Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Janji Suci Dini dan Evan (End)


__ADS_3

Pertualangan Robin akhirnya berakhir sudah. Pria itu langsung di bawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ini.


Sedangkan Evan, pria tampan itu sengaja pura-pura belum sadarkan diri. Karena ia ingin tahu, apakah sang istri sudah bisa menerimanya dengan baik atau belum.


"Mas, ayolah bangun. Hidupku sepi tanpa canda tawamu, Mas. Aku mohon! Bangunlah, kasihan mama, kasihan Almera," ucap Dini sembari menciumi jari jemari Evan. Sesekali Dini juga mencium kening dan pipi Evan. Bahkan beberapa kali ia juga mengecup bibir sang suami. Berharap Evan bisa merasakan kecupan bibirnya. Lalu membuka mata, menyapa dan membalas pelukannya.


Tak lama berselang, Ibu Zaenab ditemani Almera datang. Datang menjengung Evan yang saat ini masih terdiam ditemani beberapa alat deteksi alat vitalnya.


"Bagaimana keadannya, Sayang?" tanya Ibu Zaenab.


"Mas Evan belum merespon, Ma. Dini bingung harus gimana lagi bangunin mas Evan, ma," jawab Dini sembari menatap sedih pada ibu mertuanya nya.


Ibu Zaenab melongo bingung. Padahal saat ini Evan sedang tersenyum kepadanya dan say hallo dengannya.


"Oh, mungkin masmu masih lelah. Sudah nggak usah nangis. Nanti juga sadar," ucap Ibu Zaenab santai. Karena ia sudah tenang sebab ternyata Evan hanya pura-pura masih tak sadarkan diri.


"Benarkah, Ma? Mama tidak marah dengan Dini. Karena Dini, Mas Evan jadi seperti ini?" tanya Dini takut.


"Tentu saja tidak, Sayang. Sudah jangan menangis lagi. Percayalah, masmu pasti bakalan cepat sembuh. Sekarang kamu istirahat. Besok pagi pasti masmu udah sadar. Mama sama Almera pulang dulu. Jangan lupa makan, oke!" ucap Ibu Zaenab setelah mendapat kode sari Evan agar dia segera pergi.


"Makasih banyak ya, Ma. Maaf, Dini titip Mera dulu. Nanti kalo papinya udah sembuh, pasti kami segera pulang," pinta Dini.


Zaenab mengangguk. Lalu ia pun berpamitan dan mengajak Almera pulang.


Kini tinggalah Dini masih bertahan dengan kesedihannya. Berharap sang suami segera sembuh dan bisa bercanda gurau lagi dengannya. Seperti biasa. Seperti hari-hari sebelum sang suami bertemu pria jahat itu.


Tepat pukul sepuluh malam, Selepas Dini sholat dan merapikan barang-barangnya, ia pun merebahkan tubuhnya di ranjang khusus untuk penjaga pasien.


Sebenarnya Dini ingin tidur di samping samg suami. Tapi takut menganggu ruang gerak Evan. Dini takut Evan merasa sesak dan malah membuat pria itu tak sadar-sadar.


Mengingat pesan dokter dan ibu mertuanya bahwa sebenarnya Evan sudah tidak apa-apa membuat Dini sedikit tenang. Bahkan mereka juga mengatakan besok pagi pasti Evan sudah sadarkan diri.


Pesan itulah yang membuat Dini memutuskan untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya, setidaknya ketika sang suami besok bangun, dia juga dalam keadaan fresh dan semangat.


Mungkin karena beberapa hari ini ia sering menangis dan kurang tidur, Dini pun langsung terlelap tanpa banyak drama.


Sedangkan Evan, pria jahil itu pun langsung membuka mata dan mencabut infus yang menancap di pergelangan tangannya.


Ia ingin memberikan kejutan untuk sang istri. Evan ingin tidur di samping wanita yang mengkhawatirkannya beberapa hari ini.


