
Dini meneguk salivanya, jatungnya bersebar tak karuan. Dini tak menyangka bahwa paket yang ia terima adalah sesuatu yang berasal dari pria itu.
Dini sedikit merasa lega. Sebab doa di sepertiga malamnya mendapatkan jawaban yang baginya ini suatu keajaiban yang luar biasa.
Namun, tak dipungkiri bahwa di balik kabar baik ini, ustru Dini takut. Jika selama ini Robin memerhatikan gerak-geriknnya.
Kecurigaan itu ternyata tidak cuam Dini yang merasakannya. Bian pun sama. Pemuda tampan itu juga curiga bahwa selama ini Robin mengawasi setiap gerak Dini.
"Mbak... "
Dini tertegun dalam diam. Masih tak menyangka bahwa peket yang ia terima adalah sebuah surat persetujuan cerai dari pria itu.
"Apakah aku bermimpi, Bi?" tanya Dini gemetar.
"Tidak, Mbak. Ini nyata," jawab Bian.
"Jadi... selama ini?" tanya Dini, gugup.
"Mungkin, Mbak!" jawab Bian. Seakan paham arti dari pertanyaan Dini itu.
"Ya Tuhan, Bi. Aku takut." Dini menangis.
"Aku paham, Mbak. Aku mengerti perasaanmu. Tapi mari kita ambil sisi positifnya. Setidaknya, selama ini dia tidak menyakitimu. Setidaknya dia tidak mengganggumu lagi. Setidaknya dia mau berbaik hati mengajakmu bercerai. Masalah kasus hukum yang melibatkannya, mari kita serahkan itu semua pada pihak yang berwajib," jawab Bian, mencoba menenangkan Dini.
"Ya, tapi kenapa baru sekarang, Bi? Kenapa baru sekarang dia melakukan ini. Harusnya dari dulu. Dia jahat sekali kan Bi?" cecar Dini marah.
"Mungkin baru sekarang dia sadar, Mbak. Mungkin baru sekarang hatinya terketuk untuk melepaskanmu, Mbak. Mungkin juga dia sadar, udah bikin Mbak menderita dan ingin mengakhiri semuanya," jawab Bian.
__ADS_1
"Aku nggak tahu harus bagaimana, Bi? Tapi jujur aku takut. Berarti selama ini dia memata-matai aku," ucap Dini menyakinkan.
"Bisa jadi Mbak. Soalnya aku yakin kalo surat ini memang dia yang antar sendiri. Mengingat dia adalah buron Mustahil jika dia mengirim ini lewat pos atau jasa pengiriman lainnya. Foto dia sudah tersebar hampir seluruh Indonesia Mbak. Baik pakai selebaran foto maupun lewat beberapa aplikasi," jawab Bian lagi.
"Aku marah pada pria itu. Aku membencinya, Bi," ucap Dini lirih.
"Ya, soal itu aku juga paham, Mbak. Sekarang yang penting, kita cepat urus perceraian ini. Agar dia nggak ganggu Mbak lagi. Menurut Bian, Mbak pindah aja dari kos itu. Biar Mbak aman. Soalnya aku takut dia berubah pikiran dan malah menyakitimu, Mbak."
"Pindah ke mana, Bi? Aku tak begitu paham daerah sini," jawab Dini jujur.
"Nanti coba aku bantu cariin, Mbak. Yang penting sekarang jangan pulang ke kos itu dulu. Gimana kalo mbak numpang di rumah temen dulu."
"Rumah temen ya, sebaiknya siapa ya?" tanya Dini.
"Kita pikirkan itu nanti. Yang penting kita lekas daftarkan perceraian ini Aku takut pria itu labil dan membatalkan permohonan cerai ini, Mbak," ucap Bian.
"Kalo Mbak nggak keberatan, biar masalah ini aku bantu."
"Tapi Bi!"
"Nggak pa-pa, Mbak. Lita udah nganggep mbak Dini saudara, jadi aku pun harus menganggap demikian."
"Aku malu, Bi. Sungguh. Aku malu dengan kalian."
"Nggak pa-pa, Mbak. Jangan sungkan begitu. Pokoknya Mbak Dini tenang saja. Serahkan semua padaku. Berkas ini juga bisa kita jadikan petunjuk untuk mengetahui di mana suami Mbak bersembunyi," ucap Bian.
"Caranya?"
__ADS_1
"Masalah itu hanya detektif yang tau. Mbak jangan khawatir."
"Oh... baiklah." Dini diam. Namun tak dipungkiri bahwa saat ini jiwanya bergetar. Rasa takut kini menyerangnya. Bisa jadi apa yang di katakan Bian adalah benar. Bahwa selama ini dia memang di mata-matai oleh Robin.
***
Di lain pihak..
Karena kehabisan uang dan kehilangan barang-barang pentingnya, akhirnya Sella menjadi gelandangan di Thailand.
Beruntung ia bertemu dengan orang baik. Yang mau menolongnya membuatkan paspor untuknya. Bukan hanya itu, Orang tersebut juga menawarkan tiket pulang Sella ke Indonesia.
"Jadi kamu mau pulang?" tanya wanita yang diketahui dari Indonesia juga.
"Ya, Tante, saya mau pulang. Saya menderita di sini, Tante. Saya pengen pulang," jawab Sella dengan isak tangisnya.
Kasihan dengan nasib Sella yang terlunta-lunta, wanita paruh baya itu pun bertindak. Ia oin segera meminta bantuan menteri luar negeri perwakilan Indonesia. Untuk membantu wanita yang ditemukannya itu. Agar bisa kembali ke Indonesia
"Terima kasih, Bu. Saya tidak tahu harus berucap apa untuk kebaikan anda pada saya," ucap Sella, lemah.
"Tidak apa-apa, sebagai umat manusia yang baik dan taat, bukankah kita diwajibkan untuk saling membantu," jawab wanita paruh baya itu.
Benar apa yang di katakan wanita itu. Bahwa kita memang tidak bisa hidup sendiri. Tetapi sayangnya Sella lupa bahwa sampai detik ini Robin berlum tertangkap. Artinya, jika ia berani kembali ke Indonesia, berarti dia siap kehilangan nyawa.
Bukankah begitu?
Bersambung...
__ADS_1