
Dini kembali masuk ke dalam minimarket. Masih dalam keadaan bingung tentunya.
Tak ingin membuat para pelanggannya lama menunggu, Dini pun kembali ke tempatnya bekerja, melanjutkan pekerjaannya tanpa banyak bicara.
Selesai melayani para pelanggannya, Dini pun duduk termenung di bawah kolong meja kasir.
Menatap struk belanjaan pria aneh itu serta uang kembalian dari pria tersebut. Hingga ia tersadar ketika salah satu teman kerjanya bertanya padanya.
"Tadi itu siapa Mbak? Aneh sekali deh?" tanya Salsa, salah satu teman Dini.
"Entah, aku nggak kenal dia. Nggak pernah lihat juga," jawab Dini jujur.
"Mungkin beliau pengangum rahasiamu, Mbak," ucap Salsa.
"Ah, nggak lah... mana ada begitu. Aku malah takut, Sa. Ni buat kamu aja lah," ucap Dini sembari menyodorkan uang sekaligus struk belanjaan itu untuk Salsa.
"Ah nggak, Mbak. Itu kan rezeki mbak Dini. Kalo dibagi sikit saya mau. Tapi kalo semua ya nggak mau. Nanti kalo masnya marah piye? . Coklatnya boleh deh, Salsa mau. Tapi jangan bilang-bilang sama masnya ya, Mbak," jawab Salsa, dengan senyum manisnya.
"Nggak lah, lagian aku kan nggak kenal sama masnya. Pakek kaca mata, pakek masker gitu. Lagian aku juga nggak punya teman sekeren itu. Ada sih, yang sering ke sini tu. Tapi kan nggak sekeren yang tadi. Tadi tu kek orang luar ya," ucap Dini.
"Iya mbak, tinggi putih gitu. Kek orang Rusia. Kek CEO CEO gitu loh!" jawab Salsa, sok tau.
"CEO, sok tau kamu. Emang kamu pernah lihat CEO di mana?"
__ADS_1
"Ye... Mbak Dini, makanya gaul. Jangan mesin kasih aja yang Mbak Dini lihat. Sesekali nonton pilem koreyah, pilem turki, pilem meksiko, wihhh. mantap mbak cowoknya. Kalah kalo cuma orang sini aja ma," jawab Salsa menggebu.
"Hussst... kamu ini. Dah ah. Gimana ini? bantu aku cari solusi!" pinta Dini.
"Salsa mana tau Mbak. Udahlah Mbak, simpan saja. Nanti kalo masnya ke sini balikin kalo mau dibalikin," jawab Salsa.
Dini menatap serius pada teman kerjanya itu. Lalu ia pun berucap, "Oke deh. Kamu jaga sini dulu ya. Aku simpan ini di belakang. Siapa tau bapaknya itu datang lagi. Nanti aku bisa balikin. Kurasa dia tu salah orang," jawab Dini seraya membawa beberapa kantong belanjaan yang diberikan padanya oleh pembeli misterius itu.
Bohong kalau Dini tak ketakutan. Baginya, cukup satu pria yang membuatnya hancur sehancur-hancurnya. Dini berharap, tak ada lagi laki-laki yang mendekatinya. Apapun alasannya. Dini tak ingin terluka lagi.
***
Di lain pihak...
Wanita yang pastinya akan menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk mereka.
Jangan panggil dia Robinson kalau tak pandai menggadaikan sesuatu.
Ya, tanpa Sella tahu, ternyata dirinya sekarang sudah digadaikan oleh Robin kepada salah satu mucikari hebat di negeri ini. Yang sudah memiliki banyak pelanggan. Baik dari kalangan pejabat, selebritis maupun pengusaha.
"Bagaimana? Apa pesawatnya sudah mendarat?" tanya Robin pada teman yang membantunya menjemput Sella di bandara.
"Belum Bin, astaga! Nggak sabar amat. Tenang-tenang. Tim kita sudah siap di pintu kedatangan. Serahkan semua pada kami," jawab Zigas, salah satu teman Robin.
__ADS_1
"Hemmm, aku percaya pada kalian. Kabari aku jika ada apa-apa," pinta Robin.
"Siap. Yang penting bagi hasil."
"Iya, Brengsek. Sial!"
Robin menutup panggilan teleponnya. Menatap layar ponselnya kesal. Namun ketika tak sengaja jarinya menyentuh layar ponsel itu dan foto Dini terpampang manis di sana, spontan Robin pun tersenyum.
Ternyata Dini memang sangat manis. Bahkan sangat manis di banding wanita-wanita yang pernah berhubungan dengannya.
"Maafkan aku sayang. Maaf aku telah membodohimu. Maafkan aku telah menyakitimu. Tapi aku berjanji, setelah aku menghancurkan wanita itu, aku pastikan aku akan kembali menemuimu dengan versi lebih baik. Tolong jangan berhubungan dengan pria lain dulu. Tolong tunggulah aku, sebentar saja. Tolong jangan daftarkan perceraian kita, tunggulah aku Sayang," ucap Robin penuh harap pada foto Dini yang ada di layar ponselnya.
Sungguh, Robin menyesal telah mengirimkan surat kuasa itu pada Dini. Harusnya dia tak mengirimkan surat tersebut terburu-buru.
Apa lagi saat ini tujuannya hampir tercapai. Menangkap Sella dan menghakimi wanita jal*ng itu.
Robin sangat berharap Dini mau menunggunya. Menunggunya datang seperti dulu. Seperti ketika mereka masih bersama.
Robin rindu tatapan lembut mata Dini. Robin rindu masakan wanita itu. Robin rindu perhatian Dini. Robin rindu arin tubuh Dini. Robin rindu semua yang ada dalam diri wanita itu. Itu sebabnya ia ingin berjuang membalas dendamnya, setelah itu ia berjanji untuk kembali pada Dini.
Bersambung...
Makasih yang udah mengikuti kisah kak Dini... kita doakan semoga mas Evan bisa gercep. Jangan sampai dia keduluan si Robinson itu😕. Sambil nunggu, yuk mampir ke karya emak yang baru😍
__ADS_1