Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Dikejar Musuh


__ADS_3

Dini diterima baik di rumah itu. Bukan hanya itu, gadis mungil yang saat ini ada di dalam dekapannya ternyata juga tidak rewel. Mungkin ia sangat nyaman, sebab telah menemukan seseorang yang tulus menjaganya.


"Dia anteng sekali sama kamu, Din! Sepertinya dia menyukaimu," ucap Warti, salah satu teman Dini yang bekerja di rumah itu.


"Semoga, Mbak War. Aku juga kasihan melihat dia. Kasihan, bayi sekecil ini sudah ditinggal sama ibunya. Al Fatihah buat ibu bayi ini ya, Mbak War," jawab Dini lembut.


"Iya, seandainya waktu itu Tuan Muda cepat membawa nyonya muda ke rumah sakit, pasti keduanya bakalan tertolong. Tapi ya sudahlah, saat itu hujan sangat lebat. Tuan Muda tidak berani berkendara jika hujan. Beliau memiliki trauma dengan hujan. Beliau sangat takut dengan hujan," jawab Warti jujur.


"Takut dengan hujan? Aneh sekali!"


"Namanya juga trauma, Din. Kita juga nggak bisa nyalahin."


"Kamu bener, Mbak War. Trauma itu memang tidak mudah. Apa lagi trauma itu terjadi sejak kecil. Butuh penanganan khusus rasanya. Mungkin ini sudah takdir," ucap Dini.


"Sayangnya, Tuan Muda masih belum bisa meneriman kenyataan ini. Mungkin dia terlalu mencintai Nyonya muda. Sekarang dia jarang bicara. Sudah tak ceria. Bahkan dia marah ketika mendengar bayinya menangis. Seperti tidak Terima jika bayi ini merasakan sakit. Entahlah, Din... belum ada seorangpun yang bisa menjelaskan padanya bahwa bayi itu memang bisanya nangis. Untuk kasih tau kita apa yang dia rasakan, iya kan?" ucap Warti.


"Iya, Mbak... tapi mau gimana lagi? Ya udahlah... tapi Dini kok nggak pernah lihat beliau ya? Beliau ke mana?" tanya Dini


"Dia kerja, Din. Jarang pulang. Paling seminggu sekali. Mungkin dia menghindari tangis bayi plus kamar pribadinya bersama istri. Beliau kalo pulang juga nggak mau tidur di kamarnya. Paling di ruang kerja. Sampai baju-bajunya di pindah ke sana," ucap Warti.


"Owalah... sampai segitunya. Kasihan sekali. Memangnya pak sopir nggak ada saat itu?" ucap Dini.

__ADS_1


"Waktu itu, kedua sopir di sini sedang tidak ada di tempat. Yang satu jemput ibu nyonya ke bandara. Sedangkan yang satu mendapat tugas dari Tuan Muda. Jadi mereka tidak ada di tempat. Mereka juga tidak tahu, jika malam itu nyonya muda mau melahirkan. Jadwalnya masih dua Minggu lagi Tapi ketuban sudah pecah!" jawab Warti, sesuai apa yang terjadi kalau itu.


"Aduhhhh, kasihan sekali. Mungkin sudah takdirnya kali ya mbak War. Semoga beliau tenang di sana! Aku kok jadi merinding. Kasihan dengan keluarga kecil ini," ucap Dini lagi. Warti tersenyum sedih, ia pun sama. Ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa kelurga kecil ini.


"Aku buka hanya berharap untuk kebahagiaan adek bayi ini, Din. Tapi aku juga berharap trauma tuan muda sembuh. Kasihan dia, dia pasti juga tertekan dengan kematian istrinya. Dia pasti merasa sangat bersalah!" Warti mengelus kepala si baby. Mengekusnya dengan penuh kasih sayang.


Dini paham dengan ucapan itu. Sebab dia juga pernah trauma dengan masa lalunya. Saat itu Dini pulang sekolah dan melihat sebuah kecelakaan tragis. Kecelakaan itu terjadi di depan rumah Dini yang lama. Dini melihat banyaknya darah di depan rumahnya, membuat Dini trauma. Bahkan kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah rumah.