Evan tersenyum mana kala Dini tetap terlelap, padahal ia memeluknya dengan sangat erat.


Gemas, Evan pun melahab bibir manis yang ia rindukan itu.


Merasa tidurnya terusik, Dini pun membuka mata.


Betapa terkejutnya dia, ternyata di sampingnya ada Evan yang asik menciumi bibirnya.


Meskipun terkejut setengah mati, Dini tidak menolak. Ia tetap membiarkan sang suami menikmati bibirnya. Menikmati apa yang ia miliki. Karena Dini pun menginginkan ini.

__ADS_1


Evan melepaskan pangutan bibirnya. Lalu tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Kok diam, kenapa?Nggak suka suaminya bangun?" tanya Evan, sedikit bercanda.


Dini tak menjawab dengan ucapan. Tapi menggeleng dengan tangisan.


"Sttt, jangan menangis, aku sudah sembuh. Aku udah bangun. Aku nggak kenapa-napa, Sayang," ucap Evan senang.


"Kenapa kamu hobi sekali membuatku khawatir?" tanya Dini.


"Tidak, Sayang. Maafkan aku. Sudah, jangan menangis lagi oke!" ucap Evan, kemudian ia pun kembali mengecup kening wanita yang sangat ia cintai ini.


"Kamu bikin Dini susah napas, Mas. Kamu bikin Dini nggak ngapa-ngapain. Kamu bikin Dini khawatir," jawab wanita ayu ini.


"Tidak sayang, aku baik-baik saja. Lihatlah, semoga luka ini nggak berarti apa-apa. Semua sudah sembuh. Bahkan kemarin aku makan sehari 4 kali. Hari ini sehari 3 kali. Amunisi di tubuhku hari ini terisi full. Kalo kamu nggak percaya, aku bisa bikin adeknya Almera sekarang," jawab Evan dengan candaan jailnya seperti biasa.


"Jadi, mas udah sadar dari kemarin?" tanya Dini, bingung.


"Dari pertama kali dibawa ke rumah sakit, mas juga sadar kali, Yang. Tapi lihat kamu khawatir gitu aku jadi gemes. Ya udah pura-pura tidur aja akunya," jawab Evan dengan senyuman nakalnya.


"Ih, nakal. Lihat Dini matanya sampai bengkak gini. Itu semua karena Dini khawatir. Kenapa malah dimainin. Kesel ah," ucap Dini merajuk.


"Aku tidak mempermainkan mu, Sayang. Tapi aku ingin tau, apakah aku udah berhasil masuk ke dalam hatimu atau belum. Itu saja. Maafkan aku hemm," jawab Evan seraya melahab kembali bibir wanita cantik ini.


Kali ini Dini tidak mau diam saja. Pelan namun pasti, ia pun membuka sedikit demi sedikit bibirnya. Lalu membalas pangut*n demi pangut*n sang suami. Rasanya indah sekali, apa lagi ketika ia merasakan tangan Evan mulai bergerilya menjabah lekuk tubuhnya. Dini yakin, saat ini Evan pasti berhasrat ingin memilikinya.


"Mas.. "


"Masak di rumah sakit?" bisik Dini, sebenarnya ia sendiri juga tak mampu menahan hasrat ini.


Evan tersenyum, lalu mengajak Dini beranjak dan mengajak Dini melarikan diri dari rumah sakit.


Dan ternyata, Evan telah menyiapkan segalanya. Lihatlah sekarang sebuah mobil Alphard telah menunggu mereka di depan lobi. Sehingga mereka bisa pergi tanpa kendala.


"Mas, kita belum bayar administrasi?" tanya Dini.


"Kamu tenang saja honey, ada Bian yang udah urus semuanya. Tugasmu sekarang hanya melayani ku. Jangan pikirkan macam-macam," jawab Evan dengan senyum nakalnya.


Dini tak punya pilihan lain selain menuruti apa yang suaminya inginkan.


Sebuah pembuktian cinta.


Pembuktian yang sudah lama mereka nanti.


