Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Buaya Kena Tipu


__ADS_3

Sella tersenyum bahagia saat melihat Robin terlelab di atas ranjang seusai percintaan panas mereka. Kebahagiaan itu bukan semata karena ia puas bercinta dengan pria itu. Tetapi lebih karena Robin memberinya banyak uang.


"Terima kasih banyak, Sayang. Kamu memang baik banget. Sayangnya kamu kurang kaya. Maafkan aku jika hanya membodohimu. Aku suka permainan ranjangmu, hanya saja, aku tak bisa lama-lama singgah hanya dengan satu pria. Maafkan aku ya, Sayang. And makasih uangnya. Makasih banyak pokoknya, kamu memang terbaik, Sayang," gumam Sella sembari menggaris hidung mancung Robin dengan jari telunjuknya.


Sella kembali tersenyum senang. Kemudian ia pun beranjak dari pembaringan dan memakai pakaiannya kembali.


"Maafkan aku, Sayang. Aku harus kembali. Kamu tahu kan, aku baru bekerja pada istrimu. Aku takut di curiga kalo aku tiba-tiba nggak masuk kerja. Maaf aku tak bisa terus bersama mu, sebaiknya kamu kembali saja pada istri culunmu itu. Kamu tau kan banyak pria di luaran sana yang menginginkanku. Aku mau yang mana, tinggal pilih saja. Makan jangan mengharapkanku," ucap Sella sembari tersenyum licik. Dan tahukan Robin jika saat ini dia berbohong. Saat ini ia sedang diminta untuk ke suatu tempat oleh seseorang. Untuk melayani tamu tentunya.


Pelan namun pasti Sella meraih tas tangannya yang berisi puluhan juta uang dari Robin. Berjingkrak senang, karena ia berhasil mengeruk uang pria itu. Tanpa Robin merasa curiga sedikitpun padanya. Bukankah ini menyenangkan?


Tak berbeda dengan dengan Dini yang lugu, seorang pemain ulung seperti Robin pun ternyata bisa juga kena tipu. Percaya dengan kemilau cinta, tetapi sayang, ia juga tertipu. Tertipu oleh kebahagiaan semu.


***


Keesokan harinya, Robin terkejut karena ia hanya sendirian di kamar hotel. Sella tak ada di tempat. Robin ingin marah. Namun ketika melihat secarik kertas, justru ia malah tersenyum. Sebab isi tulisan yang ada di dalam kertas tersebut memberinya pesan yang menurutnya kembali menunjukkan kecerdasan sang kekasih.


"Iya, Sayang! Kamu benar. Kita harus pandai bersikap. Jangan sampai wanita bodoh itu curiga, bahwa kita memiliki hubungan. Baik-baik ya kerjanya. Aku mau menikmati kebebasanku dulu," ucap Robin sembari mencium surat yang ditinggalkan oleh kekasihnya itu. Surat yang berisi pesan bahwa Sella kembali ke kosan di mana Robin memilihkan tempat tinggal itu untuknya.


Tak ingin sendirian dan kesepian, Robin pun memutuskan pulang.


Tentu saja, kedatangan mendadak Robin, membuat sang istri terkejut.


"Loh, kok abang udah pulang. Katanya seminggu?" tanya Dini.

__ADS_1


"Iya, Sayang.... Urusannya cepat kelar tenyata, tinggal tunggu Surat perjanjiannya turun. Abang nggak enak, di sana nggak ngapa-ngapain, baik abang pulang. Bisa ketemu kamu, makan masakan kamu, tidur ada yang ngelonin. Di sana abang kedinginan, Sayang. Gulang-guling sendiri kek duda aja. Nggak enak banget.... " jawab Robin, seraya menarik pinggang sang istri dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Ih, abang, masak begitu!" Dini tersipu malu. Wajahnya memerah, karena ia menganggap, Robin tidak bisa hidup tanpanya. Seperti dirinya, yang terhila-gila dengan suaminya.


"Iya, Yang. Masak kamu nggak gitu hemm? Masak kamu nggak kangen sama abang? Hayooo, kangen nggak sama abang?"


"Kangen lah, Bang. Tapi Dini kan tau, abang pergi kan untuk kerja. Bukan untuk main, kan?"


"Tentu saja, Sayang. Mana mungkin abang berani menghianatimu. Abang sangat mencintaimu istriku. Jangan tinggalin aku ya. Hemm!"


Dini mengangguk lalu tersenyum malu. Dan Robin tau, jika saat ini sang istri tengah berada di puncak kebahagiaan.


"Abang lapar, Sayang. Kamu masak apa?" tanya Robin, kali ini dia serius.


"Ya udah, Sayang. Nggak pa-pa. Makan mie instan aja deh kalo ada," balas Robin.


"Eh jangan, Sayang. Tunggu sepuluh menit boleh nggak. Dini mikinin makan. Sambil menunggu, gimana kalo abang mandi dulu. Selepas mandi baru makan. Oke!"


"Boleh lah! Makasih banyak ya, Honey. Kalo gitu abang naik dulu, nggak pa-pa kan kalo abang tinggal mandi."


"Nggak pa-pa, Sayang. Ya udah, abang mandi terus selesai mandi nanti makan. Oke... eh, Dini mau nanya, itu abang tau nggak si Sella ke mana? Dia nggak jadi masuk kerja loh. Terus nggak ada kabar lagi," ucap Dini.


Robin mengurungkan niatnya untuk mandi. Ia menatap sang istri dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Sella menulis pesan padanya seperti itu. Lalu kenyataan di lapangan seperti ini. Bagaimana Robin tidak merasa bingung?


"Abang nggak tau tu, Yang. Emang kamu nggak telpon dia atau... "


"Dini lupa tanya nomer telpon dia, Bang. Kan kemarin kita wawancara juga agak buru-buru. Dini pikir, dia bakalan datang. Eh ternyata enggak."


Robin diam sesaat. Mencoba memahami apa yang ada di pikirannya saat ini. Sungguh, Robin tidak mengerti dengan ini.


Tak ingin kebingungannya dibaca oleh sang istri, Robin pun memutuskan untuk mandi.


"Ya udah, abang mandi dulu ya. Nanti coba abang telpon kakaknya deh. Siapa tau kakaknya tau adeknya ke mana. Oke!" bohong Robin.


"Oke, Sayang. Nggak pa-pa. Abang mandi, makan terus istirahat. Abang pasti lelah kan habis perjalanan jauh!"


Robin mengangguk. Tak ada perbincangan lagi. Robin pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk membersihkan diri. Namun, ia tak menapik bahwa saat ini ada keresahan yang ia rasakan. Resah karena memikirkan kabar dan keberadaan sang kekasih. Sedangkan Dini, wanita itu terlihat tenang dan langsung menunaikan kewajibannya sebagai istri. Yaitu menyiapkan makanan untuk sang suami.


***


Di lain pihak, Sella sedang bersenang-senang. Memanjakan diri ke salon, spa, shoping dan memanjakan diri menggunakan uang yang Robin berikan kepadanya.


Siapa di sini yang menipu dan ketipu? Silakan nikmati hukum tabur tuai mu Robin🙄 Ternyata, Sehebat-hebatnya penipu, pasti kena tipu juga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2