"Kita doakan saja beliau, semoga beliau bisa segera move on dan mendapatkan pendamping hidup yang baik Yang mengerti akan dirinya Sama seperti istri pertamanya dulu," ucap Dini.


"Aku aminkan doamu Din. Aku juga berharap yang sama untuk hidup tuan muda. Kasihan dia masih muda, seharusnya ada seseorang orang selalu siap untuknya. Tapi ya sudahlah, mungkin Tuan Muda memiliki target sendiri. Kok kita jadi kepo gini. Udahlah, Din. Kamu masuk ke kamar baby dulu ya. Biar dingin. Biar dia nggak rewel! Selamat malam, Din, semoga mimpi indah!' ucap Warti lagi.


Dini mengangguk menyetujui, baginya tidak ikut campur urusan orang lain adalah hal terbaik yang harus kita lakukan.


***


Kebusukkan Robin telah terbaca oleh Papi Deon. Pria itu tak ada kabar. Di tambah lagi Dini juga tidak ada di tempat. Papi Deon pun menganggap wanita itu juga melarikan diri.


Tentu saja keadaan ini memancing emosi seorang Deon. Deon marah besar karena merasa ditipu oleh Robin dan Dini.


Bagaimana tidak? Kala itu, saat Robin datang kepasanya, pria itu berjanji akan menjaga jaminannya itu. Tapi lihatlah sekarang, wanita itu tidak ada di tempat, hilang lenyap tak berbekas. Dia pergi dari rumah tersebut tanpa meminta izin darinya.

__ADS_1


Deon tidak peduli dengan itu. Baginya saat ini Dini harus ada di hadapannya. Melayani hasratnya seperti yang dijanjikan Robin kepadanya. Dini harus menjadi oemuas nafsunya, setidaknya lima kali. Seperti yang tertera dalam surat perjanjian tersebut.


"Cepat kalian cari wanita penipu itu. Berani sekali dia pergi tanpa seizin ku!?" ucap Deon emosi.


Tak ada jawaban, melainkan perbuatan. Para anak buah Deon pun segerakan mencari keberadaan Dini sesuai petunjuk yang mereka dapat dari berbagai sumber.


"Awas saja kalo sampai dia ketemu. Akan ku habisi dia!" gumam Deon, mengancam keberadaan Robin.


***


Di lain pihak, Robin stres berat. Karena ia sama sekali tidak memiliki uang. Jangankan untuk bermain judi untuk membeli makan pun dia tidak punya. Di tambah saat ini ia harus bersembunyi dari kejaran anak buah Deon.


Beberapa kali ia menghubungi Sella, namun wanita itu malah memblokir nomernya.


"Brengsek! Jadi ini yang kamu sebut cinta selama ini Sella! Membuangku setelah aku tidak memiliki apapun ha? Bagus! Aku akan mencarimu dan akan membuat perhitungan denganmu. Aku menghianati istriku demi cinta kita, Tapi dengan mudahnya kamu melupakan aku. Mencampakkan aku. Sella!!! aku pasti akan membunuhmu!" ucap Robin marah.


Robin meringkuk kedinginan di sebuah rumah kosong yang tak berpenghuni. Robin menggigil sendirian dan kelaparan.


Robin ingin pulang ke rumah Dini, namun ia gak berani. Sebab ia tahu, anak buah Deon pasti sedang mencarinya. Mencarinya untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah menjadi kesepakatan mereka


Bukan hanya dengan Deon, beberapa pihak bank dan koperasi saat ini juga sedang mencarinya. Menutut tanggung jawabnya untuk membayar hutang-hutangnya pada mereka.

__ADS_1


Bersambung...


Maaf ya Best, kalo masih ada typo... Terima kasih yang sudah sudi kasih dukungan 🄰Semoga Allah membalas kebaikan kalianšŸ˜Lope🄰


__ADS_2