
Evan keluar kamar. Menuruni anak-anak tangga. Ditemani sang ibunda. Sedangkan Dini, Dini menunggu di ruang tamu. Ditemani oleh Bi Warti dan juga Almera.
Evan tertagun. Bergeming tanpa kata. Nyatanya, kecantikan Dini sungguh mampu membuatnya terpana.
Ya Tuhan, dia cantik sekali. Mimpi apa aku dapat istri bak bidadari begini... gumam Evan dalam hati.
Melihat sang putra melamun, dengan cepat Ibu Zaenab langsung menepuk pundak sang putra.
"Hay, kenapa? Jadi nikah nggak?" tanya Ibu Zaenab.
"Ya, jadi, Ma... ta.. tapi... itu Dini, Ma?" tanya Evan gugup.
"Lah iya, kau pikir siapa? Warti?" balas Bu Zaenab sembari terkekeh.
"Bukan... dia cantik sekali, Ma!" puji Evan, lirih. Namun, suara itu seperti mengema tanpa merasa malu.
"Astaga, ya jelas cantik. Kalo nggak cantik mana mungkin mama rela kehilangan dua puluh juta buat bayar para penghianat itu," jawab Ibu Zaenab sembari menunjuk Warti dan juga para asistennya.
"Astaga, Ma... serius?" Evan menatap tak percaya.
"Ya, habis ini, kau ganti uang Mama. Mama nggak rela, kau yang bahagia, kenapa mesti mama yang harus berkorban. Enak aja!" gerutu Bu Zaenab kesal.
"Siap, Ma. Nanti Evan ganti, tiga kali lipat. Oke!" jawab Evan semangat.
"Nggak, mama nggak mau diganti pakek uang. Mama mau, kau kasih mama cucu yang banyak. Yang cantik, yang tampan, pokoknya bikin rumah ini rame. Oke!" jawab Ibu Zaenab.
Evan tersenyum menjawab keinginan ibunya itu. Ternyata, meskipun sang Ibu pernah melukainya, nyatanya wanita itu tetap memberikan yang terbaik untuk dirinya.
"Udah, yuk jalan. Udah nggak tahan kan pengen cepat bikinin mama cucu, ha?" canda Ibu Zaenab.
"Ih, Mama. Apa sih? Malu atuh Ma... " jawab Evan seraya mendekati Dini yang saat ini masih tertunduk menjaga pandangan.
__ADS_1
"Semua sudah siap, kan? Yuk jalan," ajak Ibu Zaenab.
Sayangnya, ketika mereka hendak melangkah, Bian dan beberapa orang datang. Datang dengan wajah cemas. Seperti membawa kabar buruk untuk Evan.
Bukan hanya Bian. Ada juga Lita dan juga abangnya. Serta seseorang yang berpenampilan seperti penghulu.
"Bian, Lita, bang Endrik!" ucap Dini. Merasa aneh dengan kedatangan sahabatnya itu. Ditambah dia begitu akrab dengan Evan.
"Tenangkan dirimu, semua pasti baik-baik saja," ucap Lita seraya memeluk tubuh sahabatnya.
"Ada apa? Kenapa datang rame-rame ke sini?" tanya Dini bingung.
"Nanti aku jelasin. Yang penting kamu harus selamat. Nyawa kamu dalam bahaya, Din. Seseorang yang tidak suka dengan calon suamimu, sedang menuju kemari untuk menghabisi kalian berdua," ucap Lita.
Spontan, kabar itu pun membuat Dini gemetar. Kakinya serasa lemas. Karena ia tak tau apa-apa. Tapi mengapa malah dijadikan sasaran.
"Ada apa, Bi?" tanya Evan ikutan tegang.
Tak menunggu waktu lagi, Evan pun langsung bersiap duduk di depan penghulu dan mulai melangsungkan ijab qobul nya.
Teriakan kata 'Sah' menjadi pertanda bahwa mulai detik ini Dini telah sah menjadi istri seorang Evan.
Senyum mengambang sempurna di bibir para saksi. Begitu pun Evan. Ia bertambah bahagia ketika ia diizinkan untuk mengecup kening istrinya. Lalu, Evan pun memeluk Dini. Memeluk wanita yang dicintainya itu.
Tak lupa, Evan juga membisikan janji cinta untuk istri cantiknya. "Jangan takut, mulai hari ini aku akan menjagamu. Oke!"
"Terima kasih," jawab Dini lirih.
"Kembali kasih," jawab Evam sembari mengelus punggung sang istri. Agar wanita itu merasa nyaman. Dan percaya padanya, bahwa pernikahan ini bukanlah mainan.
Evan berjanji akan menjadi suami yang baik dan menjaga Dini dengan segenap jiwa dan raganya.
__ADS_1
Sayangnya, kebahagiaan Evan dan Dini terguncang seiring dengan terdengarnya bunyi tembakan yang menghancurkan kaca jendela.
Tentu saja, apa yang terjadi saat ini, membuat Evan paham apa yang ditakutkan oleh asisten pribadinya.
Ternyata gertakan abangnya bukanlah ijapan jempol belaka.
"Amankan diri kalian. Ma, ajak Dini dan Almera masuk ke kamar Mama. Yang lain menyebar," pinta Evan.
Sedangkan Evan langsung melepas Toxido nya dan memberikan baju itu pada istrinya.
"Mas... " cegah Dini.
"Ya... "
"Jangan pergi!" pinta Dini.
"Tidak akan terjadi apa-apa padaku, Din. Ada doamu yang nenyertaiku," jawab Evan sembari mengelus pipi mulus istrinya.
"Mereka bawa senjata tajam, Mas!" larang Dini lagi.
"Aku akan jaga diri baik-baik. Untukmu, untuk Almera, oke," janji Evan.
Dini meraih pinggang Evan. Seakan tak rela jika suaminya pergi berperang. Bukan masalah ia sudah jatuh cinta pada pria itu. Tapi lebih ia tak ingin terjadi apa-apa pada Evan.
Bagaimana dengannya nanti? Bagaimana dengan Almera nanti? Jika sampai terjadi apa-apa pada Evan.
"Aku tahu seseorang di balik kerusuhan ini, kamu nggak perlu khawatir. Selama kamu ada di samping Mama, semua akan baik-baik saja. Oke!" ucap Evan.
Apapun yang Evan katakan. Nyatanya tak bisa membuat Dini tenang. Ia tetap tak rela jika Evan pergi.
Bersambung...
__ADS_1