Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Keluarga Juga Palsu


__ADS_3

"Terima kasih infonya, Bu Lurah Sekali lagi kami minta maaf sudah menganggu," ucap Lita.


"Ndak pa-pa Kak, selagi saya bisa membantu, kenapa nggak. Silakan tanya apa yang hendak kalian tahu. Asalkan saya tau saya pasti bantu," jawab Bu Lurah lagi.


Lita dan Tanjung tersenyum. Lalu di detik berikutnya, Tanjung teringat dengan foto-foto pernikahan Dini dan Robin.


"Ta, kamu bawa nggak foto-foto kawinan mereka. Sekalian tanyain, itu bener keluarga tu pria apa bukan?" ucap Tanjung mengingatkan.


"Oiya, hampir lupa, Jung. Sebentar!" ucap Lita sembari mencari foto yang ia ambil dari album kenangan milik Dini.


"Mohon maaf, Bu Lurah, satu pertanyaan lagi. Apakah benar ini keluarga dari pria yang sedang kami cari?" tanya Lita seraya menyerahkan satu lembar foto pada Bu Lurah.


Bu Lurah kembali menerima barang dari Dini. Lalu memerhatikan sekilas. Lagi-lagi ia tersenyum. Setelah itu ia pun menjawab pertanyaan Lita.


"Bukan, ini bukan keluarga pria yang kalian cari. Pria tersebut sudah di coret dari Kartu keluarganya. Bahkan sudah dianggap mati. Kalo kalian mau tahu keluarga aslinya, mari saya antar. Tapi kalo yang ini bukan. Ini bukan keluarga asli pria itu."


Lita dan Tanjung kembali shock. Nyatanya mereka bukan hanya ditipu soal uang, tapi juga Identitas. Identitas diri, baik itu identitas diri sendiri maupun keluarga. Hufff... ternyata kelicikan Robin memang tidak bisa diremehkan.


Nyatanya, apa yang dilakukan seorang Robin sudah teroganisir serapi mungkin. Baik dari segi identitas, keluarga bahkan pekerjaan. Semuanya rapi tanpa ada seorang pun yang curiga. Salahnya, hanya Dini yang kelewat lugu dan percaya. Itu saja.


"Gimana? Kalian mau ketemu sama keluarga aslinya?" tanya Bu Lurah memastikan.


"Tidak, Bu. Sebaiknya tidak usah. Kami tidak ingin melibatkan keluarga aslinya yang tidak tahu menahu itu. Kasihan mereka. Insya Allah, dengan jawaban yang ibu Lurah berikan pada kami, itu sudah cukup membantu kami untuk membawa kasus ini ke jalur hukum. Sekali lagi, kami ucapkan banyak terima kasih," jawab Lita.

__ADS_1


"Baik, jika kalian rasa info dari saya cukup. Kalo masih ada yang mau ditanyakan ya monggo, saya tidak keberatan kok."


"Tidak, Bu.. kami rasa cukup. Terima kasih atas waktunya. Sekali lagi kami minta maaf karena sudah menganggu," ucap Lita seraya mengulurkan tangan untuk berpamitan.


"Ndak apa, maaf ini dianggurin. Habis mau dibuatkan minum katanya ndak usah."


"Iya, Bu... kami diterima dan dikasih info saja sudah cukup. Makasih banyak ya, Bu!"


"Iya sama-sama." Bu Lurah tersenyum lalu menyambut uluran tangan Lita dan Tanjung. Kemudian mereka pun mengakhiri obrolan. Lita dan Tanjung langsung berpamitan dan melangkah pergi meninggalkan kediaman Bu Lurah.


***


Di dalam mobil menuju pulang...


"Ta, kamu oke?" tanya Tanjung.


"Entahlah, Jung! Rasanya ingin sekali aku racun laki model begitu. Sumpah!" jawab Lita emosi. Sangat-sangat emosi.


"Aku tau kamu pasti marah. Tapi ingat, nggak semua pria seperti itu. Contohnya aku. Aku baik, ganteng, manis, keluarga juga jelas, kamu kenal semua. KTP asli, sayangnya kamu nggak tertarik sama aku," canda Tanjung. Berharap Lita melupakan sedikit rasa kesalnya pada pria penipu itu.


"Tanjung diam ahhh... Aku tu lagi kesel tahu. Pengen banget aku remas muka tu lakik. Kalo perlu ku masukkin karung, ku hajar laku ku lempar ke kandang buaya. Biar tau rasa," ucap Lita menggebu penuh emosi.


"Kejam amat, Ta. Ngeri juga ya kalo cewek marah. Eh, tapi, Ta... kalo model laki begitu, mungkinkah buaya masih mau?" canda Tanjung lagi.

__ADS_1


Lita yang tak fokus, tentu saja menganggap ucapan itu serius.


"Iya juga ya, mana mungkin buaya mau daging penipu. Buaya kan pemilih," jawab Lita lugu.


Spontan Tanjung pun tertawa. Dari mana Lita tau kalau buaya adalah pemilih. Bukankah buaya hewan buas. Mana bisa pilih-pilih makan.


Lita, Lita... ternyata kalo lagi oleng lucu juga. Batin Tanjung.


***


Di sisi lain, Robin segaja tidak menyerah dengan Takdirnya karena ia ingin mencari Sella terlebih dahulu.


Bukan untuk meminta bantuan pada wanita itu. Tapi lebih dendam yang ia miliki pada wanita itu.


Robin tak terima dengan tipuan yang Sella lakukan padanya selama ini.


Robin menyadari itu ketika Deon menangkap dan menyiksanya. Ternyata saat itu bukan hanya dirinya yang mendapat perlakuan sama. Ada lebih dari tiga orang yang bernasib sama dengannya.


Ditipu oleh Sella. Diperdaya dengan kemolekan tubuhnya. Agar mau berjudi. Lalu jika kalah, ia akan menggiringnya ke tempat Deon. Mendorongnya ke lobang utang. Jika tak mampu membayat, maka akan jadi bulan-bulanan anak buah Deon dan pria itu juga.


Robin mengepal marah. Ia bersumpah tak akan menyerahkan diri pada polisi. Sebelum ia bisa menghabisi Sella sendiri. Dengan tangannya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2