
Dini berlari sekencang-kencangnya. Beberapa kali dia terjatuh. Namun Dini tidak peduli, baginya terlepas dari jeratan pria jahanam itu adalah prioritas utama.
Dini semakin kuat melajukan langkah mana kala melihat segerombolan orang mengejarnya.
Beruntung Dini menemukan sebuah jalan yang mengantarkan dirinya di keramaian. Sayangnya, tak ada satu pun di antara mereka yang mau menolong.
Dini terus berlari, tak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan aneh. Tak memperhatikan laju kendaraan di sisi kanan kiri, Dini langsung berlari hendak menyebrang jalan. Sayangnya dari sisi kanan tiba-tiba saja ada mobil yang melaju kencang.
Baik Dini maupun pengemudi tersebut sama-sama terkejut. Sang pengemudi langsung menginjak pedal rem, namun sayang terlambat. Mobilnya terlanjur menabrak Dini, hingga wanita itu terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Spontan, pengemudi itu pun langsung turun dari mobil dan menghampiri Dini.
Beruntung Dini masih sadar, sehingga ia masih sempat meminta tolong, "Tolong saya, tolong," rintihnya lirih.
Atas bantuan para orang-orang yang menjadi saksi kecelakaan tersebut, sang pengemudi itu pun langsung membawa Dini ke rumah sakit.
Darah keluar dari tangan, lengan , kaki bahkan dari ******** wanita itu. Membuat sang pengemudi gemetar.
"Tahan ya, Mbak... Mbak pasti kuat!" ucap pengemudi itu.
Tak ingin korban bertambah parah dan telat mendapatkan pertolongan, sang pengemudi pun menginjak pedal gasnya lebih dalam.
Dini merintih kesakitan. Dalam hatinya, ia pasrah. Pasrah jika mati detik ini juga. Namun, sebelum itu ia berdoa agar Tuhan memberikan keadilan seadil adilnya untuknya. Lalu menghukum Robin dengan hukuman seberat-beratnya. Dini menangis dalam hati.
***
Lita dan kedua sahabatnya yang mendapat kabar perihal kecelakaan Dini, langsung berangkat ke kota. Sebab mereka tahu, Robin tak mungkin mau peduli dengan keadaan istrinya itu.
Sesuai info yang mereka dapat, akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit di mana Dini dirawat.
Mereka sedikit terkejut, karena di ruangan itu Dini tidak sendiri. Melainkan bersama seorang pria tampan. Entah siapa itu.
"Maaf, kalian siapa?" tanya pria tersebut pada Kita dan kedua sahabatnya.
"Kami sahabat korban, Kak, eh Mas... boleh kami menemui beliau?" tanya Lita pada pria itu.
"Silakan," jawab pria berpakaian modis itu.
__ADS_1
Lita dan kedua sahabatnya mengangguk dan berterima kasih. Setelah itu mereka bertiga pun langsung melangkah menghampiri Dini.
"Din... " ucap Lita, kemudian ia pun langsung memeluk sahabatnya itu.
Dini langsung menangis. Sebab ia tak tahu harus berbuat apa.
"Sabar ya, Din. Semua pasti akan ada hikmahnya," ucap Lita, masih setia memeluk sahabatnya.
"Iya, Ta... aku bodoh sekali. Aku bodoh sekali, Ta," ucap Dini dalam isak tangisnya.
"Tidak, kamu tidak bodoh. Ini ujian buat kamu Din. Lain kali jangan gampang percaya. Heeemm!" ucap Lita memperingatkan.
"Kamu benar, Ta... harusnya aku selidiki dulu. Jangan main mau aja di ajak nikah. Ya Tuhan... trus gimana cara ku bayar utang-utang itu, Ta. Apa lagi sekarang aku nggak bisa kerja gini? ," ucap Dini sedih.
"Sabar, Din... aku dan teman-teman bakalan bantu kamu semampu kami. Yang penting saat ini, kamu harus berusaha sembuh. Bangkit. Jangan lama-lama menyesali semuanya. Nggak ada gunanya juga, kan," balas Lita, ikutan sedih.
"Iya, Ta... setelah ini aku pengen pisah saja sama penipu itu, Ta. Dia jahat sekali. Dia nggak hanya merongrong hartaku, tapi juga menjadikan aku jaminan atas hutang-hutangnya di meja judi." Tangis Dini pecah. Jiwa yang awalnya tenang. Kini kembali terguncang. Sungguh, Dini sangat benci sekali dengan Robin. Dini bersumpah tak akan lagi tertipu dengan tangis buaya pria itu.
"Astaga, Din! Kami serius?" tanya Lita, terkejut.
