita seperti itu," ucap Dini.
"Oke, ini info yang cukup membantu untuk penyelidikan kita. Satu lagi info yang baru kita dapat dari bapak-bapak tukang ojek di pangkalan yang kamu bilang itu. Jadi, ternyata... suamimu itu bukan tukang ojek. Dia memang suka nongkrong di situ. Tapi nongkrong doang. Nggak narik," ucap Lita, seusai info yang ia dapat dari bapak-bapak tukang ojeg di sana.
__ADS_1
"Kamu serius, Ta? Lalu selama ini dia kerja apa?" tanya Dini.
"Emmm, itu, Din.... " Lita menatap kedua sahabatnya. Seakan meminta persetujuan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Dini.
"Tak apa, Ta... katakan saja. Aku siap mendengar apapun. Lebih baik aku tau sekarang dari pada aku tau nanti. Toh sama saja kan? Sama-sama sakit," ucap Dini, memelas.
"Kami tahu, Din. Tapi kamu harus kuat ya, Din!" pinta Lita.
Dini mengangguk. Namun air mata yang keluar dari sudut mata Dini tak bisa menyembunyikan bahwa saat ini hati wanita ini sedang hancur. Sehancur hancur nya. Sungguh!
"Suamimu itu tukang judi, Din! Dan yang menjerumuskan dia kesana adalah cewek yang ada di dalam foto ini. Maaf, Din... maaf banget aku harus kasih tau kamu kenyataan pahit ini," ucap Lita, sedih.
Dini diam, sediam-diamnya. Ucapan Lita serasanya petir yang menyambar jantungnya. Langit serasa runtuh detik ini juga. Sungguh Dini tak sanggup berkata apapun.
Kenyataan yang dibawa oleh pada sahabatnya, nyatanya seperti bisa cobra. Sungguh terasa panas di dada.
"Astaghfirullah hal azim... Ya Allah, ampuni aku. Sakit sekali ya Allah... sumpah!" ucap Dini sembari mendekap dadanya sendiri. Sesak ini sungguh tak tertahankan lagi.
Namun sekali lagi, Dini tak mampu menolak. Semua sudah terjadi. Dan satu kata untuk pria yang berhasil menghancurkan hidupnya, yaitu bajingan. Ya, pria itu adalah pria bajingan. Pria yang wajib dibinasakan. Dini sangat membencinya. Sangat membencinya.
Bersambung...
__ADS_1