Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Balas Dendam Terindah


__ADS_3

Setelah mendapatkan izin dari ibunya, Evan pun segera berangkat ke tempat kakaknya berada.


Menurut info, saat ini Damian sedang berada di sebuah club. Sedang bersenang-senang dengan para pengikutnya. Serta beberapa wanita yang ia sewa.


"Silakan masuk, Tuan!" ucap salah satu orang kepercayaan Evan, yang mendapat tugas untuk memantau Damian.


"Di mana dia?"


"VVIP room, Tuan!"


"Singkirkan semua orang yang ada di sekitarnya. Aku ingin bicara empat mata dengannya," jawab Evan.


"Maafkan kami, Tuan. Sebaiknya tidak usah di singkirkan. Kami ingin anda melihat sendiri, siapa orang-orang yang telah menghianati anda," jawab pria tinggi besar yang memakai masker itu.


"Maksudnya?" tanya Evan masih belum paham arah pembicaraan anak buahnya itu.


"Ada beberapa orang kepercayaan anda, yang ternyata bermuka dua, Tuan!"


Evan menghentikan langkah, sungguh ia tak percaya dengan kabar gila itu.


Namun, inilah kenyataan. Evan tak punya pilihan lain selain pada hasil penyelidikan anak buahnya.


Evan memantapkan langkahnya. Lalu masuk ke dalam ruangan itu. Evan tercengang. Tak menyangka bahwa apa yang di katakan salah satu ajudannya adalah benar.


Orang-orang yang ia percaya bekerja baik dengannya, ternyata adalah penghianat.


"Tuan Evan!" ucap tiga orang yang di ketahui adalah pegawainya di perusahaan.


"Saya tak punya urusan dengan kalian di sini. Jadi sebaiknya kalian pergi. Kita selesaikan masalah kita, besok, di kantor!" ucap Evan tegas pada ketiga pekerja penghianatnya itu.


"Ba-baik, Tuan.. memaafkan kami!" ketiga pekerja itu pun langsung keluar ruangan tersebut. Dengan perasaan super lega tentunya.

__ADS_1


Sayangnya, hidup mereka tak semudah itu. Nyatanya, saat ini ketiga pekerja penghianat itu sudah ditangkap dan akan di adili langsung oleh Evan. Setelah urusannya dengan belatung nangka ini selesai.


"Ngapain kamu ke sini? Aku nggak ada urusan sama kamu!" ucap Damian, santai.


"Jangan pura-pura bodoh kamu, Damian. Kekacauan yang terjadi di rumah hari ini, aku yakin adalah ulahmu. Kau gila, setiap hari cuma bikin mama nangis!" ucap Evan geram.


"Persetan dengan wanita tua itu. Dia yang membuatku jadi seperti ini!" jawab Damian.


"Apa salah mama sampai kau tega membuatnya menangis setiap hari?"


"Dia lebih menyayangimu di banding akuaku brengsek. Masih mau membela dia?" bentak Damian.


"Dari mana kau tau kalo mana lebih menyayangiku ha? Bukankah kau yang selalu di manja olehnya?"


"Dia lebih banyak memberimu harta, brengsek?"


"Siapa bilang? Bukankah kita di beri sama?" tanya Evan.


"Oh, jadi ini yang membuatmu jadi seseorang yang tak punya hati? Astaga Damian? Mengertilah, keserakahanmu pasti akan menghancurkanmu. Untuk apa kau terlalu bersemangat mengejar sesuatu yang akan menjerumuskanmu ke jurang kenistaan?" ucap Evan kesal.


"Ahhhh, diam kau brengsek! Aku tak butuh nasehat dari pria bajingan sepertimu!" ucap Damian sembari mengacungkan pistol tepat di depan adik kandungnya sendiri.


Evan tak gentar, tak sedikit pun ia bergerak. Justru ia malah menantang kakaknya itu.


"Jangan ragu, silakan tembak aku! Kau ingin melihat ibumu mati juga kan? Ha.... lakukan sekarang!" tantang Evan.


Entah apa yang merasuki jiwa Damian. Tanpa banyak bicara, ia pun langsung menarik pelatuk itu.


Tembakan tak terhindarkan. Beruntung Anak buah Evan sigap. Ia langsung menedang Evan, hingga tembakan meleset mengenai dinding ruangan tersebut.


Peperangan berlanjut, seorang wanita bermain serba hitam masuk ke dalam ruangan. Ditemani beberapa pria berpakaian sama. Wanita itu langsung meluncurkan tembakan tepat kaki Damian. Seketika pria itu pun jatuh tersungkur.

__ADS_1


"Letakkan sejata kalian!" perintah wanita itu.


Beruntung tak satupun anak buah Evan membawa senjata ke tempat tersebut. Hanya Damian yang membawa senjata ilegal. Dan mungkin Damian juga sudah diincar oleholeh mereka.


Damian sudah di bawa oleh kelompok tersebut. Sedangkan Evan dan timnya mencoba mengonfirmasi apa yang terjadi pada wanita yang di sinyalir sebagai ketua kesatuan tersebut.


"Boleh saya tau alasan ada melakukan operasi ini?" tanya Evan.


"Mohon maaf, ini bukan wewenang kami untuk menjelaskan. Silakan ikut kami ke kantor, kami akan jelaskan detail kasus yang menjerat oknum tersebut," jawab wanita itu tegas.


Evan diam. Tak ada pilihan lain selain mengikuti perintah wanita itu.


Dari perangai dan pembawaan wanita serta timnya tersebut, Evan yakin mereka adalah intel yang sengaja mengawasi gerak gerik Damian sebagai pengedar sekaligus mucikari di dalam dunia malam tersebut.


Evan dan anak buahnya tidak melawan. Mereka tetap mengikuti prosedur yang telah mereka tanda tangani.


Tak lupa, Evan juga segera menghubungi kuasa hukumnya untuk berjaga-jaga agar dia bisa bebas atas kasus yang melibatkannya ini.


***


Di sisi lain...


Seorang wanita sedang tersenyum sinis ketika melihat pria yang telah memperkerjakannya bagai kuda itu.


Siapa lagi kalo bukan Sella?


Ya, sekali lagi... Sella telah berhasil membuat orang yang telah menyakitinya membayar kontan penderitaan yang telah ia alami.


"Rasakan, pria biadab golongan setan sepertimu memang pantas merasakan kehancuran. Makan tu timah panas!" ucap Sella ketika melihat bos besarnya itu diseret para intel itu untuk di masukkan ke dalam mobil tahanan.


"Sudah aku katakan, siapapun yang berani menyakitiku, maka dia akan merasakan sesuati yang lebih perih dari apa yang aku rasakan. Setelah ini, giliranmu Robin. Tunggulah, aku akan mengirimkan sesuatu yang akan membuatmu menangis darah!" ancam Sella tanpa belas kasih.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2