"Iya. Dia menjebak ku. Dia bilang sekarang kerja di hotel RK. Aku disuruh ke sana, suruh ambil gaji dia. Ternyata tidak, Ta. Aku dijebak di sana. Aku dijual sama pria bajingan itu. Aku diculik. Disuruh nglayanin rentenir tua biadab itu. Aku benci dia, Ta.. Sungguh!" ucap Dini menggebu. Karena dia memang tidak bisa terima perlakuan yang ia terima dari para pria itu.
Kini, karena sakit dan tekanan ya h ia dapat, Dini bisa berubah menjadi wanita garang penuh kebencian.
"Dia bukan hanya kejam, Ta. Tapi raja tega. Mungkin itulah iblis berwujud manusia. Sampai kapanpun aku nggak akan pernah maafin dia. Gara-gara dia, aku juga kehilangan bayiku!" ucap Dini lagi sembari meremas slimut yang menutupi perutnya. Dini marah. Sangat-sangat marah.
"Ya Tuhan, Din... maafkan aku. Tapi aku ikut menyesal. Aku ikut berduka, Din. Ya Tuhan... sabar ya, Din... yang sabar," ucap Lita, sampai tak mampu lagi berkata-kata. Bahkan kedua sahabat mereka yang lain hanya memeluk dan meminta Dini bersabar. Semoga Dini bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi dari ini.
"Bohong jika kalo aku tidak benci pria itu, Ta. Aku nggak akan maafin dia, sumpah!" ucap Dini lagi.
"Sabar, Din... sabar ya... kita akan selalu ada untuk kamu. Percayalah!" ucap Lita lagi.
Suasana kembali terasa sendu. Lita dan kedua sahabatnya terus berjuang membuat Dini tenang. Menghibur sahabatnya itu.
"Maaf, Din... apakah kamu tidak punya niat buat bikin laporan ke pihak berwajib?" tanya Lita, ketika Dini mulai tenang.
"Sudah, Ta... bapak yang nabrak aku udah bantu aku ngurus masalah ini. Bahkan beliau juga bantu aku nyari Hpku. Semoga saja bisa ketemu. Soalnya bukti chat antara aku sama pria jahat itu nyata dan jelas, kalo dia udah jebak aku," jawab Dini.
__ADS_1
"Ohhh, baguslah. Emmm, bapak yang nabrak kamu itu yang lagi duduk di sofa?" tanya Lita, kali ini sedikit berbisik.
"Bukan.Yang itu temen atau asistennya. Aku nggak tau."
"Ohhh... semoga dengan bantuan beliau, masalahmu segera usai ya, Din. Sudah jangan sedih lagi. Percayalah ada banyak hikmah di balik setiap setiap masalah. Yang penting kita tawakal, kita ikhlas, Din," ucap Lita lagi.
"He em! Insya Allah. Hanya saja aku sedih, Ta. Aku gagal jadi ibu. Bayiku nggak selamat, Ta." Dini kembali menatap nanar pada sahabatnya ini.
"Sabar, Din. Mungkin belum rezeki. Allah tau yang terbaik buat dia. Percayalah.... heemm!" tambah Lita.
Emosi Dini berangsur mereda. Sedikit demi sedikit Dini mulai tenang. Di detik berikutnya, Dini teringat sesuatu. "Ta, boleh nggak aku minta tolong?" tanya Dini.
"Boleh, apa tu?"
"Kamu tau kan? Aku nggak ada uang buat bayar rumah sakit. Tapi aku masih nyimpen uang mahat dari pria itu. Tolong kamu bongkar aja yang dibingkai itu. Lumayan kan, Ta, bisa aku manfaatin," ucap Dini.
"Oh, itu... iya deh, nanti aku coba ke rumah kamu. Kunci kamu taroh di mana?"
"Di bi Minah ada, kan soal bersih-bersih aku pasrah beliau."
"Oke, nanti aku ke rumah kamu. Ada lagi yang mesti aku periksa di rumah nggak?"
"Nggak, Ta... aku udah nggak punya apa-apa. Semoga saja aku bisa nglunasi tunggakkan utang itu tepat waktu. Biar nggak rumah ibu bapakku nggak kena sita bank," ucap Dini.
"Aamiin.. kamu jangan terlalu keras berpikir. Nanti kami coba bantu. Oke!"
Dini tersenyum. Setidaknya di balik musibah yang ia dapatkan. Masih ada orang-orang yang peduli padanya.
***
Di lain pihak, Deon dan anak buahnya kalang kabut karena saat ini mereka menjadi buronan polisi. Atas kasus penipuan, perdagangan manusia dan juga judi.
Pria yang menabrak Dini ternyata bukan orang biasa. Nyatanya beliau bisa menggerakkan aparat secepat kilat. Tanpa harus melewati proses yang bertele-tele.
Semoga ini adalah awal keberuntungan Dini.
Bersambung...
__ADS_1
Sambil nunggu Dini update.. kalian bisa mampir ke karya emak yang lain. Yang suka Om Duda tajir bisa main ke sini... Stay tune😍