
Lita meremas marah bingkai uang mahar milik Dini. Berapa kali gadis ini juga mengumpat, memaki kesal. Kebusukkan Robin kembali tercium di sini. Uang yang dibingkai dan digunakan sebagai mahar, bukanlah uang asli melainkan uang main.
Ini adalah bentuk penghinaan atas sebuah pernikahan.
"Kita laporkan ini pada pihak berwajib saja, Ta. Keenakan pria bajingan gitu dibiarin berkeliaran," ucap Tanjung, pria yang ikut membantu Lita mengurus masalah Dini.
"Kamu benar, Jung. Pria jahanam kek gitu harus dijeblosin ke penjara saja. Biar busuk sekalian di sana. Jangan-jangan keluarga yang dia bawa saat menikahi Dini bukan keluarga asli lagi," ucap Lita curiga.
"Bisa jadi. Emmm, sebaiknya kita ke sana, Ta. Biar jelas semuanya."
"Bener, Jung. Kita bantu Dini jangan setengah-setengah. Kasihan dia," jawab Lita.
"Ya udah, ini beresin. Dirapiin lagi. Habis ini kamu tanya Dini, di mana keluarga pria itu tinggal. Sekalian itu, kamu tanyain alamat koperasi yang pernah nagih Dini. Siapa tau dari situ kita juga dapat petunjuk siapa sebenarnya pria ini," usul Tanjung.
Lita menatap sahabatnya itu. Apa yang diucapkan Tanjung sepertinya masuk akal juga. Siapa tahu dari beberapa pentunjuk penting itu, mereka bisa tahu siapa sebenarnya pria bajingan itu.
Tak menunggu waktu lagi, Lita pun segera menghubungi Dini lewat panggilan telepon. Untung kemarin Lita meninggalkan satu ponselnya untuk Dini pegang.
"Gimana, Ta? Nyambung nggak?" tanya Tanjung.
"Nyambung, Jung. Sebentar! Masih belum di angkat. Jujur aku takut mau nyampein uang mahar ini. Aku takut Dini sedih!" jawab Lita.
"Habis mau gimana? Kita nggak ada pilihan lain, Ta."
"Iya, itu yang bikin aku serba salah. Andai tu lakik ada di depanku, langsung ki cekokin kopi sianida. Biar tau rasa!"
"Jahat amat, Ta... " Tanjung terkekeh. Lita hanya melirik kesal.
Tiga kali ia mencoba menghubungi Dini, tiga kali pula Dini tak menjawab panggilan telpon itu. Mungkin Dini sedang istirahat atau mungkin sedang dalam pemeriksaan.
"Nggak bisa, Jung. Nggak diangkat," ucap Lita.
"Kan ada pak asisten, coba kamu telpon dia!"
"Takut.... " jawab Lita manja.
"Kok takut? Kenapa?"
__ADS_1
"Denger suara doi, nyong degdegan... " Lita memegang dadanya sembari tersenyum malu-malu.
"Aelah Lita, jangan jatuh cinta dulu. Ini kasus kita urus dulu. Gimana sih?" ucap Tanjung seraya merebut ponsel milik Lita dan menghubungi pria yang disinyalir sebagai asisten pria bapak penabrak itu.
Lita pasrah. Namun juga malu pada Tanjung.
Beberapa menit kemudian, pria yang Tanjung hubungi pun menyambut panggilan telpon tersebut.
"Hallo... selamat siang!" sapa seseorang di seberang sana.
"Siang, Pak. Saya Tanjung, temennya Dini. Bisakah saya bicara dengan Dini?" tanya Tanjung sopan.
"Maafkan saya, saya sedang di luar ini. Mbak Dini nya ada bawa ponsel kok. Hubungi saja," jawab pria yang biasa dipanggil pak Asisten itu.
"Sudah, Pak! Tapi nggak diangkat. Kira-kira kami bisa menghubungi Dini, lewat siapa ya, Pak?" tanya Tanjung.
"Sebentar, saya telpon adik saya dulu. Siapa tau saat ini dia sedang tugas."
"Adik Bapak, siapa tu?"
"Ada, dia salah satu perawat di situ. Sebentar... saya hubungi dia dulu. Semoga bisa ya," jawab pria itu.
Percakapan pun berakhir. Kini dengan setia Lita dan Tanjung menunggu pak asisten membantu mereka.
"Piye?" tanya Lita.
"Piye... piye... ga piye... piye!" jawab Tanjung merajuk.
"Uluh... uwunya kalo merajuk. Jan gitu lah bestie!" canda Lita sembari memeluk manja sahabatnya.
Tanjung terlanjur merajuk. Bukan karena perbincangannya dengan pak asisten, melainkan perasaan Lita pada pria itu. Tanjung tak suka. Tanjung cemburu.
Lima belas menit berlalu, ponsel Lita berdering. Sebuah nomer tak dikenal masuk. Tapi Lita tetap menyambut panggilan telpon tersebut. Karena ia tahu, yang menghubunginya adalah suruhan pak asisten.
"Hallo.. selamat siang!" sambut Lita.
"Siang Kak, saya Viona... adiknya Vebian," jawab seseorang di telepon itu.
__ADS_1
"Aduh... sebentar... Vebian? Vebian siapa ya?" tanya Lita.
"Oh itu, orang yang bertanggung jawab atas kak Dini. Cewek yang kena tabrak bosnya kak Bian, Kak!" jawab cewek itu lagi.
"Owalah... jadi pak asisten itu namanya Vebian. Oke deh... makasih dek Viona. Emmm... sekarang adek di mana?" balas Lita.
"Saya di ruangan kak Dini. Katanya Kakak mau ngomong sama beliau."
"He em, mohon izin sebentar ya."
"Siap, Kak... silakan!" jawab Viona lembut. Setelah itu ia pun memberikan ponsel itu pada Dini.
"Hallo, Ta... " sambut Dini.
"Hay, Din... kamu apa kabar? Udah enakkan?" balas Lita.
"Lumayan, Insya Allah besok aku udah boleh pulang. Gimana? Uang mahar itu aman kah?" tanya Dini semangat. Lumayan kan lima juta, masih bisa buat Dini pegangan. Soal biaya rumah sakit dan terapi untuknya, kabarnya ditanggung oleh pak penabrak.
"Maafkan aku, Din! Dengan sangat menyesal aku harus kasih tahu kamu soal ini." Di seberang sana, Lita dan Tanjung saling menatap. Saling menguatkan. Agar Lita kuat menyampaikan kebenaran menyakitkan ini.
"Kenapa Ta? Uang itu hilang juga?" tanya Dini.
"Ah nggak, Din. Ada kok... masih utuh. Tapi... " jawab Lita terbata.
"Tapi kenapa, Ta?" jujur Dini takut. Takut jika uang itu telah diambil kembali oleh Robin.
"Anu... ini, Din... maaf kalo aku harus katakan ini."
"Ya, it's oke!"
"Itu... uang maharnya.... " Lita menghela napas sejenak. Sedangkan Dini setia menunggu.
"Uang maharnya palsu, Din!" jawab Lita.
Spontan, mata Dini membulat sempurna. Terkejut, tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. Shock, tak menyangka jika Robin bisa berbuat sepicik ini.
Dini menjatuhkan ponselnya lemas. Tak sanggup lagi rasanya ia membalas setiap kata yang hendak sahabatnya sampaikan. Dini bingung. Jiwanya kembali terguncang. Sungguh, Dini tak sanggup lagi mengekspresikan kebingungannya. Selain menangis.
__ADS_1
Bersambung...