
Kembalinya Evan ke rumah, tidak serta merta membuat Ibu Zaenab merasa lega. Nyatanya ia terganggu dengan keinginan putranya itu untuk membujuk Dini agar mau menjadi istrinya.
Warti, salah satu pelayan di rumahnya yang sudah ikut cukup lama, jadi kasihan melihat majikannya terus melamun.
"Ada masalah, Nya?" tanya Warti ketika menyuguhkan secangkir teh untuk ibu Zaenab.
"Iya, War... aku lagi pusing mikirin si Evan," jawab Ibu Zaenab.
"Tuan muda Evan? Emang ada apa dengan beliau, Nya? Kan udah mau pulang. Apa lagi yang bikin Nyonya sedih. Beliau bertengkar lagi dengan abangnya?" tanya Warti.
"Ndak... ndak itu. Kamu masih ingat Dini nggak? Katanya dia pernah jagain Mera, tapi entah kapan?" jawab Ibu Zaenab.
"Oh, Dini... iya saya ingat, Nya. Dia memang pernah kerja di sini. Tapi memang cuma beberapa hari. Soalnya dengar-dengan dia kecelakaan. Kakinya retak, makanya nggak bisa kerja lagi," jawab Warti sesuai info yang ia dapat waktu itu.
"Ohhh, yang kecelakaan waktu itu namanya Dini. Jadi bener, dia pernah kerja di mari?"
"Bener, Nya. Anaknya cantik, hidungnya mancung. Tingginya segini, kulitnya putih pakek hijab, iya kan, Nya?" ucap Warti memastikan.
"Iya bener, itu anaknya."
"Kok Nyonya tiba-tiba nanyain dia? Kenapa Nya? Nyonya habis ketemu si Dini?" tanya Warti lagi.
"He em, tadi pagi nggak sengaja ketemu dia di minimarket deket apartemen Evan. Si Mera kabur, terus yang nemuin dia."
"Terus, apa hubungannya dengan tuan muda, Nya?" Warti makin penasaran.
"Hubungannya? Apa ya, aku bingung jadinya."
"Kok bingung, Nya. Tinggal bilang apa yang di mau tuan muda sama hubungannya dengan mbak Dini saja kok Nya. Jangan bingung-bingung!" jawab Warti ringan.
Padahal, andai Warti tahu, bahwa kedatangan Dini dan kepulangan Evan adalah masalah besar baginya. Mungkinkah Warti akan setenang itu.
"Aku nggak ngerti sejak kapan Evan suka sama Dini. Tiba-tiba saja dia kasih syarat ke aku."
__ADS_1
"Syarat? Syarat apa, Nya?" Warti menatap sang majikan. Merasa obrolan mereka semakin terasa seru dan panas.
"Awalnya dia mau pulang, kalo Dini mau jaga Almera. Ya udah, akhirnya aku bujuk Dini nya."
"Terus!"
"Bersyukur Dini nya mau. Ehhh, sekarang kasih syarat lagi."
"Hah? Lalu?"
"Sekarang maunya, mau tinggal di rumah, pulang tepat waktu, mau jadi ayah yang baik buat Mera, asalkan kan aku bisa bujuk Dini supaya mau menikah dengannya. Kan gila tu anak!" jawab Ibu Zaenab, bingung.
Seketika Warti pun melongo. Merasa aneh dengan permintaan itu. Lucu saja, setahu dirinya, Dini dan Evan belum pernah ketemu. Lalu, kenapa bisa Evan memberikan syarat tak masuk akal begitu.
"Tapi, Nya. Memangnya tuan muda sama Dini, ketemunya kapan ya? Kok tiba-tiba minta dia jadi istrinya? Perasaan waktu kerja di mari, Dini belum pernah ketemu Tuan deh. Kan Tuan waktu itu lagi keluar negeri. Yang habis berantem sama tuan Demian waktu itu," jawab Warti heran.
"Makanya, aneh kan? Ahhh, entahlah aku pusing sama Evan. Permintaannya selalu saja nggak masuk akal," jawab Zaenab, kesal.
"Tapi kalo Dini yang jadi mantu, Nyonya, rasanya bagus, Nya. Dia tu baik, santun dan nggak banyak bicara. Cuma lugu saja, mudah di tipu," jawab Warti, terkekeh.
"Mungkin lihat Dini sayang sama dek Mera, Nya. Dek Mera nyaman sama Dini. Jadi dari pada dia repot-repot cari wanita yang bisa jadi ibu dari putrinya. Kan mendingan yang udah ada," tebak Warti.
Ibu Zaenab menatap asisten rumah tangganya. Sepertinya apa yang di sampaikan Warti cukup masuk akal juga.
***
Di lain pihak....
Dini membawa semua barang-barang miliknya. Termasuk belanjaan yang pernah diberikan pada Evan untuknya.
"Apa ini? Kenapa barangmu banyak sekali?" tanya Evan ketika melihat Dini nenenteng beberapa tas kresek berwarna putih itu.
"Bukankah ini kerjaan anda. Anda sengaja ngerjain saya kan?" jawab Dini, ketus.
__ADS_1
"Ya nggak lah, aku kan kasih rezeki buat kamu. Masak ngerjain sih! Kamu ini suudzon sekali!" jawab Evan.
"Rezeki sih rezeki, Mas. Tapi nggak sebanyak ini juga kali. Emang siapa yang mau makan snack segini banyaknya. Anda sengaja mau bikin saya gemuk," balas Dini.
Evan tersenyum lalu membantu Dini menyusun barang-barangnya di bagasi mobil. Setelah selesai, mereka berdua pun masuk ke dalam mobil.
"Masih ada yang ketinggalan nggak?" tanya Evan.
"Ada."
"Apa?"
"Motor Dini," jawab Dini.
"Mana motornya?"
"Di apartemen."
"Oh, ya udah biarin di situ. Nanti biar sopir ku yang ambil."
"Nggak ngrepotin?" tanya Dini, lugu.
"Nggaklah, beberapa hari ini aku libur. Jadi dia nggak ada kerjaan."
"Emm. Baiklah!"
"Jadi, kita jalan sekarang?" tanya Evan.
"Boleh. Silakan!" jawab Dini.
Evan tersenyum, rasanya bahagia. Karena tanpa bersusah-payah, Dini sudah mendekat sendiri padanya. dan lucunya, Dini belum menyadari bahwa yang terjadi padanya sebenarnya adalah rencana Evan
Bersambung...
__ADS_1