Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Perhatian Tuan Misterius


__ADS_3

Di sebuah gudang kosong...


Beberapa preman itu mendorong tubuh kurus Sella tepat di depan Robin yang saat ini sedang duduk santai, penuh percaya diri di kursi kebesarannya.


"Brengsek!" pekik Sella parah pada beberapa pria yang mendorongnya.


Sedangkan Robin, pria yang pernah mencintainya itu malah tersenyum senang.


"Apa kabar, Sayang? Duh, makin cantik aja kamu setelah jadi gelandangan!" ledek Robin sembari mencengkram kuat kedua pipi Sella.


Kini, Sella paham, Sella yakin jika apa yang terjadi padanya pasti ada hubungannya dengan Robin.


"Kenapa kamu menatapku sesinis itu? Apa yang kamu pikirkan ha?" tanya Robin, masih dengan nada meledek.


"Lepaskan aku, Brengsek!" umpat Robin kesal.


"Melepaskanmu?" Robin dan gengnya tertawa. Tertawa terbahak-bahak. Menertawakan ekpresi malah seorang Sella.


Namun, Sella adalah wanita tangguh. Ia tak mudah gentar hanya karena tawa dan gertakan orang-orang bodoh itu.


"Ayolah, Sayang. Jangan buru-buru begitu. Kita nikmati pertemuan kita ini, hemmm! Setidaknya, berilah mereka kenang-kenangan!" jawab Robin sembari memberi kode pada teman-temannya untuk menikmati tubuh Sella.


Lagi-lagi Sella bergeming. Tak menunjukkan ekspresi takut sedikit pun. Membuat Robin semakin marah.


Beberapa teman Robin mulai meraba tubuh Sella. Bahkan ada yang mencium paksa bibir Sella. Namun, tatapan mata Sella tidak lepas dari Robin. Yang saat ini sedang memerhatikan dirinya dengan tatapan penuh emosi.


Meskipun Robin duduk santai. Seolah-olah menikmati tontonan gratis itu. Namun, Sella yakin, Robin tidak akan kuat melihat tubuhnya dinikmati orang lain. Seperti dulu. Seperti ketika mereka masih berpacaran.


Dan benar saja, ketika salah satu temannya membuka bra Sella dan mulai menikmati apa yang tersembunyi di sana, Robin langsung menarik pria itu dan memukulnya.

__ADS_1


"Pergi kalian! Biar aku yang kasih pelajaran pada pelacur brengsek ini!" teriak Robin marah.


"Ah, sial!" umpat mereka sembari merapikan baju mereka lagi.


Sedangkan Sella, wanita ini tersenyum puas dalam hati. Nyatanya ia begitu mudah menang. Hanya dengan tatapan maut miliknya, sanggup membuat Robin kalah. Kalah telak, sampai tak berkutik.


"Brengsek! Kenapa kamu tidak menagis ha?" tanya Robin, sembari menutup tubuh kekasihnya itu dengan jaket kumal miliknya.


"Untuk apa? Bukankah ini adalah tugas ku ha? Sebagai pemuas nafsu binatang buas seperti kalian?" jawab Sella, berani.


Jawaban saklak yang mampu membuat hati Robin terkoyak.


"Semapai kapan kamu akan semurah ini Sella?" tanya Robin.


"Apa wanita seperti ku masih memiliki harga?" balas Sella.


"Di mataku, iya. Tapi kamu jahat Sella. Kamu menipuku?"


"Apa maksudmu?" tanya Robin, bingung.


"Kamu pikir, aku sengaja terjun ke dunia biadap ini! Heh... ini semua terjadi karena kalian pria-pria bangsat yang tak punya hati. Taunya menang sendiri. Aku juga korban seperti istrimu, Dini. Awalnya aku juga wanita seperti itu Robin. Lembut, manis dan percaya bahwa cinta itu ada. Tapi lihat, apa yang aku dapat. Sebuah penghianatan. Hartaku dikuras habis demi menyalurkan hasrat bodohnya. Dia menjual ku pada mucikari. Beruntung istrimu masih bisa lolos dari Deon si tua bangka bangsat itu. Coba bayangkan jika dia terjebak sepertiku. Apa yang kamu pikirkan tentang itu? Tidaklah dia akan melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan sekarang ha?" jawab Sella lantang.


Robin tak berkutik. Nyatanya pria tak berotak seperti dirinyalah yang banyak menghancurkan wanita-wanita seperti Sella.


"Kenapa diam? sadar sekarang kenapa wanita lembut sepertiku bisa berubah menjadi ular berbisa? Ingat Robin, hidup ini hukum tanam tuai sangat berlaku. Apapun yang kamu lakukan pada istrimu, maka pasti ada balasan untukmu. Aku tidak masalah kalo Seandainya kamu menyuruh teman-temanmu menikmati tubuhku, tapi ingat suatu hari nanti kamu akan menangis ketika tubuh wanita yang kamu cintai dinikmati oleh pria lain. Bukan aku yang akan membalas apa yang kamu lakukan padaku, tapi alam, alam yang akan membalasnya." Sella tersenyum sinis pada Robin.


"Sebaiknya kau diam sebelum aku membungkam mulutmu untuk selama-lamanya," ancam Robin.


"Kenapa kamu hanya menggertak? Bukankah lebih baik kau lakukan saja. Aku pun sudah lelah menghadapi dengan dunia ini," jawab Sella, tegas.

__ADS_1


Robin tak sanggup lagi berdebat dengan Sella.


Tak ingin terlihat lemah, Robin meninggalkan wanita itu sendiri dalam keadaan tangan masih terikat.


***


Berbeda dengan Robin yang belum bisa move on dari masa lalunya. Dini memilih mengabaikan orang yang menjadi pengagum rahasianya.


Meskipun orang tersebut tidak lagi munjukkan wujud aslinya lagi. Tapi perhatian pria itu terus saja datang mengalir tanpa henti.


Seperti hari ini, tanpa ada angin tanpa ada hujan, pria misterius itu kembali mengiriminya paket berisi makan siang.


"Kakak Dini.... ada paket," ucap Salsa seraya membawa satu kantong plastik berisi kotak makan.


"Dari?" tanya Dini, sembari menatap aneh pada Salsa.


"Eiit, jangan marah gitu dong sama Salsa yang baik hati dan tidak sombong ini. Salsa kan hanya menerima, nah... " ucap gadis itu seraya menyerahkan kantong plastik tersebut.


"Dari siapa lagi sih? perasaan dikirim makanan terus. Yang tadi pagi aja belum ku makan. Kenapa sekarang ada lagi. Ni orang bene-bener. Pokoknya ntar kalo ada paket makan lagi, kasih kurirnya aja. Biar di makan ama kurirnya. Dia kira perutku ini karet apa?" ucap Dini marah.


"Entah, mungkin pengagum rahasiamu itu tak tahu, kalo Kak Dini sedang diet," jawab Salsa asal.


"Sudah, diam ah! Aku malah bercanda. Bawa aja itu, buat kamu. Kalo nggak bawa pulang aja kasih adikmu. Astaga! Ada-ada saja," jawab Dini seraya melangkah meninggalkan Salsa yang masih melongo. Tak menyangka bahwa Dini malah marah padanya. Padahal dirinya tak tahu apa-apa.


"Apa yang salah denganku?" tanya Salsa dengan dirinya sendiri.


Bersambung...


Sambil nunggu emak up, kalian bisa kepoin karya emak yang lain yes😍😍😍

__ADS_1



__ADS_2