Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Desakan Evan


__ADS_3

Pria bajingan itu menatap Sella dengan tatapan sedih. Seperti ada rasa sesal di sudut hati yang terdalam.


Ingin rasanya ia belari ke arah wanita yang selama ini ia cari. Ia ingin meminta maaf pada wanita yang telah di sakitinya itu.


Bagaimana dia tidak menyesal?


Saat ia berjuang mendapatkan Sella, wanita itu rela meninggalkan keluarganya dan memilih hidup dengannya dengan segala keterbatasan.


Lalu setelah keduanya memiliki kehidupan yang lebih layak, ia malah memilih bermain hati. Selingkuh dan judi.


Sang pria bahkan begitu tega menjualnya pada seorang mucikari.


Gugatan cerai yang dilayangkan Sella, nyatanya menyadarkan pria itu, bahwa ternyata ia masih mencintai Sella dan tidak bisa hidup tanpa wanita itu.


Penyesalan itu merengkuh nya ketika ingat bahwa Ia lah yang menghancurkan wanita yang saat mencintainya itu. Ia lah yang menjerumuskan wanita yang memiliki ketulusan luar biasa padanya itu.


Andai waktu bisa di putar kembali, ingin rasanya pria ini memeluk wanita itu. Dan memintanya kembali ke rumah.


Sayangnya, berbeda dengan Sella. Sella memilih diam dan mengabaikan pria itu. Ia sangat tidak tertarik dengan apa yang dilakukan pria itu setelah bercerai darinya.


Rasa sesal dan sakit hati yang Sella rasakan, sangat tidak mudah untuk ia lupakan.


***


Di lain pihak...


Karena coki yang biasa memasak untuk keluarga Ibu Zaenab sedang sakit, Dini menawarkan diri untuk membantu memasak untuk makan malam.


"Emang Dini bisa masak?" tanya Ibu Zaenab.


Dini tersenyum.


"Ya bisa lah, Ma. Dulu Dini kan pernah punya usaha catering. Ya kan Din?" saut Evan.


Spontan Dini dan seluruh orang yang ada di ruangan itu pun terkejut plus bertanya-tanya, dari mana Evan tau tentang itu. Padahal Dini belum pernah cerita apapun tentang dirinya.


"Dari mama kau tau, Van? Dini belum pernah cerita tu ke mama. Ke kamu udah pernah cerita belum, War? Atau mungkin sama yang lain?" tanya Zaenab heran.

__ADS_1


Bukan hanya Zaenab yang heran, Dini dan Wart8 pun ikut bingung di buatnya.


"Saya belum pernah cerita apapun tentang masa lalu saya sama orang lain, Bu. Saya sendiri pun heran, dari mana Mas Evan tahu tentang itu," jawab Dini.


Evan tidak panik, bahkan ia terkesan santai, "Kenapa kalian semua meremehkanku. Kalian lupa aku punya banyak anak buah untuk mencari tahu siapa yang mau bekerja padaku. Apa lagi jaga putriku, aku harus tau detail apapun tentangnya. Bahkan saat ini Dini pakek bra apa juga aku tau." Evan terkekeh.


Spontan, mata ketiga wanita itu pun melotot. Terlebih Dini. Wanita cantik ini langsung memeluk tubuhnya sendiri. Merasa sangat risih dengan jawaban itu.


"Kau serius, Evan. Jangan bikin Dini takut kamu!" ucap Ibu Zaenab, kesal.


Seketika Evan pun tertawa.


"Mas Evan serius tau warna bra Dini?" tanya Dini, dengan wajah tegang karena takut.


"Ya nggak lah. Kamu ini, emang aku pria apaan?"


"Lah tadi, bilangnya." Dini masih meladeni kejahilan Evan.


Evan tertawa, lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ketiga wanita bodoh yang berhasil ia jahili ini. Sedangkan ketiga wanita itu hanya melongo. Belum ada yang menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang ditipu olehnya.


