
Zaenab dan Warti terlihat bersemangat dengan rencana mereka. Bahkan mereka hendak merealisasikan rencana itu malam ini juga.
"Kamu lihat, si Dini sudah tidur belum. Soal Evan biar aku yang urus," pinta ibu Zaenab.
"Oke, Nya. Siap laksanakan!" jawab Bi Warti. Tak mau menunggu waktu lagi Warti pun segera keluar dari kamar majikannya. Namun, langkah terhenti ketika ia melihat dua sejoli yang hendak dijodohkan itu bercanda gurau di meja makan.
Warti pun segera kembali menuju kamar majikannya.
"Ada apa, War. Kenapa kau berlarian begitu?" tanya Ibu Zaenab.
"Itu, Nya... anu... mereka sedang itu," jawab Warti gugup.
"Mereka sedang itu anu apa?"
"Mereka lagi pacaran di meja makan."
"Pacaran! kok bisa! Sini aku mau lihat," jawab Zaenab tak sabar. Ibu Zaenab diikuti Warti langung ingin memergoki mereka.
Sesampainya di meja makan rumah itu...
"Kalian sedang apa? Kenapa malam-malam begini nggak tidur. Malah asik berduaan di sini," tegur ibu Zaenab, dengan nada ketusnya.
Seketika Dini pun beranjak dari kursi dan berdiri di samping Evan.
"Berduaan apa sih, Ma? Evan lapar, minta tolong Dini buat bikinin makan. Habis bi Warti lagi mijit mama kan? Evan nggak mau ganggu kalian. Lagian Mera udah tidur, ya udah Evan minta Dini bikinin makan. Enak lo ma nasi goreng Dini, mama mau nggak?" jawab Evan santai.
"Oalah... kirain kalian pacaran. Ya udah lah, kebetulan mama juga lapar. Nasi gorengnya masih ada nggak Din," ucap Ibu Zaenab.
"Masih ada, Bu. Mau Dini ambilkan?"
"Maulah, kelihatanya enak itu."
__ADS_1
Dini tersenyum, lalu menyiapkan nasi goreng itu untuk majikannya.
"Kamu nggak makan, Din?" tanya Ibu Zaenab.
"Nggak, Bu. Dini nggak lapar." Dini tersenyum.
"Sayang sekali Din. Padahal nasi gorengmu ini enak sekali loh. War kamu mau nggak? Ber bagian ya sama aku."
"Nda usah Nya. Saya kan mau diet, Nya." Bi Warti terkekeh.
"Hah?! Diet, nagapin diet."
"Ya, saya kan pengen punya badan bagus kek mbak Dini. Kali aja masih ada yang mau sama saya, ya kan Mbak Din?" Bi Warti kembali tertawa lirih.
"Astaga, Warti. sebaiknya kau jangan menikah. Siapa yang mau nemenin aku ngobrol kalo malam. Astaga kau ini, tua tua keladi. Sudahlah, mana nasi gorengnya Din?" ucap Bu Zaenab sedikit kesal dengan asisten yang sudah lama bekerja padanya itu.
Warti tersenyum. Sedangkan Dini kembali bekerja dan mengambilkan sepiring nasi goreng untuk majikannya.
"Makasih, Bu, kalo suka. Emmm, sebelumnya Dini minta maaf. Dini nggak bisa lama-lama di sini, takut adek bangun."
"Oh, ya udah. Kamu balik ke kamar aja. Biar nanti Warti yang rapiin ini. Nggak pa-pa kan War?" ucap Ibu Zaenab.
"Nggak pa-pa, Nya. Saya ma selalu siap." jawab Bi Warti sembari tersenyum senang.
Dini melangkah meninggalkan meja makan dan kembali ke kamar Almera. Tentu saja untuk menjaga bocah cilik itu.
Di meja makan...
"Evan, mama tau ini buka kebiasaanmu. Apa ini salah satu bentuk kemodusanmu?" tanya Ibu Zaenab.
"Jangan suka suudzon, Ma. Nanti asam lambung mama bisa naik," jawab Evan santai.
__ADS_1
"Kamu jangan mengalihkan pembicaraan Evan. Mama tau betul gimana kamu!"
"Masak? Indah sekali kalo begitu. Udahlah, Ma.. jangan ngedrama denganku. Waktu mama tinggal besok malam. Kalo mama gagal, maka Evan akan berkemas dan jangan pernah berharap mama bisa bertemu lagi dengan Evan. Bisa di pahami kan?" jawab Evan seraya meneguk air putih yang telah di siapkan Dini untuk nya. Lalu beranjak dari tempat duduk dan ninggal kan ibunya yang terlihat kesal atas semua tekanan yang ia berikan.
"Dasar bocah laknat, berani sekali dia mengancam ibunya. Lihat saja nanti, dia pikir ibunya ini bodoh apa?" ucap Ibu Zaenab kesal.
"War, cepat kau masukkan ini ke dalam minuman Dini. Yang ini kau taruh di minuman Evan," ucap Ibu Zaenab sembari menyerahkan dua bungkus bubuk aneh yang tidak Warti ketahui apa isinya.
"Ini apa, Yah?" tanya Warti takut.
"Hanya obat tidur. Kau tak perlu takut begitu. Oiya, jangan lupa besok pagi kita siapkan tenanga buat grebek mereka. Oke!" ucap Bu Zaenab.
"Oh, oke-oke, siap, Nya!"
"Ingat, pastikan Dini meminun air itu. Sedangkan Evan, biar anak itu aku yang pastikan. Oke!"
"Siap, Nya. Laksanakan!" jawab Bi Warti seraya menyiapkan sebotol air mineral untuk ia berikan ke pada Dini. Dan segelaa air putih untuk Evan. Lalu segera mengantarkan air tersebut pada dua target tersebut.
"Belum tidur, Din?" tanya Bi Warti sembari menyerahkan botol air itu pada Dini.
"Ya ampun, Bibi.. manis sekali. Tau aja kalo Dini haus," ucap Dini seraya menerima bogo itu dari Warti.
"Ish... Bibi tau kalo kamu suka minum kalo malam. Ya udah minum aja kalo aus. Bibi ke kamar ya. Semoga kamu nyaman tidur di sini," ucap Bi Warti seraya beranjak dari ranjang Dini.
"Siap, Bi... makasih banyak ya!" tanpa curiga, Dini pun segera meminum air yang di bawakan oleh Warti untuknya. Warti tersenyum senang karena pekerjaannya berjalan mudah, tanpa ada halangan sedikit pun.
Sedangkan di lain pihak, Ibu Zaenab pun berhasil membuat Evan meminum air itu.
Dan sekarang mereka berdua sedang duduk sambil menunggu reaksi obat yang mereka berikan pada kedua target.
Bersambung...
__ADS_1