Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Tak ada pilihan lain


__ADS_3

"Bu... Dini mohon.. izinkan Dini membuktikan kalo Dini dan Mas Evan tidak ada hubungan apapun selain majikan dan pembantu. Sungguh, Bu. Tanya saja sama mas Evan, Bu. Iya kan, Mas?" ucap Dini sembari bersimpuh di kaki Zaenab.


"Apa lagi yang harus aku percaya, Din. Semua bukti sudah ada. Kalian tidur bersama. Entah apa yang kalian lakukan semalam. Aku pun tak tau. Belum lagi kalian juga pacaran di meja makan semalam. Pakek masakin putraku nasi goreng segala. Coba pikir, Warti ada, ketiga mbak juga ada, lalu kenapa Evan milih kamu. Berarti kalian kan ada hati. Ayolah Dini, mengakulah. Jangan memperkeruh suasana," balas Bu Zaenab tak mau kalah.


"Tapi sungguh, Bu. Dini nggak ada rasa sama ma Evan. Dini juga nggak punya niat untuk menikah. Apa lagi dengan mas Evan. Dini nggak ingin menikah dengan siapapun. Dini di sini tulus cuma mau jagain dek Almera. Dini nggak ada niat lain, Bu. Demi Tuhan!" jawab Dini memohon.


"Tidak, Din. Kalian sudah berbuat zina di mataku. Maka sebelum kamu hamil di luar nikah, sebaiknya kalian menikah. Ini lebih baik dari pada kamu hamil duluan. Mua ditarih di mana muka ibu," balas Ibu Zaenab.


"Ya Tuhan, Bu. Dini bukan wanita seperti itu." Dini menangis. Sedangkan Evan malah santai. Karena ia tau jika ini hanyalah rekayasa ibunya.


"Mas Evan.. kenapa masnya diam saja. Bantuin Dini ngejelasin semuanya. Mass... ih!" ucap Dini sembari memukul kesal paha Evan. Sehingga pria ini mengaduh kesakitan.


"Iya, Ma. Evan dan Dini, kami nggak ada hubungan seperti yang kalian curigai. Ini hanya salah paham kok, seriusan deh. Ya kan Din?" tambah Evan.


"Kau pikir mama percaya dengan wajah polosmu itu hem? Tidak Evan, kamu jangan nakal. Kamu sudah berbuat mama malu. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan. Mama nggak pernah ngajarin kamu buat lari dari tanggung jawab. Ingat itu!"


"Tapi, Ma.. Dini sama Evan memang tidak melakukan apapun. Bagaimana Evan harus bertanggungjawab. Mama ini aneh-aneh saja." Evan menatap kesal pada ibunya.

__ADS_1


"Yang dibilang Ibu nyonya benar tuan muda, tuan muda kan udah anuin mbak Dini. Kasihan Tuan kalo nggak di nikahin. Bener kan mbak War?" ucap Mukidi, mengompori.


"Anuin apa sih? Aku nggak senakal itu tau!" gerutu Evan kesal.


"Bener Kidi, mbok ya jangan begitu Tuan Muda, kasihan mbak Dini. Kalo hamil gimana? Sudahlah, sebaiknya kalian memang menikah. Nanti gituan ya kan jadi halal. Nggak perlu nyuri-nyuri kek tadi," balas Bi Warti.


"Bi Warti apaan sih? Aku sama Dini nggak nglakuin seperti yang kalian pikirkan. Astaga! udah Din, jangan nangis lagi. Aku bakalan tanggung jawab kok," ucap Evan.


"Maksudnya?" Dini menatap Evan penuh tanya.


"Kita nikah. Oke!"


"Terus gimana? Dari pada kita dilaporin ke polisi gara-gara Zina. Kamu mau?"


"Nggak!"


"Jadi kamu punya solusi nggak selain kita nikah?"

__ADS_1


Dini diam. Karena sejatinya, ia juga tak punya pilihan untuk itu.


"Jadi gimana? Kalian milih menikah atau kita selesaikan kasus ini ke meja hijau?" tanya Ibu Zaenab serius.


"Gimana Din?" tanya Evan.


"Entahlah, Mas. Dini pusing."


"Gimana, Van? Kamu mau bertanggungjawab atas perbuatanmu?" tanya Ibu Zaenab sekali lagi.


"Evan adalah laki-laki, Ma. Tentu saja mau," jawab Evan tegas.


"Bagus! Mama bangga sama kamu, Van. Itu baru namanya laki-laki sejati. Dini, bagaimana denganmu? Evan sudah oke. Kamu oke, atau pilih kasus ini aku laporin ke pihak berwajib?" Ibu Zaenab menatap serius ke arah Dini.


"Apakah Dini punya pilihan lain, Bu. Tapi Dini sangat tidak ikhlas dengan tuduhan ini. Dini merasa tidak melakukan apapun, Bu!" jawab Dini kesal.


"Soal itu, silakan kamu buktikan seiring berjalannya waktu. Yang penting, sebelum berita ini menyebar, Ibu mau kalian menikah dulu. Agar ibu bisa menjawab isu miring yang mungkin akan terjadi di kemudian hari. Paham!" ucap Ibu Zaenab.

__ADS_1


Dini dan Evan tidak menjawab. Mereka masih tidak rela dengan tuduhan yang mereka terima. Terlebih Dini. Dini merasa harga dirinya terinjak. Karena selama ini ia selalu berhati-hati menjaga martabatnya. Lalu, kenapa masalah ini muncul malah di saat ia merasa ia berada di tempat yang aman.


Bersambung...


__ADS_2