"Nya, tuan muda kenapa sekarang jadi jahil begitu. Biasanya angkuh. Senyum pun tak pernah?" tanya Warti heran.


Sedangkan Dini hanya diam. Ucapan Evan nyatanya membuatnya merinding. Bagaimana jika ia tahu bahwa ia pernah melewati masa memalukan dalam hidupnya. Bagaimana jika Evan tahu, bahwa dirinya pernah tertipu?


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan....


Bohong kalau Dini tidak takut. Bohong kalau Dini tidak was-was. Nyatanya Dini tidak ingin jika masa lalunya diketahui oleh orang lain.


Melihat Dini murung, Ibu Zaenab pun paham. Saat ini, ia pasti sedang memikirkan ucapan Evan. Tak ingin pegawainya itu terkekan, Ibu Zaenab memutuskan untuk meminta penjelasan pada Evan.


Di ruang kerja Evan..


"Van, mama mau bicara!" pinta Ibu Zaenab.


Evan sedang duduk anteng di meja kerjanya.


"Mama mau bicara apa? Bicara saja, Ma!" balas Evan.

__ADS_1


"Beneran kamu udah tau semua tentang Dini? Rasanya cepat sekali dan nggak masuk akal, Van!" ucap Ibu Zaenab.


Evan tersenyum. Ternyata sang ibu memang tidak mengenalnya dengan baik.


"Kalo Evan nggak tau semua tentang dia, mana mungkin Evan mau menikahinya, Ma. Mama ini kadang-kadang nggak logis!" jawab Evan santai.


"Oke, anggap saja kamu tahu semua tentang Dini. Tapi sejak kapan?" tanya Ibu Zaenab, makin penasaran.


"Sejak dia kecelakaan," jawab Evan jujur.


"Ha? ka... kamu... kamu kok tahu?" tanya Ibu Zaenab, sport jantung.


"Taulah Ma, Evan gitu loh. Pokoknya gini, Evan bakalan kasih tahu mama semua tentang Dini, kalo mama berhasil membuatnya jadi istri Evan. Evan janji," janji Evan.


"Tapi gimana kita mau jadiin dia mantu? Kita kan nggak tau siapa keluarganya!" jawab Ibu Zaenab.


"Dini itu anak tunggal, Ma. Ibu bapaknya sudah meninggal juga. Dia itu sebatang kara."


"Ha? Kok kamu tau?"


"Astaga, Ma! itu lagi di tanyain. Ya tau lah, kalo nggak tau mana mungkin Evan mau jadiin dia istri. Mama ini, mbulet!"


"Sungguh, Van... saat ini mama nggak habis pikir sama kamu. Kamu sudah suka sama dia lama kan? Terus kenapa baru sekarang kamu ngebet mau nikahin dia. Kenapa nggak dulu-dulu?"


"Karena dia masih memiliki ikatan dengan pria lain, Ma. Sekarang dia udah terlepas dari itu. Makanya Evan maju."


"Jadi dia?"


"Ya, Dini janda Ma."


"Ya Tuhan? Kamu nggak masalah sama janda, Van?"


"Nggak! Dia baik, Ma. Bahkan lebih baik dari wanita-wanita yang mengaku gadis, tapi udah rusak duluan. Kalo Evan sih lebih suka yang seperti Dini. Dia baik, dia punya ketulusan yang luar biasa. Lihat saja cara dia mengurus Mera. Dari situ saja, Mama bisa tau kan kalo dia baik."


"Iya sih... "


"Pokoknya Evan kasih waktu dua hari. Evan mau Mama udah punya cara dan berhasil bikin Dini jadi istri Evan. Evan nggak mau tau. Kalo nggak, Evan bakalan pergi and nggak mau pulang," desak Evan serius.

__ADS_1


Ibu Zaenab langsung diam. Ia tau jika ancaman itu tak main-main.


Bersambung...


__ADS_2