
Tiga puluh menit kemudian...
Warti kembali masuk ke kamar Almera. Terlihat di sana Dini sudah terlelap manja di pembaringan. Untuk memastikan bahwa Dini sudah pulas, Warti pun mencoba membangunkan wanita itu.
Warti senang karena obat yang ia berikan pada Dini telah bekerja sempurna.
Begitupun dengan Ibu Zaenab ia tersenyum senang sebab ia juga berhasil melumpuhkan putra nakalnya itu.
Dia pikir dia lahir dari rahim siapa? Dia licik, lalu emaknya ini tak bisa lebih licik dari dia, lihat saja nanti. Kalo kamu nggak minta ampun sama mama, jangan harap kamu bisa tidur dengan tenang.
Ibu Zaenab tersenyum licik.
"Bagaimana, Nya? Tuan muda sudah oke, bisa dipindah ke kamar dek Mera?" tanya Warti.
"Bisa, udah oke. Sekarang kamu panggil Gilang sama Mukidi, biar bantu kita ngangkat anak nakal itu," jawab Ibu Zaenab sembari memberi kode senang.
Tak menunggu waktu lagi, Bi Warti pu segera memangil dua pegawainya itu. Beruntung mereka masih stan bay di post satpam.
Kini mereka berdua sudah sampai di depan Ibu Zaenab. Tak lupa, sebelum mereka mengerjakan tugas, terlebih dahulu Ibu Zaenab memberi mereka berdua tips beberapa ratus ribu, sekaligus membuat perjanjian dengan mereka.
"Ingat, ini adalah rahasia kita. Jika rahasia ini sampai bocor maka kalian akan kehilangan pekerjaan sekaligus tidak akan dapat pesangon. Bukan hanya itu, beasiswa sekolah anak kalian juga bakalan aku cabut. Paham!" ucap Ibu Zaenab.
"Paham, Nya!" ucap kedua pegawai itu.
__ADS_1
"Satu lagi, besok pagi bantu aku grebek mereka. Kalian harus berdrama, bantu aku desak mereka agar mau menikah. Kau Gilang, siapkan kamera untuk mengambil gambar. Sedangkan kau Kidi, kau bagian desak tuan muda kau supaya mau tanggung jawab. Untuk Aku dan Warti biarkan kami berdrama sesuai porsi kami. Paham!" ucap Ibu Zaenab lagi.
"Paham, Nya. Siap!" jawab Mereka berdua.
Meskipun mereka tak mengerti maksud dari sandiwara ini. Namun meraka tidak bisa berkutik dengan ancaman yang di berikan oleh wanita baruh baya itu. Mau tak mau, mereka harus menuruti perintah itu.
"Ayo, kalian angkat tuan muda kalian. Pindahkan dia ke ranjang Dini sekarang. Cepat!" perintah Ibu Zaenab.
Tak menunggu waktu lagi, ketiga pegawainya itu langsung melaksanakan perintah nyonya besar mereka. Memindahkan tubuh Evan ke kamar Almera. Membaringkan pria itu di ranjang tempat di mana Dini terlelap.
"Buat mereka berdekatan. Kau Gilang, langsung ambil gambar. Warti, bikin mereka berpelukan senyaman mungkin. Senatural mungkin. Supaya pas difoto bisa enak dilihatnya," pinta Zaenab.
"Se... sekarang, Nya?" tanya Gilang gugup. Karena ia juga takut. Bagaimana tidak? Ia sangat kenal bagaimana Evan. Bagaimana jika ia ketahuan ikut andil dalam misi jebakan ini. Tak menutup kemungkinan, nyawanya pasti akan melayang detik itu juga atau Evan akan memasukkannya ke lubang buaya. Hii... bukankah ini sangat mengerikan.
"Tapi nyawa saya aman kan, Nya?" tanya Gilang takut.
"Aman, tenang aja. Cepat.. cepat kau potret saja seperti apa yang ku minta. Cepat sebelum mereka bagun."
Tak ingin membuat majikannya marah, Gilang pun langsung mengambil gambar Evan dan Dini dari berbagai arah. Bahkan Warti sengaja membuat mereka seperti berciuman.
"Astaga, kau memang hebat Warti. Tak sia-sia aku membayarmu mahal," ucap Zaenab girang.
"Siapa dulu dong, Nya. Warti." Warti terkekeh.
__ADS_1
"Buat kami, ada tips lagi nggak, Nya?" canda Kidi.
"Hah? Ada.. tenang saja. Pokoknya kalo mereka besok nikah... kalian bakalan aku kasih lima juta perorang, oke!" jawab Zaenab senang.
"Oke Nya. Kami siap lah kalo gitu. Nyawa melayang demi uang, tak masalah lah. Paling tuan muda bakalan ngomel sama saya," jawab Gilang semangat.
"Dasar mata duitan!" umpat Ibu Zaenab.
"Apalah daya, Nya. Kami kan orang nggak mampu!" jawab Mukidi.
Mereka berempat pun tertawa senang. Akhirnya misi mereka menjebak kedua sejoli itu berhasil. Mulus tanpa kendala.
"Ayok kita keluar, tunggu satu jam. Setelah itu kira grebek mereka. Ingat nanti kalo kalian dengar aku teriak, usahakan ketiga mbak yang ada di belakang kalian panggil. Ajak mereka ke sini. Pokoknya bikin aksi kita senatural mungkin. Sekaget-kangetnya. Oke! Go... sekarang kita keluar, biarkan mereka menikmati mimpi mereka dulu," ucap Ibu Zaenab.
"Siap, Nya!" jawab mereka serempak.
Sengaja ingin membuat mereka nyaman senyaman-nyamannya, kelima orang tersebut pun langsung keluar dari kamar Almera.
Sembari menunggu waktu, Zaenab melanjutkan makan nasi goreng yang dibuat oleh Dini untuknya. Di temani oleh Warti yang juga menikmati secangkir kopi agar tidak ngantuk.
Sedangkan kedua pria tersebut kembali ke post jaga masing-masing.
Bersambung...
__ADS_1