Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Demi Cinta


__ADS_3

Ini adalah pertama kalinya Evan berani menunjukkan wajahnya pada Dini. Tentu saja keberaniannya ini tidak serta merta mengakui bahwa dirinya adalah pria yang selama ini menjadi pengagum rahasianya.


Demi bertemu dengan Dini, Evan sampai membeli satu unit apartemen di sana. Agar dia bisa keluar masuk ke dalam area apartemen tersebut tanpa ribet dengan tim keamanan di sana. Bukankah ini pengorbanan yang luar biasa untuk sebuah cinta.


Kini Evan sudah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh asisten pribadinya.


Bian melirik sembari menahan tawa. Jika boleh jujur, ini adalah pertama kalinya Bian melihat seorang Evan gugup menghadapi sesuatu.


"Siap, Tuan. Kita mau langsung ke lokasi atau mau ke unit dulu?" tanya Bian.


"Diam kau, terserah ku mau ke mana. Sudah turunkan saja aku di lobi. Setelah itu balik kau ke kantor. Pending semua meeting. Aku mau tidur," jawab Evan kesal.


Spontan asisten pribadinya ini pun terkekeh. Menurutnya, bosnya begitu menggemaskan ketika jatuh cinta.


"Baik, Tuan, baik... sebaiknya anda memang tidur. Sebelum jantung anda berhenti berdetak karena melihat kecantikkan sang pujaan hati. Astaga, gitu saja emosi!" canda Bian.


Evan hanya melirik sekilas asisten gilanya ini. Malas meladeni kekoyolan Bian yang nyatanya adalah benar.


Saat ini, Evan memang sedang dilanda kegugupan. Padahal belum berhadapan langsung dengan wanita itu. Bayangkan jika dia berdiri di depan wanita itu. Mungkinkah dia pingsan. Ahhh, entahlah... Evan oh Evan.


Maklum jika saat ini Evan gugup. Selama ini Evan hanya memantau Dini dari foto, video atau mungkin pesan suara yang dikirim Bian untuknya.


"Di mana letak minimarket itu? Dia udah pasti ada di sana kan?" tanya Evan.


"Ada Tuan, semua sudah aku setting sedemikian rupa. Anda tinggal masuk, sat set jangan mikir macam-macam. Ajak kenalan langsung aja kalo perlu," jawab Bian, sedikit becanda.


"Kenalan? Kenalan kepalamu!" umpat Evan.


"Ya elah, Bos! Ayolah jangan gugup gitu." Bian tersenyum.


"Kau tau aku tak pernah berhubungan dengan wanita. Menikah pun aku terpaksa. Dasar gila!" jawab Evan jujur.


Ya, usut punya usut, ternyata Evan menikahi Eviani karena gadis itu hamil oleh sang kakak yang tak mau bertanggung jawab. Dan malah menjebak Evan ke dalam permainan dustanya.


Saat itu Evan yang lugu, tentu saja langsung mau. Dia sangat malas berurusan dengan pihak berwajib. Apa lagi dengan kakaknya yang bangsat itu.


Tak ingin membuat malu keluarga, Evan pun memutuskan menikahi Eviani, yang notabene juga sahabat dari kecil.


Di samping itu, Evan juga memiliki alasan lain mau menikahi Eviani. Evan kasihan, cinta Eviani yang tak berbalas pada Demian, membuat wanita ini depresi. Beberapa kali Evan ia mencoba bunuh diri karena itu.


Atas permintaan kedua orang tua Eviani akhirnya Evan pun menikahi sahabat kecilnya itu. Sayangnya saat melahirkan putri pertama mereka, Eviani meninggal dunia.

__ADS_1


"Oke kalo gitu. Kamu balik aja sana. Aku bisa sendiri!" pinta Evan.


Bian langsung mengiyakan perintah itu. Ia tak ingin bosnya ini semakin gugup jika bersamanya. Bian tahu jika candaannya ternyata sangat berpengaruh untuk emosi bosnya.


Bian menurunkan Evan di lobi apartemen. Seusai permintaan pria itu. Bian berdoa, semoga ini adalah jalan terbaik untuk Evan dan juga Dini. Semoga mereka memang berjodoh dan bisa mengobati luka masing-masing.


Kini Evan sudah berada di depan minimarket tempat di mana Dini bekerja.


Untuk mengurangi kegugupannya, Evan pun memakai kaca mata dan masker. Setelah itu ia memantapkan kakinya masuk ke dalam minimarket tersebut.


