Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Candaan Menggemaskan


__ADS_3

Warti senang sekali ketika melihat Dini turun dari mobil majikannya. Senyum mengembang sempurna di bibir wanita paruh baya itu. Bersyukur sekarang ada yang membantunya meringankan pekerjaannya. Mulai hari ini, akan ada yang menjaga putri kecil di rumah kecil. Sehingga ia bisa merapikan pekerjaan yang lain.


"Assalamu'alaikum... " sapa Dini pada teman lamanya yang kini sedang menunggunya di pintu samping.


"Waalaikumsalam... " balas Warti semangat.


"Dini melangkah mendekati Warti dengan membawa koper miliknya. Sedangkan Evan langsung memanggil tukang kebun di rumahnya untuk membantu Dini menurunkan barang-barangnya.


Setelah itu ia pun langsung masuk ke dalam rumah. Dengan sikap cuek plus dinginnya. Seperti para eksekutif-eksekutif muda pada umumnya.


"Astaga! Sombong sekali!" ucap Dini kesal ketika melihat Evan begitu angkuhnya masuk ke dalam rumah tanpa berpamitan padanya.


"Jangan kaget, Tuan Muda Evan memang begitu. Tapi setidaknya udah kenal kan?" ucap Warti, mengajak Dini bercanda agar suasana tidak kamu.


"Iya sih, dia dingin. Sepertinya aku tak suka padanya," jawab Dini jujur. Sedangkan Warti hanya tersenyum. Ia paham dengan sikap anak muda sekarang. Sengaja menunjukkan sikap arogansinya, karena mau menutupi perasaannya.


"Dia memang begitu. Sudah ayo masuk. Mera sudah bikin pusing tu. Nggak mau makan, maunya ke tempat kamu," ucap Bi Warti sembari membatu Dini membawa barang-barang miliknya.


"Aduh, anak manis itu bikin ulah apa lagi. Tadi pagi nggak mau pulang. Sekarang nggak mau makan. Hemmm!" ucap Dini gemas.


"Ya, begitulah. Namanya juga tuan putri. Eh, sebentar, Din!"


Dini menghentikan langkah, lalu menatap Bi Warti.


"Ada apa, Bi?"


"Ini kenapa kamu bawa cemilan banyak banget? Kamu suka nyemil, Din? Lalu, kenapa kamu kurus gitu. Kau taroh di mana makananmu, ha? Lihatlah, Bibi, Din, Makan jarang, tapi badan melar," ucap Bo Wy sembari terkekeh.


Dini tersenyum, lalu menjawab, "Itu boleh di kasih, Bi. Dini nggak beli. Kalo Bibi mau pilih aja. Baru sisanya nanti kita makan sama-sama."

__ADS_1


"Dikasih... dikasih sama siapa, Din? Hari ini masih ada orang sebaik ini, ha?" tanya Bi Warti heran.


"Entah, mungkin yang kasih orangnya lagi oleng kali, Bi!" canda Dini, kemudian mereka berdua pun terkekeh. Sampai tak menyadari bahwa setiap kata yang mereka ucapkan, di dengar langsung oleh Evan.


"Hay, kamu... ketawa terus. Cepat kau taroh barang-barang mu di kamar. No udah di cari sama mami. Mera nangis tu," ucap Evan ketus. Seperti biasa.


"Iya, Mas. Astaga galak amat," ucap Dini seraya memberikan tas punggungnya pada Bi Warti dan dia mengikuti langkah Evan dari belakang.


"Kau gila ya, berani ngatain aku oleng. Belum pernah tau dilaporin ke polisi, gara-gara melakukan perbuatan tidak menyenangkan," gertak Evan.


"Hah?" Dini melonggo karena tak menyangka bahwa Evan akan berucap demikian.


"Maafkan lah, Mas. Kan cuma canda," rayu Dini.


"Canda-canda, gimana kalo aku nggak suka, terus laporin kamu ke pihak yang berwajib. Kamu udah siap dipenjara?" tambah Evan.


"Ya nggak mau, Mas. Masak dipenjara. Dihalalin aja gimana?" canda Dini lagi.


"Mas, jangan gitu. Nanti kalo saya laporin masnya ke pihak berwajib gimana? Perbuatan apa tadi? Emmmm, perbuatan tidak menyenangkan!" balas Dini, sembari tersenyum senang.


Spontan, Evan pun mengetek kening Dini. Agar wanita ini tak sembarangan mengajaknya bercanda.


"Sakit, Mas. KDRT ini," ucap Dini. Sebenarnya suara Dini biasa saja. Karena Evan suka, maka nada suara itu terdengar manja di telinganya.


"Jangan pernah bercanda seperti ini dengan pria lain! Dengar!" pinta Evan.


"Iya, Mas. Tapi sakit," jawab Dini sembari mengelus keningnya yang memerah.


"Makanya, jangan asal. Kalo ku halalin beneran tau rasa kamu!"

__ADS_1


"Ampun kalo itu, saya nyerah. Hehehe!" jawab Dini.


"Kenapa?"


"Ndak pa-pa." Dini tersenyum, namun Evan yakin jika senyuman itu pasti mengandung luka.


"Baik kalo nggak mau cerita, udah sana ke kamar Mera. Kasih dia makan yang banyak. Biar nggak nangis aja kerjaannya. Pusing aku. Mau kerja nggak bisa," ucap Evan.


"Iya, Mas. Siap. Saya akan berusaha semaksimal mungkin jaga adek. Semoga dia bisa nurut sama saya," jawab Dini, mulai formal kembali.


"Hemmm... ingat, kalo dia kenapa-napa cepat kasih tau aku. Jangan kek mama, suka banget nyembunyiin tentang Mera dariku."


"Siap, Mas. Saya akan berkerja dengan baik. Insya Allah."


"Oke, aku percaya sama kamu!"


Perbincangan berakhir, Evan kembali melangkah menuju ruang kerjanya. Sedangkan Dini, ia langsung masuk ke kamar Almera untuk merawat gadis cilik tersebut.


***


Di sebuah kamar dengan pencahayaan yang sangat minim. Terdengar ******* manja dua orang yang sedang melampiaskan hasrat.


Siapa lagi kalo bukan Sella, yang sedang melayani tamunya. Meski hatinya menjerit sakit, namun Sella tetap melaksanakan tugasnya dengan sangat baik.


Selepas melayani sang tamu, Sella langsung kembali memakai pakaiannya. Dan bersiap pergi meninggalkan kamar hotel tersebut.


Sella memijat lehernya yang mulai terasa pegal. Melangkah melewati lorong menuju lobi hotel.


Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seseorang dari masa lalunya. Bersama dengan dua orang wanita. Wanita seperti dirinya. Datang dalam keadaan mabok. Membuat Sella merasa geram dan ingin mencabik-cabik wajah ketiga orang tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2