
Kabar tentang akan kembalinya Sella, membuat Robin senang. Karena tanpa Sella tahu, yang terjadi padanya selama ini adalah karena ulahnya.
Robin sangat bekerja keras untuk itu. Salah satu gengnya yang saat ini bekerja sebagai pembunuh bayaran seperti dirinya, mendapat tugas mengawal ke Thailand.
Kesempatan itu digunakan Robin untuk meminta bantuan pada sahabatnya itu. Untuk membuat Sella susah. Dengan mencuri semua yang wanita itu miliki. Hingga Sella menjadi gelandangan di sana.
Seperti kepercayaannya selama ini, bahwa Dewi Fortuna selalu berpihak padanya, akhirnya sahabat Robin pun berhasil menemukan wanita itu. Dengan pergerakan yang sulit dinalar dengan pikiran, akhirnya pria itu berhasil membuat Sella susah. Hingga wanita itu diusir dari kos dan menjadi gelandangan.
"Bagaimana? apa wanita itu sudah ditemukan?" tanya Robin pada salah salah satu pria yang kini bekerja sama dengannya.
"Sudah, kamu tenang saja. Sebentar lagi dia juga bakalan balik. Kamu siap-siap saja kasih kami pertunjukkan keren," jawab pria bertato itu.
"Heh? Gila ... kalo lu mau, silakan saja makan. Aku muak dengan wanita seperti itu. Aku hanya ingin dia membayar apa yang sudah dia lakukan padaku!" jawab Robin geram.
"Weehhhh, sadis pisan si Bro. Tenang aja Brother, kita dandanin dia yang cantik. Setelah itu kita suruh dia kerja rodi. Gimana?" tanya pria bertato itu.
"Oke, carikan saja mucikari yang hebat. Kita buat hidupnya seperti di neraka. Seperti yang ia lakukan padaku," ancam Robin lagi.
Beberapa teman Robin yang ada di tempat itu langsung tertawa. Menertawakan bagaimana Robin bisa terjerat oleh dusta berbalut cinta. Sampai dia kehilangan kendali dan kehilangan akal demi menuruti keinginan wanita itu.
Robin tidak marah dengan ledekan para sahabatnya itu. Karena itu adalah kenyataan yang ada. Untuk apa marah? Toh sekarang dia sudah berubah. Sudah tak menginginkan wanita itu lagi. Bahkan dia berniat menjerumuskan wanita itu ke lobang mereka. Kalau bisa sedalam-dalamnya. Hingga wanita itu tak mampu lagi keluar dari sana.
Bukan hanya perihal Sella, Robin mengubah perasaannya. Dengan Dini pun sama. Namun, jika dengan Dini, perasaan yang selama ini ia rasa hambar, kini berubah penuh cinta. Cinta yang menggebu dan kadang mencekiknya. Sayangnya, Robin tak berani mendekati wanita itu. Karena ia tahu, jika ia berani mendekati Dini, itu artinya dia siap menyerahkan diri ke polisi. Bukankah begitu?
__ADS_1
***
Di lain pihak...
Sini ditemani oleh Bian dan Lita, akhirnya memberanikan diri pergi ke kantor pengadilan agama. Tentu saja untuk mendaftarkan perceraiannya dengan pria itu. Sedangkan peran Bian dan Lita di sini adalah sebagai saksi.
"Gimana? Lega?" tanya Lita tersenyum bahagia melihat sahabatnya itu akhirnya bisa keluar dari kehidupan toxic yang menjeratnya selama ini.
"Ya... rasanya luar biasa, Ta. Rasanya aku nggak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Sungguh, ini sangat luar biasa. Akhirnya!" ucap Dini sembari memeluk sahabat baiknya itu.
"Kamu wanita hebat, Din. Kamu pasti bisa," jawab Lita.
"Ya. Ini semua karena dukunganmu, Ta. Tanpamu aku tak mungkin sampai di titik ini. Dan kamu, Bian... thank you so much. Kamu adalah malaikatku. Terima kasih banyak untuk semuanya. Untuk bosmu juga ya. Tolong sampaikan salamku untuknya. Tolong sampaikan rasa terima masihku padanya. Dia juga sesekali yang luar biasa untukku," ucap Dini, antara senang dan sedih. Antara ingin menangis dan tertawa.
Dini menatap surat cerai itu. Berdoa dalam hati, semoga ini bukanlah mimpi. Tapi kenyataan yang ia nanti selama ini. Tak lupa, Dini juga meminta pada pemilik hidup, agar Robin segera tertangkap dan bisa kembali ke jalan yang benar.
***
Di balik kebahagiaan Dini, ternyata ada satu hati yang mencoba menepis segala rasa yang ia rasakan untuk wanita yang pernah celaka karena kecerobohannya itu.
Dialah Evan. Seorang pengusaha tampan dengan segala kesempurnaannya.
Tanpa ada yang tahu, ternyata Evan telah jatuh cinta pada Dini sejak pertama kali ia mendengar kisah hidup wanita itu dari asisten pribadinya, si Bian.
__ADS_1
Namun, Evan tak ingin gegabah membuat keputusan. Dengan mendekati wanita itu yang nyatanya masih berstatus istri orang.
Bian sebenarnya paham dengan perasaan bosnya yang dia pendam selama ini. Hanya saja, Bian pun tak berani bertidak macam-macam. Sebab Evan sudah mewanti-wanti dirinya, agar Dini jangan sampai tahu tentang dirinya. Meskipun hanya sebatas wajah.
Evan tersenyum senang ketika mendapat pesan berupa gambar Dini yang sedang tersenyum sambil memeluk surat cerai miliknya. Bukan hanya sebuah foto yang dia terima. Ternyata Bian juga merekam setiap percakapan mereka dan menyarankannya pada Evan. Karena itulah tugas utama yang diberikan oleh Evan selama ini.
Pantas saja Bian tak pernah memanggil Dini dengan sebutan nama. Ternyata ia menghargai wanita incaran bosnya itu. Sebab hampir percakapan yang ia lakukan bersama Dini selalu ia laporkan pada bos beratnya. Astaga Bian? Bisakah ini dikatakan sebagai sebuah pengkhianatan. Hanya Dini dan bisa menilai ini.
"Carikan dia tempat tinggal yang bagus dan aman. Masalah biaya, biar aku yang tanggung," tulis Evan dalam pesan singkatnya.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Buka saya tidak mau, saya rasa anda sudah sangat paham dengan sifat calon nyonya, Tuan," balas Bian.
Evan mendecak kesal. Sebab Bian selalu memberikan jawaban yang sama setiap ingin yang ia lontarkan.
"Gemas sekali aku dengan wanita itu. Ingin rasanya ku culik dan ku masukkan ke dalam kamarku. Susah sekali dikasih fasilitas bagus. Ahhh... entah apa yang dia inginkan," gerutu Evan kesal.
"Ya sudah terserah dia saja. Pokoknya pastikan dia tidak kenapa-napa dan pastikan juga mantan suaminya tidak bisa menyentuhnya. Akan ki ledakkan kepalanya jika dia berani menyentuh wanitaku. Paham!" tulis Evan lagi.
Di seberang sana Bian tersenyum. Ternyata bos besarnya kelewat senang sekarang. Hingga kebuciananya pada Dini terlihat jelas.
Namun sebagai bawahan, Bian sangat mendukung jika bosnya ini menikah dengan Dini. Setidaknya luka yang sama-sama mereka miliki bisa segera terobati.
Bersambung...
__ADS_1