Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Menjalankan Strategi


__ADS_3

Kini giliran Bian yang kalang kabut.


Bagaimana tidak?


Tuan pemaksa itu sudah mengeluarkan titahnya.


Sedangkan Bian, Ia sangat tahu jika Evan tak pernah main-main dalam ucapannya.


"Bos... soal Lita dan Dini, saya nggak bisa ikut campur. Bagaimana bisa saya menekan Lita buat kasih Dini resign?" jawab Bian, bingung.


"Kau pikir aku peduli? Tidak... pokoknya aku mau, cewekmu itu kasih izin cewekku buat resign. Kalo nggak, aku beli tempat usahanya. Biar cewekmu tau rasa," ancam Evan serius.


"Astaga, Bos! Ini namanya menyulut peperangan antara aku dan dia. Bos jangan tega gitu napa?" pinta Bian.


"Aku nggak mau tau, pokoknya aku mau Dini ku. Dia udah mau kerja sama aku. Jadi ya... tolong diikhlaskan," balas Evan.


Sungguh menyebalkan bukan? Evan sudah memiliki jiwa pemaksa pada umumnya. Ditambah sekarang sedang Bucin. Bukankah jiwa arogan itu seperti mendapat dorongan.


"Kenapa kau diam? Cepat kerjakan!" pinta Evan.


"Tau ah!" jawab Bian kesal.


"Berani ya?"


"Emmmm," Bian mengembuskan napas kasar. Berharap Evan dengar jika dia tak menyukai perintah satu ini.


"Pokoknya sore ini aku harus dengar kalo cewekku udah resign dari kerjaannya. Paham!"


"Ya, serahmu, Bos. Serahmu," kawan Bian pusing.


Terdengar suara Evan terkekeh. Terlihat jelas bahwa bapak satu anak itu sangat bahagia.

__ADS_1


Akhirnya pernantian dan pejuangan panjangnya akan menghadapi titik temu. Setelah ini, ia berjanji akan memanfaatkan putrinya itu semaksimal mungkin.


Evan pura-pura keluar kamar untuk mengambil minum. Padahal ia ingin melihat Dini. Melihat wanita pujaan hatinya itu.


Evan ingin melihat senyuman Dini secara langsung. Tidak melulu by phone.


"Ya Tuhan, dia manis sekali. Jadi gemes pengen nyium," gumam Evan. Untuk melampiaskan keinginannya itu, Evan pun meminum air putih sebanyak-banyaknya. Agar dahaga yang ia rasakan selama ini perihal cinta bisa segera terobati.


"Baiklah Din, sekarang kamu boleh balik ke bawah. Nanti ibu telpon kamu. Kalo bisa, sore ini kamu udah ikut ibu pulang," pinta Zaenab sesuai perjanjian yang ia buat dengan Evan.


"Siap, Bu. Kalo bos saya mengizinkan, saya pasti ikut ibu sore ini juga," jawab Dini, tegas.


"Ibu senang, Din. Kamu udah bantu ibu. Bantuanmu ini tidak akan pernah ibu lupakan. Ibu serius!" ucap Zaenab.


"Dini senang bisa membantu, Bu. Semoga Dini bisa jaga dek Almera dengan baik. Seperti amanah ibu," ucap Dini.


"Terima kasih, Sayang. Aduh, ibu nggak tahu mesti ngomong apa."


Ibu Zaenab tersenyum. Lalu Ia kembali berucap, " Din!".


"Ya Bu!"


"Kamu mau tahu nggak apa yang bikin ibu tambah senang?"


"Apq tidur, Bu?"


"Alangkah bahagianya ibu kalo kamu mau jadi mantu ibu," ucap Zaenab, dengan senyum manisnya.


Di dapur, Evan tersedak. Batuk terkejut. Terkejut dengan ucapan Zaenab. Tentu saja ini membuat Dini dan Zaenab ikutan terkejut.


"Kau kenapa Van?" tanya Bu Zaenab.

__ADS_1


"Nggak pa-pa, Ma. Ini sekertaris Evan kasih kabar, katanya Evan ada meeting sore ini. Mana bisa kan Ma ya. Kan sore ini Mama mau suruh Evan nganter jemput Dini kan ya. Ada-ada ni sekertaris. Nggak bisa gitu kasih Evan libur sehari aja," jawab Evan seraya melangkah menuju kamarnya kembali.


Tentu saja jawaban itu membuat Zaenab dan Dini speechless. Terdengar aneh dan tidak masuk akal. Tapi mau gimana lagi? Tak mungkin juga bagi mereka untuk meminta penjelasan. Atau mencari tahu kebenarannya. Bukankah hanya akan membuang-buang waktu saja?


Dini dan Zaenab hanya tersenyum melihat tingkah konyol Evan.


***


Di sisi lain, mau tak mau Robin harus mengikhlaskan Sella dibawa paksa oleh mucikari yang telah membuat perjanjian dengannya.


Sella tidak menolak secara fisik. Tetapi tatapan matanya seakan berjanji akan membuat seorang Robin menangis karena ini.


Dan, benar... dalam hati Sella memang telah berjanji. Bahwa dia pasti akan mencari cara untuk menghancurkan para pria yang berani menyakitinya.


"Lihat saja nanti!" ancam Sella dalam hati.


Di dalam mobil milik mucikari...


"Ingat, sekarang kau adalah anak buahku. Jangan coba macam-macam, mengerti!" gertak seorang wanita baruh baya dengan dandanan super modis itu.


"Baik, Mi. Apapun yang Mami perintahkan!" jawab Sella. Tanpa perlawanan.


Wanita ini tak mau menghancurkan musuh dengan tenaga. Tapi dengan kecerdasan otak. Sesuatu yang selalu ia pakai dan ia gunakan sampai detik ini.


"Baiklah, Sayang. Kamu memang penurut. Setelah ini kamu mandi dan bersolek lah yang cantik. Kita akan mulai petualangan kita mulai malam ini. Gimana oke?" ucap wanita itu semangat.


Sella tersenyum, lalu dia pun menjawab, "Baik, Mam. Apapun yang Mami perintahkan!"


Wanita paruh baya itu kembali tersenyum. Ia. senang dengan sikap Sella yang menurutnya sangat sopan. Sayangnya, ia tak menyadari bahwa sebenarnya ia sedang dimanfaatkan oleh Sella untuk memulai mengisi kekuatannya lagi. Setelah itu barulah ia akan bergerak menghancurkan mereka semua yang berani menjerumuskannya ke dalam neraka ini. Termasuk wanita ini.


Tanpa banyak yang tahu, dalang penangkapan Deon adalah dirinya. Bahkan perihal Robin yang saat ini menjadi buron. Di samping laporan yang dibuat oleh Dini, terlebih dahulu, Sella telah melakukan nya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2