Mobil yang memaksa mereka, akhirnya sampai di sebuah hotel mewah yang sengaja Evan siapkan untuk malam pertama mereka. Malam pertama sebagai suami istri secara batin tentunya.


"Sayang, ini apa?" tanya Dini.


"Kejutan buat kamu, honey," bisik Evan lirih, seakan sedang menahan hasrat yang kian meledak melesat seolah butuh pelepasan.

__ADS_1


"Mas, ini indah sekali. Tapi bolehkah aku membersihkan diriku dulu. Aku ingin mempersembahkan yang terbaik untukmu," pinta Dini.


Evan tak melarang. Ia pun membiarkan sang istri membersihkan diri, sedangkan dirinya pun sama. Evan pun melakukan hal yang sama. Sama seperti yang Dini lakukan.


Kini mereka telah berbusana seperti yang mereka inginkan.


Evan dengan baju formalnya sedangkan Dini dengan gaun malam yang sangat manis.


Sengaja Dini tidak memakai hijab. Agar sang suami bisa menikmati keasliannya.


Evan hampir tidak bisa berkata apapun. Dini terlihat begitu cantik. Berbeda dengan penampilan Dini yang sering ia lihat setiap hari.


Kali ini Dini terlihat manis, wangi dan menggoda. Sehingga Evan ingin langsung melahabnya.


"Kamu cantik sekali, Sayang," bisik Evan dengan wajah mulai bergairah menahan hasrat.


"Kamu juga tampan suamiku. Aku mencintaimu," balas Dini dengan senyuman termanisnya.


Entah siapa yang memulai, nyatanya saat ini bibir mereka telah menyatu. Saling memangut dan menyecap penuh n*fsu. Evan tak mau kalah, tangannya terus menjelajah sesuai yang ia inginkan.


Merasa tak ada lagi halangan yang menghalangi keinginan mereka untuk membuktikan cinta, baik Evan maupun Dini, mereka saling melepas baju satu sama lain.


Percintaan panas dimulai.


Dini dan Evan tak ingin melewatkan waktu sedetikpun untuk saling menjamah dan memiliki, hingga akhirnya pelepasan pun mereka lakukan.


Evan ambruk setelah menyemburkan benih cinta di rahim sang istri. Evan tersenyum puas. Apa lagi Dini menerima benih itu dengan senyuman.


"Terima kasih sayang, ini adalah malam terindah dalam hidupku. Terima kasih pengalaman pertamanya. Ini sangat luar biasa, Honey," ucap Evan bahagia.


"Semoga aku tidak mengecewakanmu, suamiku," balas Dini.


"Tidak, Honey. Kamu luar biasa. Mana mungkin aku kecewa. Kamu luar biasa sayang, Terima kasih," jawab Evan.


Benar kata pepatah, bahwa wanita akan menjadi ratu ketika ia bertemu dengan pria yang tepat. Dan sekaligus Dini merasakan itu. Evan begitu mencintainya, hingga ia diperlakukan seperti ratu.


Evan begitu lembut. Bahkan ketika tadi ia mencoba menyatukan raga mereka.


Dini memeluk erat sang suami. Dini memeluk Evan dengan perasaan berbunga-bunga penuh kebahagiaan. Seperti ia kembali mendapatkan kehidupannya yang telah lama hilang.


Sungguh Dini tak bisa mengungkapkan kebahagiaan itu dengan kata-kata. Untuk meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi, Dini memberanikan diri mengecup pelan bibit Evan.


Sedangkan Evan sendiri malah membalas kecupan itu dengan lum*tan panas yang menggairahkan.


Baik Dini mau pun Evan, tak mau menyia-nyiakan moment ini. Dengan penuh cinta, mereka pun mengulang kembali percintaan mereka.


Saling memeluk, saling berjanji akan saling setia hingga maut memisahkan.


Happy malam pertama Dini, Evan... semoga langgeng sampai maut memisahkan.

__ADS_1


End


__ADS_2