Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Keterlaluan


__ADS_3

Robin berhasil melarikan diri dari rentenir dan pihak bank yang mengejarnya. Bahkan ia juga berhasil terlepas dari beberapa masalah yang menjeratnya.


Namun tidak dengan Dini. Wanita ini malah hidup di dalam jerat masalah yang diciptakan oleh pria tersebut.


Kebohongan dan kelicikkan yang dilakukan oleh sang suami, memaksa Dini untuk ikut bertanggung jawab dalam masalah ini.


Seperti hari ini, Dini tidak mengangka jika ia aka mendapatkan tamu. Tamu yang cukup mengejutkan.


Di tempat kerjanya, Dini didatangi oleh dua orang berpakaian modis. Mereka mengaku pada Dini sebagai petugas bank.


"Maaf, Bu... kami sudah berusaha menghubungkan bapak Robinson selaku penanggung jawab atas hutang ini. Tetapi maaf, nomer ponsel beliau tidak bisa dihubungi. Dan kami juga sudah mencoba mencarinya di rumah, ternyata rumah pun kosong," ucap salah satu petugas itu.


"Rumah kosong? Tidak, Pak! Suami saya ada di rumah kok. Dan.. dan... dan ini... saya tidak percaya dengan ini. Suami saya bilang, dia tidak pernah menunggak membayar angsuran. Kenapa jadi banyak begini cicilannya, Pak?" tanya Dini gugup. Gemetar melihat nominal tagihan yang harus ia bayarkan.


"Kami tidak akan sampai ke sini jika bapak ada di rumah dan bertanggungjawab atas tunggakam ini, Bu. Jika anda tidak percaya dengan kami, silakan anda pergi ke bank dan cek langsung ke sana," jawab salah satu dari mereka lagi.


Shock... sungguh, Dini sampai tak bisa berpikir jernih. Pikirannya campur aduk entah ke mana!


Ingin rasanya ia percaya pada petugas bank ini. Tapi ia juga ingin percaya pada perkataan Robin selama ini. Suaminya itu begitu lembut dan sangat meyakinkan ketika berbicara. Membuat Dini tak bisa menerima kebenaran yang ada.


"Maaf, Bu, jika dalam waktu satu bulan ini, Ibu tidak bisa melunasi tunggakan ini, terpaksa rumah anda kami sita, Bu."


Kembali hati Dini terasa hancur. Darahnya berdesir takut.


Bagaimana tidak? Rumah tersebut adalah peninggalan orang tuanya. Bagaimana bisa ia menyerahkan kenang-kenangan orang tuanya itu pada pihak bank. Sungguh Dini tidak rela.


Pikiran Dini resah. Campur aduk rasanya. Kesedihan tentang rumah belum usai. Kini pernikahan yang ia damba-dambakan, ternyata malah membawanya ke jurang bencana.


Suami yang ia percaya, ternyata dia adalah seorang raja tega. Tega menjerumuskannya ke dalam petaka.

__ADS_1


"Bolehkah saya meminta waktu dua bulan, Pak. Saya janji saya akan melunasi tanggungan saya," ucap Dini, Lagi-lagi dengan suara gemetar.


"Soal itu, kami harus konfirmasi dulu ke pusat, Bu."


"Baik, saya tunggu kabar dari bapak-bapak sekalian. Terima kasih sudah berkenan datang ke sini, Pak. Maafkan saya sudah mengecewakan," ucap Dini.


"Siap, Bu. Terima kasih juga sudah menerima kami dengan baik. Kami permisi!"


Dini mengangguk sambil tersenyum. Namun senyum itu terasa masam baginya. Bagaimana tidak? Seseorang yang telah ia percaya, nyatanya telah mencekiknya, menusuknya bertubi-tubi.


Dini menangis dalam diam. Sungguh, ini adalah pengalaman terpahit dalam hidupnya dan Dini sama sekali tidak pernah menduganya.


Robin, pria itu... pria yang ia percaya itu, Dini bersumpah akan mencarinya dan meminta pertanggung jawaban atas semua yang terjadi padanya.


***


Semalam utuh Dini tidak bisa tidur. Tentu saja karena ia memikirkan masalah yang kini sedang ia hadapi.


Robin sungguh keterlaluan. Kebohongan yang ditinggalkan oleh pria itu, nyatanya sangat menyakitkan.


Benar apa yang dikatakan oleh pihak bank, bahwa pria itu tidak bisa mereka hubungi. Bahkan Dini pun tak bisa menghubungi.


Teringat dengan petugas Bank itu, Dini pun berinisiatif menghubungi Lita. Dan meminta sahabatnya itu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Ta.... maafkan aku, aku menghubungimu pagi buta begini, karena semalaman aku nggak bisa tidur," ucap Dini dalam isak tangisnya. Dini tak bisa menyembuhkan kesedihannya lagi, saat ini Dini tak mampu lagi menahan sesak di dada.


"Kamu kenapa, Din? Ada apa?" tanya Lita.


"Rasanya aku pengen mati saja, Ta. Robin keterlaluan," ucap Dini.

__ADS_1


"Mati? Mati kenapa? Ih jangan ngomong gitu ah!"


"Serius, Ta. Robin keterlaluan!" ucap Dini lagi. Tangisnya kembali meledak, sebelum ia kembali menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.


"Robin keterlaluan? Bikin ulah apa lagi dia?" tanya Lita.


"Kemarin ada yang datang ke tempat kerja aku, Ta. Mereka mengaku petugas bank. Mereka bilang Robin belum pernah bayar cicilan kami di bank. Mereka bilang, udah menghubungi pria itu. Tapi nggak bisa. Bahkan dia juga nggak ada di rumah. Kami bisa bantu aku cari info tentang dia nggak?" pinta Dini.


"Astaga! Aku kok sampai nggak tahu soal itu, Ta. Habis setelah selesai survei ke kamu, aku resign. Jadi nggak tahu kalo suamimu melakukan itu."


"Iya, Ta... aku ngerti kok. Lagian kamu juga nggak bisa ninggalin bisnis keluargamu. Gimana Ta, kamu bisa bantu aku nggak?"


"Bisa, Din... tenang ya. Nanti aku coba calling temen-temen deh, siapa tahu bisa bantu kita cari Robin. Oiya, biasanya dia mangkal di mana? Barang kali kamu tau?"


"Kalo nggak salah, dia suka nongkrong di perempatan Sugi Waras, Ta. Coba tanya tukang ojeg yang ada di sana. Barang kali tau!" jawab Dini.


"Oke deh, nanti aku kabari. Oiya, kamu di kasih waktu berapa lama sama pihak, Bank?" tanya Lita.


" Cuma satu bulan, Ta... aku pusing. Kamu tau kan aku baru kerja. Nggak mungkin aku bisa dapet uang sebanyak itu. Aku pun masih banyak utang sama kamu waktu itu, buat bayar karyawan aku. Aku nggak tau lagi mesti gimana, Ta?" jawab Dini. Seketika tangisnya kembali pecah. Sungguh, Robin begitu tega padanya. Tega menyiksa dirinya.


"Sabar Din, semua masalah pasti ada solusi. Nikmati prosesnya, pasti Allah bakalan kasih jalan kok ke kamu. Oke!" jawab Lita.


Dini tersenyum kecut.


Hatinya sendikit merasa lega. Andai tak ada Lita, Dini tak tahu harus mengadu pada siapa?


Robin sudah sangat keterlaluan. Pria yang Dini agungkan, yang Dini cintai. Ternyata adalah seorang bajingan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2