Evan pura-pura berbelanja. Tapi matanya sering berpusat pada Dini yang terlihat sibuk melayani pembeli di meja kasir.


Senyuman Dini. Tutur ramah wanita itu. Tenyata sukses membuat Evan terpana. Membuat pria ini hanya berdiri dan terus mencuri pandang pada wanita itu.


Duhhh... gemes. Pengen rasanya Evan menarik tangan wanita itu dan membawanya ke kamarnya. Agar dia bisa menikmati kecantikan Dini. Dan hanya dirinya yang boleh.


Sayangnya, apa yang Evam lakukan malah jadi perhatian salah satu pegawai di minimarket tersebut. Sehingga membuyarkan sedikit angannya.


"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya salah satu pegawai minimarket itu.


"Oh, aku sedang mencari coklat yang enak. Ya.. coklat yang enak," jawab Evan gugup.


Evan pun menetralkan napasnya. Jujur, saat ini detak jantungnya ingin meledak. Apa lagi saat ini jarak antara dirinya dan wanita pujaan hatinya itu hanya satu meter.


Astaga, ini luar biasa, batin Evan.


"Kak Dini, Bapak ini mau coklat yang enak. Tolong di rekomendasi yang terbaik ya," pinta Gadis itu.


"Siap, Sist... silakan dipilih, Pak," ucap Dini sembari menunggu Evan memilih coklat pilihannya.


Evan yang gugup tentu saja tak memerhatika harga. Ia pun langsung mengambil lima coklat dan menaruhnya di meja kasir.


"Apa kamu suka es krim?" tanya Evan tiba-tiba.


"Apa Pak?" tanya Dini, heran.


"Aku tanya, apa kamu suka es krim?" ulang Evan.


Dini malah tersenyum. Merasa aneh dengan pertanyaan itu.


"Belanja ini saja, Pak?" Dini berusaha mengalihkan perhatian pria itu yang menurutnya aneh dan hanya main-main.

__ADS_1


"Kok malah senyum, kamu suka nggak es krim?"


"Suka, Pak," jawab Dini sekilas.


"Rasa apa?"


Dini kembali tersenyum. Ingin rasanya ia menjawab, 'Rasah bayar, Pak..' yang artinya tidak udah membayar atau gratisan.


"Coklat Vanila, saya suka, Pak!" jawab Dini.


"Oke, tunggu sebentar!" jawab Evan.


Dengan cepat Evan pun mengambilkan es krim dengan rasa yang di sebutkan oleh Dini. Tak lupa ia juga memasukkan segala macam snack, roti, susu dan beberapa makanan instan lainnya.


Dini yang melihat belanjaan pria aneh ini pun hanya melongo. Jujur, dia merasa aneh Karena baru kali ini ada pria gagah super tampan belanja aneka makanan segini banyaknya.


Apa nggak salah ni bapak-bapak, batin Dini.


"Sudah, Pak?" tanya Dini lembut.


"He em," jawab pria itu.


"Baik, tolong tunggu sebentar ya, Pak!" pinta Dini sembari meng-scan belanjaan Evan. Tanpa protes tanpa tanya, Dini langsung bekerja.


"Totalnya tiga ratus dua puluh satu ribu, Pak!" ucap Dini seraya meminta uang pria itu.


Evan segera mengeluarkan dompetnya. Lalu menyerahkan seluruh uang cash yang ada di dompetnya membuat Dini kembali merasa heran.


"Belanjaan bapak hanya tiga ratus dua puluh satu ribu, Pak. Ini kelebihan banyak. Silakan, Pak!" ucap Dini sembari menyerahkan kelebihan uang milik Evan.


"Tidak, kamu ambil saja kembaliannya. Sekalian belanjaannya juga buat kamu. Makasih banyak, ya. Permisi," ucap Evan seraya melangkah meninggalkan meja kasir.


Sedangkan Dini yang terkejut hanya tertegun tanpa kata. Hingga salah satu temannya memukul pundaknya. Barulah ia tersadar dan langsung mengejar Evan.


Sayangnya, ketika Dini sampai di depan minimarket, pria misterius itu tak terlihat lagi. Menghilang tanpa jejak, membuat Dini shock dibuatnya.


Bersambung...


Sambil nunggu Dini update, yuk kepoin karya sahabat emak😍😍😍


__ADS_1


__ADS_2