
Anak buah Deon berhasil menangkap Robin. Tak ada istilah selamat baginya jika begini. Robin babak belur dihajar oleh anak buah pria rentenir itu. Bahkan pria itu sampai tak sanggup berdiri.
"Katakan padaku, di mana kau sembunyikan istrimu?" tanya Deon emosi.
"Ampuni saya, Tuan! Dia... dia.. dia sekarang kerja di kota," jawab Robin, ketakutan.
"Kasih alamatnya ke kami atau kamu akan merasakan akibatnya!" ancam pria kejam itu.
Tak tahan dengan siksaan yang dilakukan anak buah Deon, Robin pun akhirnya memberikan alamat dan nomer telepon milik Dini.
Deon tertawa senang. Akhirnya dia bisa menikmati kecantikan dan kemolekan tubuh wanita itu.
"Cepat jemput wanita itu dan bawa ke hotel. Aku sudah tak sabar ingin menikmatinya" pinta Deon.
Perintah sudah diturunkan, maka tak ada alasan bagi anak buah Deon untuk menunggu. Saat itu juga mereka segera meluncur ke kota untuk menjemput Dini.
Robin merintih mencoba melarang. Namun, rintihan itu tak sampai di telinga Deon. Justru rintihan permohonan itu malah dibalas dengan tendangan dasyat anak buah Deon. Sehingga Robin kembali terkapar tak sadarkan diri.
***
Di sisi lain, Dini tersenyum senang saat mendapat pesan dari sang suami. Pesan itu mengatakan bahwa saat ini Robin berada di salah satu hotel di dekat tempat tinggalnya sekarang.
Di dalam pesan teks itu, Robin mengatakan bahwa saat ini ia bekerja sebagai cleaning servis di hotel tersebut. Di dalam teks itu juga ia juga meminta Dini untuk ke sana, untuk mengambil gaji pertamanya.
Dini sama sekali tidak berpikir bahwa itu adalah jebakan. Yang Dini pikirkan saat ini adalah dia bisa bertemu dengan pria itu dan meminta penjelasan atas apa yang terjadi pada mereka saat ini. Termasuk tagihan bank yang nilainya fantastis itu.
Tak menunggu waktu lagi, Dini pun segera meminta izin pada majikannya untuk menemui sang suami. Beruntung Dini di kasih waktu lima jam untuk pergi.
Tanpa bepikir macam-macam, wanita ini pun segera bersiap. Berharap keputusannya ini tidak salah.
Sepuluh menit berlalu, Dini pun sudah siap. Gojek yang udah ia pesan online juga sudah menunggunya di depan rumah.
Sayangnya, baru lima menit mereka keluar dari perumahan. Motor yang ditumpangi Dini di cegat oleh mobil berwarna hitam.
__ADS_1
Di sini, Dini ketakutan luar biasa. Terlebih orang-orang yang keluar dari mobil tersebut terlihat sangat garang.
Dini mencengkram sisi motor kuat-kuat. Namun hal itu sama sekali tak menolongnya.
Tanpa banyak bicara, segerombolan orang-orang itu pun langsung menarik tangannya dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Siapa kalian? Siapa kalian? Kenapa kalian membawaku? Apa salahku?" teriak Dini, meronta mencoba melepaskan diri.
"Diam kamu! Ikuti saja perintah kami!" bentak salah satu dari mereka.
"Tidak, lepaskan!" teriak Dini.
Tak ingin repot dengan perlawanan Dini. Seseorang yang ada di dalam mobil tersebut pun langsung membekap Dini. Dengan obat bius tentunya. Seketika, Dini pun melepas dan akhirnya pingsan.
***
Deon tertawa senang, akhirnya penantiannya selama ini akan menjadi kenyataan. Menikmati tubuh seorang wanita yang menurutnya sangat cantik dan menggairahkan.
Semangat juang Deon langsung berkobar membara. Bagaimana tidak? Sesuatu yang ia nanti ada di depan mata.
"Astaga! Kamu cantik sekali. Bercerai lah dengan suamimu. Jadilah istriku," ucap Deon, sembari meraba paha mulus Dini. Bukan hanya merapat, pria ini juga mencium gemas bibir Dini.
