
Satu tahun kemudian...
Sampai detik ini, belum ada kabar terbaru dari kasus yang Dini hadapi. Robin masih bebas berkeliaran.
Dini tak ingin terlalu memusingkan keadaan itu. Yang ia bisa ia lakukan saat ini hanyalah berdoa, agar masalah yang ia hadapi bisa segera terselesaikan.
Kini, Dini sudah bekerja. Sebagai kasir di salah satu minimarket milik Lita.
Lita sengaja memperkerjakan Dini di sana, karena menurutnya tempat itu memiliki sedikit resiko bertemu Robin.
Lita takut, jika Dini ditempatkan di minimarket pinggir jalan raya, maka resiko bertemu dengan pria bajingan itu sangat besar. Lita dan orang tuanya tidak ingin Dini mendapatkan ancaman dari pria itu lagi.
Di suatu siang yang panas...
Lita sengaja mampir ke apartemen kakaknya. Sekaligus ia ingin mampir ke minimarket miliknya di sana. Tentu saja ingin menemui sahabat terbaiknya.
"Selamat siang Bu Kasir? Apa kabar?" canda Lita sembari menyerahkan satu coklat dan satu botol mineral di atas menjadi kasir Dini.
"Siang Ibu Bos. Gimana kabarnya? Jahat ih mentang-mentang udah jadian ama mamas Bian. Melupakan rakyat jelata sepertiku," jawab Dini seraya men scan belanjaan sahabatnya.
"Ih, siapa bilang aku jadian ama dia. Ngaco deh!" jawab Lita, tersipu malu.
"Ih, ngeles. Aku udah tahu semuanya. Kemarin Bian kan ke sini. Minta pendapat aku. Aku jawab ya serah dia, kalo nyaman ya jalani. Kan!" jawab Dini sembari menerima uang dari Lita.
"Huusssttt... diammm... ahhhh, malu!" jawab Lita sembari menutup mata malu-malu.
"Malu... ngapain malu ... ngeselin. Kapan mau traktir. Dah lama kamu nggak traktir aku. Lihat rakyat jelata mu ini. Badan makin kurus kering gini gara-gara fokus mengumpulkan pundi-pundi rupiah buat beli rumah lagi," jawab Dini.
"Hilih... siapa suruh diajak nikah sama juragan kontrakan nggak mau. Kalo gini miskin kan lu!" canda Lita.
"Apaan? Yang ono aja belum kelar masalahnya. Masak udah mau kawin lagi. Ogah... ogah.. m pokoknya ogah. Nyong nggak mau nikah lagi. Titik... sampai kapanpun ogah. Titik no koma pokoknya," jawab Dini semangat.
"Dasar, udah mending kamu daftarin perceraian kamu aja. Ngapain masih nunggu pria jahanam itu ha?" tanya Lita.
__ADS_1
"Bukan nunggu dianya, Bestie. Aku lagi ngumpulin dana buat bayar juga. Emang lo Kate cere nggak bayar apa?"
"La hari itu dibantuin pak bos nggak mau!"
"Diam... diam... jangan sebut dia lagi. No... pokoknya no. Aku nggak mau nerima uang dia lagi. Lihat orangnya nggak pernah, tapi pakek uang dia terus. Aku nggak mau Lita. Jangan pernah bahas dia lagi. Pokoknya no.... " jawab Dini sembari menunjuk kesel plus gemas pada sahabatnya ini.
"Iya... iya... gitu aja sih. Tapi kamu bener juga sih. Kita kan nggak pernah lihat muka tu si bapak. Mas Bian aja ku rayu nggak mau kasih tau. Dia bilang gini, jangan nanti kamu malah pilih dia di banding aku. Kan kesel ya," jawab Lita sembari memakan eskrim yang ia beli di minimarketnya sendiri.
"Lah makanya. Aku nggak mau tiba-tiba ditagih. Ih ngeri! Pokoknya enggak. Aku nggak mau berhutang budi lagi sama beliau. Beliau and me udah end pokoknya. Nggak ada hubungan lagi. Masalah kami udah habis. Oke bestie, jangan bahas lagi ya," jawab Dini memohon.
"Iya, Neng... paham." Lita mencebikkan bibirnya kesal.
"Kapan kamu traktir aku, Best. Kangen ni, pengen makan Mie ayam yang di Mangga dua," ucap Dini.
"Astaga, Best. Jangan kek orang susah gitu napa? Tenang, habis ketemu Mas Endrik, aku pasti bawa kamu ke Mangga dua. Sekarang kamu masuk lagi, cari uang yang banyak buat bosmu ini. Oke!" ucap Lita.
