
Dini sampai di tempat kerjanya lagi. Namun, banyangan wajah Evan sangat menganggu. Rasa penasaran tentang pria itu kini menyeruak di dalam hatinya. Membuat Dini bertanya pada Salsa.
"Sa... sini deh!" ucap Dini.
"Iya Kak, ada apa?" Salsa meletakkan peralatan kerjanya. Lalu mendekati Dini yang terlihat gelisah.
"Kamu ingat nggak sama mas-mas, eh koko-koko, eh bukan! Pokoknya pria yang kasih belanjannya ke aku," ucap Dini.
"Ya, aku ingat. Kenapa?" tanya Salsa.
"Dia, si pria itu... ternyata tinggal di apartemen ini, Sa!" jawab Dini.
Salsa melirik kesal. Ya jelas dia tinggal di sini. Kalau tidak, mana mungkin tu bapak-bapak bisa masuk minimarket ini. Lagian ngapain coba, masuk ke sini cuma beli barang, terus kasih ke kasirnya pula.
"Kok kamu diam, Sa. Aku serius!" ucap Dini, takut.
"Kak, gini ya. Logikanya, kalo dia nggak tinggal di apartemen ini, mana bisa dia belanja di minimarket ini," jawab Salsa.
"Bisa saja dia tamu," sanggah Dini.
"Aelah, Kak. Masa tamu nyempet-nyempetin belanja. Buat apa? Apa lagi dengan penampilan segagah itu. Ah, pokoknya menurut Salsa mustahil lah. Dia pasti penghuni sini dan memang sedang mengincar Kakak. Udah itu kenyataan yang nggak bisa diganggu gugat. Ngerti sekarang!" balas Salsa tak mau kalah.
Dini cemberut. Tapi dia paham dengan maksud sahabatnya itu.
"Ya, baiklah. Tapi Sa... " ucap Dini lagi.
"Apa lagi?"
"Kamu tau nggak?"
"Nggak?"
"Ihhh... aku serius!"
"Iya, tau apa, Kakak Dini. Tau apa?"
"Dia itu ternyata, bapaknya Almera!" ucap Dini.
"What?" pekik Salsa, terkejut.
"Ih, kaget aku!" Dini mengelus dadanya.
__ADS_1
"Jadi?" Salsa menunjuk ke atas.
"Ya, jadi tu mas-masa, bapaknya di Almera. Gadis cilik itu."
"Jadi, si mas itu anaknya si nyonya tadi? Atau mantunya?" tanya Salsa kepo.
"Anaknya. Kalo mantunya udah meninggal waktu nglahirin Almera."
"Oh, jadi si mas itu duda."
"Ya, begitulah."
"Ya nggak pa-pa kalo gitu, Kak. Kalian sama-sama singel ini. Duda ketemu janda, udah pas. Gas!" ucap Salsa.
"Hussst.. apaan sih? Mana bisa, kalo aku sama dia... ibarat bumi sama langit. Jauuuhhhh bestie. Susah ketemunya. Lagian aku ogah nikah. No... dah sebaiknya aku balik kerja, bye! Dari pada mikirin yang nggak-nggak kan. Bisa tambah kurus aku, " jawab Dini, seraya melangkah mendekati meja kasir.
Namun ketika ia sampai di meja kasir, Evan datang dengan wajah datarnya.
"Din... "
Dini dan Salsa langsung menatap seseorang yang memanggil Dini. Mereka berdua menatap pria itu. Diam terpaku.
"Din, mama panggil. Kamu disuruh naik," ucap Evan.
"Entah... pokoknya kamu suruh naik. Udah gitu aja," jawab Evan seraya membalikkan tubuh hendak melangkah pergi.
Sungguh pria aneh dan memiliki perangai yang menjengkelkan dan susah ditebak.
Tak ingin membuat Ibu Zaenab kecewa, Dini pun langsung berpamitan dengan teman-temannya untuk pergi ke tempat wanita yang memanggilnya itu. Beruntung, Lida sudah datang. Sehingga Dini bisa meninggalkan meja kasir itu untuk sementara waktu.
