Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Harus Pakai Strategi


__ADS_3

Bian dan Lita tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Dini. Nyatanya Dini memang sangat polos dan lugu.


"Kenapa kalian tertawa? Aku serius! Lihatlah banyaknya belanjaan itu. Aku sampai sewa mobil grab buat anterin tu barang-barang ke rumah," ucap Dini, bingung. Wanita yang kini sudah sah berstatus janda itu malah bingung melihat tawa kedua sahabatnya.


"Nggak... emang kamu nggak kenal ama tu mas mas? ha?" tanya Lita. Masih bertahan dengan tawa gelinya.


"Nggak," jawab Dini memelas.


Spontan Bian dan Lita pun kembali mengencangkan tawa mereka. Wajah polos Dini dan juga banyaknya belanjaan tak penting itu membuat mereka semakin merasa geli.


"Ih, kenapa kalian malah ketawa terus. Aku sungguhan ini. Ntar kalo dia ke sini gimana?" tanya Dini takut.


"Ke sini mau ngapain Din? Please lah kamu jangan terlalu parno gitu!" jawab Lita.


"Kali aja mau ngambil belanjaannya lagi. Kan kita nggak tau. Kali aja dia salah orang," jawab Dini.


"Ya nggak lah, masak diambil lagi. Kek nggak ada harga diri aja. Masak barang udah di kasih di minta lagi!" ucap Litam


"Ya nggak pa-pa, Mbak. Buka pintu aja, mungkin dia pengagum rahasia Mbak," tambah Bian.


"Ck, nggak lah. Mana ada janda sepertiku ada yang mengagumi. Suami sendiri aja nggak mau. Apa lagi orang lain. Dah lah, kalian malah membuatku pusing," jawab Dini, merajuk.


"Eh, Din... seandainya ada ma Alhamdulillah atuh. Berarti kamu Istimewa di mata seseorang. Iya kan, Bi?" balas Lita.


"Ah nggak ah, Ta. Aku masih nggak mau mikirin itu. Aku pengen menikmati kebebasanku. Pengan menyembuhkan luka yang ada di sini. Aku masih trauma, Ta," jawab Dini jujur.

__ADS_1


"Iya, kita tau kok. Tapi nggak ada gunanya juga kamu lama-lama terpuruk. Bangkit Din, ayo mulai lagi. Nggak ada yang nggak mungkin. Buka hati pelan-pelan. Siapa tahi jodohmu sedang otewe," jawab Lita.


"Haruskah aku mengamini doamu?" tanya Dini.


"Tentu saja, kenapa tidak? Kamu berhak bahagia, Din. Percayalah!" jawab Lita dengan senyum manisnya.


"Mbak, gini... kita boleh bersedih, kecewa pada satu hubungan. Tapi jangan berpikir bahwa hubungan yang lain pasti akan berakhir sama. Kan beda orang beda sifat Mbak. Siapa tau mas mas yang sekarang lagi ngincer mbak Dini ini pria baik. Iya kan Ta?" tambah Bian, berusaha menjadi makcomblang yang baik untuk Evan dan Dini.


"Tapi aku takut, Bi!" Dini meremas kedua jari jemarinya. Karena dia memang takut.


"Iya, kami tahu. Makanya kita sama-sama berdoa, semoga pria yang baik ini memang menginginkan mbak Dini jadi pasangan hidupnya."


"Dih, nggak dia juga kali Bi!"


"Nggak gitu juga gimana, Mbak? Ni Bian kasih tau ya, cowok tu.. kalo ada maunya pasti dia bakal nglakuin sesuatu yang tak terduga buat wanita yang dia incar. Contohnya pria aneh ini. Bian yakin dah, klo cowok ini punya maksud sama mbaknya. Percaya deh sama Bian!" ucap Bian, mencoba memperjelas maksud bosnya mendekati Dini. Sayangnya Dini yang telmi malah menolak penjelasan itu mentah-mentah. Membuat seseorang yang ikut mendengarkan perbincangan mereka by phone jadi geram.


***


"Dasar cewek lemot, uuuhhh... jadi gemes aku ku. Pengen tak culik, lalu tak cium biar sadar," gerutu Evan kesal.


Tak ingin Dini terus terjungkal dalam kebodohan, Evan pun berencana datang ke rumah Dini nanti. Ingin langsung mendatangi wanita itu dan mengajaknya menikah.


Namun keinginannya itu malah di larang oleh Bian.


"Astaga, Tuan. Bukan gitu cara deketin cewek." tulis Bian dalam pesan teksnya.

__ADS_1


"Lalu?"


"Harus pakek strategi. Harus kita buat sedramatis mungkin. Buat seolah-olah Tuan tidak mengincarnya, jangan tunjukkan kalo kita terlalu naksir sama dia. Pokoknya buat seoalah tidak terjadi apa-apa dengan hati kita, Tuan. Itu baru namanya laki-laki," jawab Bian.


"Kau pikir aku bukan laki-laki. Gila kau!"


"Bukan gitu, Tuan. Pokoknya gini. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk ngenalin kalian nanti. Jadi Tuan nggak usah sepusing itu. Percayalah, kalo kalian jodoh pasti ada jalan untuk ketemu. Oke. Oiya, Tuan, ngomong-ngomong tindakan anda yang ini menurut saya cukup ekstrim. Tapi lumayan lah cukup buat dia sedikit melupakan masalahnya dengan mantan suami. Saya rasa ini awal yang bagus!" tulis Bian.


"Benarkah? Bagus... Katakan padanya untuk buang ke sampah tu mantan. Ada aku yang siap bikin dia bahagia, oke!" jawab Evan semangat.


"Siap, Bos. Saya ada di pihak anda. Semangat menjemput jodoh, Bos. Anda luar biasa!" balas Bian.


Obrolan mereka berakhir. Bian memang harus punya banyak strategi untuk menghadapi Dini dan Evan. Mereka benar-benar seperti anak kecil. Menurutnya.


***


Di lain pihak, Sella tak berkutik ketika ia dipaksa masuk ke dalam mobil oleh beberapa preman. Sella tidak meronta sama sekali.


Bagi Sella, situasi seperti ini sudah biasa dalam dunianya. Selalu percaya, bahwa mereka hanya mengandalkan gertakan. Bukan kecerdasan otak.


Sella diam, karena ia ingin tahu siapa dalang salam penculikannya ini.


Setelah tahu, barulah ia akan mencari cara untuk melawan mereka.


Karena bagi Sella, percuma melawan sekarang, tenangan ya tak cukup mampu untuk melakukan itu. Sella memutuskan untuk mempelajari situasi terlebih dahulu. Barulah dia mengambil keputusan.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2