
Almera sudah terlelap. Dini pun memutuskan merapikan baju-baju bocah itu dan memasukkannya ke dalam lemari.
Beberapa kali Dini menghentikan pekerjaannya. Diam mematung dan melamun. Melamun memikirkan calon bayinya yang tidak bisa diselamatkan karena kecelakaan itu.
Andai bayinya itu bisa bertahan, mungkin saat ini ia tak hidup sendiri di dunia ini. Karena masih ada bayi itu.
Dini tersadar dari lamunan ketika Evan masuk ke dalam kamar Mera dan menyapanya.
"Din... ngapain bengong begitu?" tanya Evan, sedikit mengejutkan Dini.
"Ah ... nggak, Mas. Ada yang bisa Dini bantu?" tanya Dini.
"Aku lapar, Din. Maukah kamu membuatkan makan untukku. Bi Warti lagi nemenin Mami. Aku nggak ingin ganggu mereka," jawab Evan.
"Oh, oke. Sebentar Dini pasang pengaman ranjang adek dulu. Biar aman," jawab Dini sembari memasang alat pengaman berbetuk jeruji itu. Evan tak diam saja, ia pun segera membantu Dini. Agar tugas wanita cantik itu segera selesai.
"Kamu sayang ya sama dia, Din?" tanya Evan.
"Ha? ya sayang lah Mas. Masak begitu ditanya," jawab Dini sembari tersenyum manis.
"Makasih ya, Din. Kamu udah mau bantu aku jaga dia," ucap Evan.
"Sama-sama, Mas. Selama saya bisa bantu, saya pasti bantu. Mari saya buatkan makan. Masnya mau makan apa?"
"Apa ya... terserah kamu aja deh. Yang penting tidak pedas. Aku lagi nggak pengen makan pedas!" jawab Evan.
"Oke. Nasi goreng seefood mau?"
"Boleh lah, apapun Din. Yang penting bisa bikin aku kenyang."
"Minumnya air putih aja ya," tawar Dini.
__ADS_1
"Oke, nggak pa-pa. Habis itu bikinin aku kopi ya, Din. Yang kentel, gulanya dikit. Oke!"
"Siap... " jawab Dini. Kemudian ia pun mulai mencari bahan untuk membuatkan nasi goreng pesanan majikannya ini.
"Din, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Evan.
"Mau tanya apa, Mas. Bukankah mas udah tau semua tentang aku?" jawab Dini.
"Tau sih, tapi nggak semua juga. Kamu masih cinta nggak ama mantan suamimu?" tanya Evan, sembari melirik Dini.
Dini diam sesaat. Lalu ia tersenyum.
"Kok senyum. Kan aku nanya Din?"
"Kalo masnya, masih cinta nggak sama ibunya Mera?" balas Dini.
"Entah kamu percaya apa nggak! Aku dan ibunya Mera, kami hanya berteman. Bagaimana aku bisa mencintainya," jawab Evan jujur.
"Nggak ada cinta kok bisa hamil, masnya ngarang ni!" canda Dini.
Seketika Dini teringat ucapan Zaenab. Bahwa Almera memiliki dua ayah. Ayah kandung dan ayah sambung. Mungkinkah Evan adalah ayah kandung gadis cilik itu.
"Oh, oke oke Dini paham. Ya udah, sebentarnya ya Dini masak dulu nasi gorengnya. Semoga tidak mengecewakan," ucap Dini sembari melanjutkan pekerjaannya.
"Tapi kamu belum jawab pertanyaanku, Din. Kamu masih cinta nggak sama mantan suamimu?" tanya Evan.
"Cintaku terlalu berharga untuk pria bajingan sepertinya, Mas. Karena dia aku kehilangan segalanya. Rumah, tempat usahaku, harga diriku bahkan bayiku. Bagaimana bisa aku mencintai pria seperti itu," jawab Dini jujur.
Jawaban Dini sedikit membuat Evan tenang. Setidaknya perasaan Dini telah selesai dengan masa lalunya. Dari situ, Evan yakin jika ia akan lebih mudah meluluhkan hati Dini, agar bisa mencintainya. Seperti apa yang ia harapkan saat ini.
***
__ADS_1
Di kamar Ibu Zaenab...
Zaenab stres berat karena hanya di kasih waktu dua hari untuk menjadikan Dini mantunya. Mengutarakan niatnya secara langsung, rasanya tidak mungkin. Apa lagi, info yang ia dapat dari Bi Warti terdengar menyedihkan. Dini pernah trauma dengan pernikahan. Bukankah permintaannya nanti pasti akan di tolak oleh Dini.
"Gimana ya, War? Aku stres berat mikirin permintaan Evan ini. Kalo dia cinta, ngapa nggak usaha sendiri? Kenapa harus aku yang disuruh mikir," ucap Ibu Zaenab sembari memijat keningnya.
"Aduh gimana ya, Nya? Kok saya jadi ikutan pusing. Nyonya bener, kalo kita minta langsung sama Dini, rasanya pasti ditolak," jawab Warti ikutan khawatir.
"Makanya! Enaknya gimana ini?" Bu Zaenab terlihat berpikir keras.
"Nya!"
"Ya... "
"Saya ada ide, Nya! Gimana kalo kita jebak mereka saja."
"Maksudnya?"
"Yang kek di sinetron-sinetron itu loh, Nya. Dijebak tidur bareng. Lalu kita grebek. Habis itu kita paksa mereka menikah. Gimana Nya?" ucap Warti semangat.
"Ide kamu receh banget, Warti. Tapi oke juga. Terus apa mereka mau tidur bareng, ha?" tanya Zaenab lugu.
Spontan Warti pun tertawa. Ternyata majikannya ini kalo lagi stres pikirannya bisa juga oon.
"Kok malah ketawa sih kamu, War? Kalo kasih ide yang lengkap ah... bikin pusing saja," ucap Zaenab kesal.
"Habis Nyonya, lugu banget.. Pantas saja Tuan Muda suka sekali bikin Nyonya pusing. Lagian mana mau mereka tidur bareng, Nya. Namanya dijebak ya kita yang bikin seolah-olah mereka tidur bareng. Begitu!" jawab Warti.
"Caranya?"
"Kalo di sinetron tu Nya, mereka dikasih obat tidur. Habis itu mereka dibikin seolah-olah tidur bareng. Kek gitu lah, Nya, pokoknya," jawab Warti lagi.
__ADS_1
Ibu Zaenab tersenyum. Mengerti dengan penjelasan yang di sampaikan oleh Warti.
Bersambung....