
Hidup tak selamanya membawa kita pada keberuntungan. Maka jangan terlalu terlena ketika kamu berada di atas.
***
Seminggu Kemudian...
Sesuai janjinya pada sang kekasih, akhirnya Robin pun menepati janji itu. Untuk kembali berlaga di meja judi.
Dengan uang yang ia miliki, Robin pun berangkat ke tempat laknat tersebut dengan penuh percaya diri.
"Sayang, kamu di mana?" tanya Sella, manja, tak sabar dengan permainan mereka kali ini. Kali saja, Robin akan menang lagi dan dia pasti juga bakalan ikutan panen. Itu sebabnya, Sella sangat bersemangat.
"Sabar, Sayang. Mas udan otewe nih. Mas udah di taksi kok," jawab Robin, santai.
"Emmm, manisnya.... ya udah Sella tunggu di depan pintu ya," jawabnya, centil.
"Oke, ingat... nanti kamu harus berada di sampingku. Biar aku beruntung, Sayang. Dewa keberuntungan ku adalah kamu, Sayang. Jangan lupa ya. Aku mau menang, kek kemarin!" pinta Robin.
"Tentu, Honey! apa sih yang nggak buat kamu."
Robin tersenyum. Begitu pun Sella. Seseorang yang sedang dimabok asmara memang tak ada obatnya. Hanya mendengar suara manja-manja saja, sudah bisa membuat mereka melambung ke tinggi sampai langit ke tujuh! Dasar!
***
Kini, Robin didampingi oleh Sella sudah sampai ke tempat tujuan. Bahkan tempat untuk pertarungan itu juga sudah siap.
Robin duduk penuh percaya diri di kursi yang di khususkan untuknya.
Dengan di dampingi Sella, Robin pun siap memulai pertarungan itu.
Senyum merekah sempurna ketika di permainan pertama dan kedua. Robin menang telak. Robin berhasil menang. Bahkan ia berhasil mendapatkan untung tiga kali lipat dari modal awal.
"Kamu memang hebat, Sayang. Aku bangga padamu," bisik Sella seraya memberikan kecupan mesra di pipi kekasihnya.
"Ini berkat doamu, Sayang." Robin ikut tersenyum, bahagia.
Tak banyak bicara, mereka pun kembali memulai permainan. Sayangnya di slot ketiga dan seterusnya Robin kalah. Kalah hingga semua uang yang ia punya habis ludes tak tersisa.
"Brengsek!! Kenapa bisa begini! Apakah kalian curang?" bentak Robin marah.
"Jangan gitu, Brother. Kami di sini bermain sportif. Yang lain kalah pun tak masalah. Lihat mereka, kecewa tapi tidak marah. Mungkin hari ini dewi fortuna sedang berpihak padaku hahahhhaha!" jawab pemenang di permainan itu.
"Sial!" umpat Robin, emosi.
__ADS_1
"Sabar, Sayang. Jangan emosi. Kita balas mereka minggu depan!" bujuk Sella.
Robin mengangkat wajahnya. Lalu menatap Sella dengan tatapan penuh tanya. "Bagaimana kita bisa main, Sayang? Uang kita sudah habis!"
"Tenang Honey, nanti aku bantu cari solusi. Sebaiknya kita pergi dulu dari sini!" ajak Sella. Karena ia sudah mendapatkan kode dari keamanan di sana, agar segera membawa Robin pergi. Mereka tak mau terjadi keributan di sini. Sebab jika itu terjadi, maka ini akan mencoreng nama baik bisnis mereka. Sebagai tepat judi yang aman anti pertikaian.
Robin menuruti nasehat Sella. Meski berat hati, ia tetap harus meninggalkan tempat judi ini.
Lemas, marah, kesal, itu pasti, tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi.
Di dalam taksi..
"Sayang, jangan sedih gitu dong. Kita kan masih ada istrimu. Tenangkan dirimu!" rayu Sella, manja.
"Istriku? gila aja kamu. Aku sudah sering mencuri uangnya," tolak Robin.
"Itu bukan mencuri, Sayang. Kalian kan suami istri. Harta istri harta suami, kan. Jadi nggak nyuri, Sayang! Harta dia itu hakmu kok. Jadi terserah mu mau kamu pakek apa?" rayu Sella, manja.
Robin diam sesaat. Lalu kembali memikirkan ucapan sang kekasih. "Kamu bener juga, ngapain aku ribut. Masih ada dia ini."
"Kan... makanya jangan panik. Tinggal korek-korek harta dia saja. Ngapain panik." Sella memanyunkan bibirnya.
"Tidak, Sayang. Aku nggak bisa nyuri barang dia terus. Gimana kalo aku pakek uang kamu dulu. Uang yang aku kasih kemarin. Masih ada kan?"
Jleepp...
Sella menatap bingung. Karena uang yang diberikan Robin sebenarnya sudah habis. Habis ia gunakan untuk ke salon, ke spa dan juga shoping barang-barang yang sudah lama ia inginkan.
"Gimana? Boleh nggak?" tanya Robin.