Dini tersenyum. Lalu ia pun meminta Lita berjanji.
"Bener? janji, awas boong!"
"Bener!"
"Iya, ya elah.. pokoknya selagi ada mbak Lita, semua aman. Oke!"
"Bener loh ya. Eh tunggu, aku mau nanya sesuatu sama kamu. Tapi jangan marah ya."
"Ya, tanya apa? Soal apa?"
"Soal Tanjung, semalam dia kirim kabar ke aku, katanya mau balik ke Korea. Kamu seriusan nggak mau sama dia, Ta?" tanya Dini.
"Tanjung ya? semalam dia juga bilang sih ke aku. Tapi mau gimana? Kan kamu tau, aku nggak cinta sama dia. Aku nggak bisa hidup bareng sama orang yang nggak aku cinta, Din. Aku udah coba buka hati buat dia. Tapi tetep kaku. Rasanya hambar. Perasaanku tertekan. Aku nggak bisa pura suka sama dia, Din. Aku juga nggak bisa nipu dia," jawab Lita dilema.
"Iya, aku paham. Semoga Tanjung bisa legowo nglepas kamu sama yang lain ya, Ta. Semoga Tanjung bisa dapet seseorang yang pas untuknya."
__ADS_1
"Ya, aku pun berharap demikian. Eh Din... kemarin aku sempat ngobrol sama Bian. Kamu jadi ngajuin cerai?"
"Jadi, Ta.... tapi belum ada uang. Gimana dong?" jawab Dini jujur.
"Katanya bosnya mas Bian mau bantu. Gimana? Terima aja kalo nggak, Din!"
"Yah... dia lagi dibahas... nggak, nggak... nggak mau Ta, cukup sudah aku ngrepotin beliau. Malu, Ta.. Ya Tuhan. Udah jangan cerita apapun soal aku sama Bian. Insya Allah pasti ada jalan buat lepas dari pria itu. Toh selama kami nikah, aku nggak prnah dinafkai secara lahir. Jadi Insya Allah nggak bakalan dipersulit," pinta Lita memohon sekali lagi.
"Iya, bener... aku percaya, pasti ada jalan buat kamu. Hemmm!" jawab Lita sembari memeluk sahabatnya.
***
Keesokan Harinya...
Seperti hari-hari biasa, Dini sedang bersiap untuk berangkat kerja. Sejak rumahnya di sita oleh bank, Dini memilih tinggal di kontrakan yang di sediakan oleh Lita untuknya.
Dini memang tak mau ketika pria yang menabraknya waktu itu, menawarkan diri untuk membayar hutangnya di bank.
Dini memilih mengikhlaskan rumah itu. Karena ia tak ingin berhutang budi pada siapapun. Ia merasa lebih bebas, ketika ia tidak memiliki beban dengan berhutang pada orang lain. Baik itu hutang materi maupun moral. Dini tak ingin hidupnya terlilit dua beban tersebut.
Dini hanya bisa tersenyum kecut jika mengingat fase paling mengerikan dalam hidupnya itu.
Bagaimana tidak? Pernikahan yang didambakan oleh semua orang, nyatanya malah membuatnya kehilangan segalanya. Rumah, motor, kedai, tabungan serta perhiasan yang ia kumpulkan selama ini.
Awalnya Dini Shock. Dini terpukul. Tapi ketika ia belajar mengikhlaskan dan berpasrah diri, maka tak ada yang tak mungkin. Sekarang Dini bisa bangkit dari keterpurukannya. Belajar mandiri kembali. Meskipun dia harus bekerja pada orang. Dini ikhlas. Baginya itu lebih baik. Dari pada menjadi bos tetapi memiliki banyak hutang.
Dini meraih tas dan juga kunci motor yang ada di meja makan. Lalu bersiap keluar rumah.
Dini menghentikan langkahnya, ketika tak sengaja kakinya menginjak sebuah amplop berwana cokelat.
Tak ada nama pengirim. Hanya ada nama dirinya di sana. Dini membolak balikkan paket tersebut. Ingin membukanya, tapi ragu. Ingin membiarkannya tapi penasaran.
Sebuah paket yang membuat Dini berdebar. Dini takut itu adalah tagihan utang untuknya. Dini trauma dengan hal tersebut. Dini takut, jika pria itu membuat ulah lagi. Mengingat dirinya dan pria itu masih terikat pernikahan yang sah di mata negara.
__ADS_1
Bersambung...