Dini tersadar. Matanya langsung membuka lebar. Betapa terkejutnya dia ketika melihat ada seorang pria menindihnya.
Spontan, wanita cantik ini pun memberontak. Menendang tubuh Deon sekuat tenaga. Beruntung ia bisa melepaskan diri dari cengkraman Deon.
"Siapa kamu?!" teriak Dini sembari menarik selimut dan menutupi tubuh setengah telanjangnya.
"Aduh, Sayang. Kenapa kamu terkejut begitu? Emang suamimu nggak bilang kalo kamu udah dijadikan jaminan atas hutangnya padaku?" tanya Deon santai.
"Tidak! ini tidak benar. Aku tidak tau apa-apa!" teriak Dini marah.
"Astaga! Benarkah? Dia nggak kasih tau kamu ya, kalo dia hobi judi. Sayang, ayolah... suamimu itu memiliki banyak hutang padaku dan aku senang dia nggak bisa bayar. Nyatanya, istrinya lebih menggiurkan di banding yang itu sendiri," ucap Deon.
__ADS_1
Tak ayal, Dini pun shock. Dia tahu jika suaminya hobi judi, hobi main perempuan. Hanya saja dia tidak menyangka bahwa dirinya dijadikan jaminan atas hutang-hutang itu.
Dini menangis. Menangis marah. Ternyata suaminya bukan hanya bajingan tetapi juga bangsat. Sebangsat-bangsatnya manusia.
Dini berjanji, setelah ini, ia akan mencari pria itu dan menuntut balas atas apa yang telah dia lakukan. Dini berjanji...
"Sudahlah, Sayang! Jangan pura-pura terkejut begitu! Mana mungkin seorang istri tidak tau kebiasaan suaminya. Kamu nggak usah coba-coba menipuku!"
"Aku nggak nipu, Pak. Aku sungguh nggak tau. Aku ngak tau kalo pria bangsat itu ternyata penipu," jawab Dini sembari menangis tersedu.
"Ahhhh... sebaiknya kamu nggak usah pikirin dia. Nanti aku bantu cari dia. Mintalah cerai darinya dan jadilah istriku. Percayalah, aku akan memperlakukanmu seperti ratu. Yuk sini, kita nikmati waktu kita. Nggak usah takut, Om akan pelan-pelan, oke!" rayu Deon.
"Kau gila! Kau sama pun sama dengan pria biadab itu. Sampai matipun aku nggak akan menyerahkan diriku padamu!" teriak Dini, melawan.
Deon tersenyum senang. Ternyata Dini terlihat lebih menggoda baginya ketika marah. Membuat Deon semakin bernafsu.
"Duh, Sayang ... taukah kamu, kamu telihat sangat manis ketika marah. Uhhh.. jadi nggak sabar pengen segera menikmati tubuhmu!"
Dini tak membalas ucapan menjijikkan itu. Percuma, semakin pria bajingan itu diladeni, semakin membuatnya gila.
Dini menangis, tak habis pikir dengan perlakuan Robin padanya. Ingin menangis, ingin memaki, ingin marah, namun tak bisa. Apa lagi di sini nasibnya sedang di ujung tanduk.
Melihat Dini bengong karena shock, Deon pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tangan Dini. Membawa wanita itu ke ranjang.
Dini yang belum siap, tentu saja langsung ambruk. Namun, pikiran takutnya membuat wanita ini semangat melawan.
"Jangan... lepaskan... jangan!" teriak Dini.
Sayangnya Deon yang keburu nafsu, langsung bersemangat menindih wanita cantik itu.
Dini tak mau kalah. Dengan sekuat tenaga, ia pun menendang ******** Deon. Deon meringkuk kesakitan. Kesempatan itu pun digunakan Dini untuk mendorong Deon.
Tak ingin kembali tertangkap oleh Deon, Dini pun segera berlari keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Beruntung di depan kamar tersebut tak ada yang menjaga. Dengan sisa tenaga yang ia miliki Dini pun segera berlari meninggalkan kamar itu.
Bersambung...