Sella tersenyum. Namun ia tetap memikirkan jawaban atas permintaan itu. Beruntung,Sella sangat pandai bersilat lidah. Dengan cepat, ia pun menjawab permintaan itu.
"Bukannya nggak boleh, Sayang. Tapi uang itu udah aku beliin tanah. Kan nggak lucu kalo dijual lagi. Baru juga seminggu beli. Iya kan. Lagian itu kan untuk investasi masa depan kita. Kan?" tolak Sella cepat.
Mendengar jawaban penuh rayuan itu, tentu saja Robin langsung percaya. Menurutnya Sella memang selalu bisa berpikir ke depan untuk masa depan mereka. Tidak seperti dirinya yang selalu mengedepankan napsu.
"Baiklah, Sayang. Aku capek. Biarkan aku istirahat dulu. Aku mau menenangkan pikiran. Nanti aku coba cari solusi."
"Iya, malam ini menginap lah. Besok baru pulang."
"Makasih ya, Sayang. Kamu selalu mengerti akan keadaanku."
"Iya, Cinta. Udah tidurlah dulu. Nanti kalo udah sampai rumah, aku bangunin," jawab Sella, mesra.
__ADS_1
Begitulah kepandaian setan ketika memperdaya targetnya. Lihatlah seorang Robin yang terkena oleh tipu daya Sella. Wanita yang ia percaya. Namun, nyatanya wanita itulah yang menjerumuskannya ke neraka. Dasar pria laknat, tak pandai bersyukur.
Rasain!
***
Di lain pihak, Dini dibuat heran dengan kehadiran beberapa orang berpakaian preman sedang mondar mandir di depan rumahnya. Seperti sedang mengawasi gerak-geriknya.
Sebenarnya Dini ingin bertanya. Namun takut. Takut jika ternyata mereka memang sedang mengawasi rumahnya dan berniat jahat terhadap dirinya dan juga sang suami.
"Ah, sebaiknya aku tidak ikut campur urusan orang lain atau aku akan susah sendiri nanti," gumam Dini, sembari terus bersiap untuk berangkat ke kedai.
Namun ketika ia hendak melangkahkan kaki ke luar rumah, ia dikejutkan dengan bunyi ketukan pintu. Dengan tenang, Dini pun melangkah mendekati pintu untuk menyambut siapa yang datang.
Dini sedikit terkejut, karena yang mengetuk pintu rumahnya adalah mereka. Pria-pria yang mondar-mandir di depan rumahnya sejak beberapa hari terakhir ini.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dini pada ketika orang berpakaian preman itu.
"Maaf, apakah benar ini rumah bapak Robinson Manan?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya benar, Pak. Ini adalah rumah pak Robinson, tapi ada masalah apa ya?" tanya Robin gugup.
"Maaf, Bu. Apakah bapak ada?"
"Tidak, Pak. Beliau sedang keluar kota."
"Oh, kapan beliau pulang?"
"Mungkin besok, Pak. Emm, maaf, kalo boleh saya tahu, bapak-bapak ini siapa ya? Dan apa masalah bapak-bapak dengan suami saya?" tanya Dini lagi.
"Jadi begini, Bu. Kami adalah dep kolektor dari daerah. Kami sengaja datang mencari bapak ke sini karena beliau memiliki hutang pada koperasi kami dan sudah menunggak beberapa bulan. Kami datang untuk meminta pertanggungjawaban beliau," jawab pria tersebut sembari menyerahkan bukti tertulis tentang apa yang mereka sampaikan.
Dini membaca dengan teliti setiap kata yang tertulis di sana. Dan benar, di sana tertulis nama dan data diri sang suami. Membuat Dini tidak bisa mengelak tentang hutang piutang tersebut.
"Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Karena saya sungguh tidak tahu menahu tentang hutang piutang ini. Hutang piutang ini terjadi sebelum kami menikah. Tetapi saya akan segera mengkonfirmasi masalah ini secepatnya dengan beliau. Semoga kita bisa mendapatkan jawaban dan pertanggungjawaban segera dari beliau. Bagaimana?" ucap Dini, mencoba mencari titik temu dari permasalahan yang saat ini sedang mereka hadapi.
"Baik, Bu.. tiga hari lagi kami akan datang ke sini untuk menanyakannya kembali. Namun, jika tidak ada itikad baik dari suami anda, terpaksa kami bertidak kasar. Saya rasa suami anda susah tahu konsekuensi sebelum menandatangani surat perjanjian ini," jawab salah satu dari mereka. Terdengar mengancam, namun itulah ketegasan mereka.
"Baiklah, Pak. Sebelum saya minta maaf atas kelalaian suami saya. Kami akan menyelesaikan masalah ini segera."
"Baiklah, Bu. Kami permisi. Semoga bapak segera melunasi hutang-hutangnya, agar tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan."
"Baik, Pak, terima kasih banyak. Maafkan kami ya, Pak," sembari membungkukkan badan meminta pengertian orang-orang itu.
__ADS_1
Selepas kepergian orang-orang itu, Dini mengembuskan napas lega. Meskipun mereka bertiga membawa kabar yang kurang menyenangkan. Namun, Dini sedikit lega. Setidaknya mereka bertiga tidak menyakitinya.
Bersambung...