
Dini menatap nanar pada jari jemari tangannya. Ia tak tahu harus berucap apa. Sikap dan perangai Robin padanya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Entah terbuat dari apa hati pria itu.
"Sabar ya, Din... kita semua tau kalo kamu kecewa. Kamu terluka. Yang kuat, oke!" ucap Lita sembari mengelus lengan sang sahabat.
Dini mengangguk anggukkan kepala. Padahal hatinya menolak ini. Menolak kebenaran ini. Menolak apa yang ia dengar adalah kenyataan. Bohong jika saat ini Dini kuat. Bohong jika saat ini Dini tidak terpuruk. Dini merasa saat ini ia hampir mati. Bahkan ingin mati saja rasanya.
"Harusnya aku periksa uang mahar itu dari awal, Ta. Biar tahu," ucap Dini, bingung. Lita tahu jika saat ini Dini pasti shock dengan kenyataan itu.
"Sudah jangan kepikiran sampai sana. Aku tau kamu pingin mengabadikan uang itu dan memakainya saat kamu benar-benar kepepet. Seperti sekarang ini. Kita semua juga nggak nyangka Din kalo uang itu ternyata uang mainan. Sabar ya Din!" ucap Lita.
"Rasanya harga diriku habis, Ta. Habis oleh kebodohanku sendiri. Hatiku remuk Ta. Bagaimana ini?" jawab Dini, masih setia dengan isak tangisnya.
"Kami tahu saat ini kamu pasti shock, Din. Kamu pasti terluka. Tapi kami harap, kamu Jangan terlalu terpuruk. Ingat, kesehatan mental juga penting Kamu harus jaga kesehatan mentalmu, Din. Jangan sampai terjadi apa-apa. Berusahalah tetap ikhlas, oke!"
"Bagaimana aku bisa ikhlas, Ta? Dia memberi mahar aku uang palsu. Berarti pernikahan kita juga palsu. Lalu, bagaimana hubungan suami istri di antara kami? Aku takut itu termasuk zina, Ta?" ucap Dini, takut.
"Ya nggak juga, Din. Kan syarat nikah sudah kalian penuhi. Hanya maharnya saja yang dipalsukan. Itu artinya ia berhutang mahar sama kamu. Sudah, jangan terlalu kamu pikirkan. Tentang halal dan haramnya pernikahanmu, biar Allah yang menentukan. Yang penting sekarang, kamu harus semangat sembuh. Jangan terlalu memikirkan apa yang seharusnya tidak kamu pikirkan," ucap Lita sembari mengelus lengan Dini.
Dini kembali menangis histeris. Membuat Lita dan Tanjung tak kuasa menceritakan satu kenyataan lagi yang mungkin bisa membuat Dini kehilangan kendali.
__ADS_1
Tanjung dan Lita sepakat untuk tidak memberitahu Dini kabar itu dahulu. Mereka takut, Dini tak sanggup menanggung beban ini sekali lagi. Merak takut Dini terpuruk dan tak sanggup bangkit lagi.
Untuk menyelesaikan kasus ini, Lita dan Tanjung pun sepakat menceritakan kebenaran ini kepada asisten pria yang menabrak Dini.
Di kantin rumah sakit.
"Kalian tenang saja, kali ini pria itu nggak akan selamat dari jerat hukum. Nanti kuasa hukum bos saya yang bakalan urus semuanya. Kita tinggal berdoa saja. Semoga pria itu segera tertangkap dan bisa segera di adili," jawab Bian..
"Terima kasih Pak Bian, kami sangat berterima kasih atas bantuan bos anda dan anda juga," ucap Lita.
"Jangan sungkan. Kami akan bantu sebisa kami. Tapi kami mohon maaf, bos saya tidak bisa menemui kalian. Beliau sekarang ada di Australia. Jadi saya mohon maaf sekali lagi. Beliau hanya bisa berhubungan dengan kita by phone. Mengingat beliau sangat sibuk." ucap Bian.
"Benar, saya saja yang kerja sama beliau, bisa ketemu paling sebulan sekali. Dua bulan sekali... tergantung beliau ada di Indonesianya kapan!" jawab Bian, sembari tersenyum.
"Iya, kami memaklumi itu, Pak," balas Lita.
"Oiya, besok Insya Allah, Mbak Dini sudah bisa keluar rumah sakit. Tapi sebaiknya dia jangan tinggal sendiri. Mengingat suaminya belum tertangkap. Takut dia bikin perjanji lagi sama rentenir-rentenir lain. Apa lagi sekarang dia dalam keadaan kurang sehat begitu. Bos sih maunya nyariin dia kontrakan dekat aku Tapi aku takut nggak bisa jaga 24 jam kan," ucap Bian.
"Soal tempat tinggal dia, Bapak nggak perlu khawatir. Biar dia tinggal bareng sama saya saja. Di tempat saya banyak yang ngontrak juga. Insya Allah aman," tawar Lita.
__ADS_1
"Okelah kalo begitu, Terima kasih. Masalah biaya makan dan pengobatan beliau, nanti saya yang urus. Yang penting kita udah punya tempat tinggal yang aman untuk mbak Dini."
Lita da Tanjung mengangguk menyetujui permintaan bosnya Bian. Dan semoga keputusan ini adalah keputusan terbaik untuk Dini.
***
Di sebuah club dengan kerlap kerlip lampu warna-warni, terlihat seorang wanita sedang tertawa bersama teman-temannya.
Wanita itu terlihat begitu bahagia. Karena bisa bebas dari cengkraman pria yang saat ini sudah tak mampu lagi memberinya uang.
Siapa kalau dia kalau bukan Sella.
Sella kembali di kehidupan awalnya. Menjajakan diri. Tapi sekarang bukan lagi di negara ini. Karena ia takut dicari oleh Robin.
Sebelum ia mendapatkan kabar bahwa Robin belum tertangkap, maka Sella tak akan berani kembali ke negera ini.
Ternyata Sella bukan wanita bodoh yang tak bisa melarikan diri.
Bersambung...
__ADS_1