Dini melangkah mengikuti langkah kaki Evan. Postur tubuh Dini yang mungil, dibandingkan postur tubuh Evan yang memiliki tinggi hampir 190cm itu, membuat Dini kewalahan mengimbangi langkah pria itu.
"Kenapa kamu lamban sekali?" tanya Evan ketika membalikkan tubuh, dan Dini masih berada jauh darinya.
"Maaf, Mas... kita kan beda ukuran. Ya wajar kalo langkah kaki saya lamban," jawab Dini, asal.
"Ck, bisa saja kamu jawab. Dah masuk... " ucap Evan seraya menahan tombol open pada lift.
Dini berlari kecil, lalu ia pun segera melangkah masuk ke dalam lift.
"Em, Mas... kira-kira, ibu panggil saya ada apa ya?" tanya Dini.
__ADS_1
"Mana ku tau!" jawab Evan ketus. Lebih tepatnya ia tak mau mengatakan tujuan ibunya memanggil Dini.
"Oh, kirain karena Dek Almera bangun. Lalu rewel," tebak Dini.
"Nggak, Mera masih tidur kok. Mama cuma mau ngobrol saja sama kamu," jawab Evan, sedikit menyunggingkan senyum. Senang saja, karena ia tak perlu repot-repot mengatur strategi lagi untuk mendekati Dini.
Kini mereka sudah saling kenal, tanpa dirinya harus bersusah payah mencari akal untuk itu.
Di dalam apartemen milik Evan.
"Ada apa, Bu? Ada yang bisa Dini bantu?"
"Sini Din, sini... duduk sini," ajak Zaenab seraya menebuk sofa yang ia duduki.
Dini langsung menghampiri wanita paruh baya ituitu dan duduk di sebelahnya. Sedangkan Evan masuk ke kamar. Sengaja tak ingin mendengarkan perbincangan mereka secara langsung. Tapi mendengarkan lewat CCTV yang ia pasang di ruangan tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Dini lagi.
"Kamu percaya padaku kan, Din?"
"Percaya, Bu. Insya Allah!" jawab Dini.
"Jadi gini, Din? Ayahnya Mera mau merawat putrinya sendiri kalau ada yang bantu momong. Soalnya dia kan kerja. Nggak bisa ngawasi 24 jam. Dia juga mau pulang, tinggal bareng ibu lagi, asalkan kamu yang bantu jaga. Soalnya kalo sama yang lain rewel, Din. Evan pusing katanya," ucap Zaenab lagi.
Fix ... Evan Modus.
"Harus saya ya, Bu? nanti kalo babysitternya balik gimana?" tanya Dini, lugu.
"Itu biar jadi urusan ibu. Yang penting kamu mau kan bantu ibu jagain Almera?" Zaenab menatap penuh harap.
"Bagaimana ya, Bu? Saya belum ngomong sama bos saya. Saya sih mau, nggak masalah mau kerja apapun. Coba saya ngomong deh!" ucap Dini.
Di dalam kamar, ternyata dia udah curi start. Mengancam Bian, agar Bian mau merayu kekasihnya agar mengizinkan Dini bekerja padanya. Dasar Evan, suka sekali main dalam.
"Oke, Din. Ibu tunggu keputusanmu sore ini. Kalo iya, nanti Evan antar kamu pulang dan ambil barang-barang kamu. Gimana?"
"Boleh, Bu. Nggak pa-pa."
"Makasih banyak, Din!" ucap Zaenab sembari memeluk Dini bahagia. Akhirnya Dini bisa membantunya membawa Evan kembali pulang. Bukan hanya itu, Dini juga berjasa membantunya menjaga Almera.
Di dalam kamar, tampak Evan berjingkrak. Pria berusia 29 tahun itu nambah semringah. Sang kekasih hati akan dia lihat setiap hari. Bahkan saat bangun dan pergi tidur. Evan modus!
__ADS_1
Bersambung...