
Dini tak ingin kalah dengan kelicikan Evan. Ia yakin penilaiannya terhadap Evan tidak salah. Dini yakin, Evan pasti penipu, sama seperti Robin. Meskipun tipuan Evan berbeda. Tapi tetap saja, sekali tipu tetap tipu. Maka jangan mudah untuk dimaafkan.
Dini tetap melaksanakan tugasnya sebagai pengasuh Almera, mau bagaimanapun tujuannya datang ke tempat ini adalah menjaga balita itu. Agar balita tersebut bisa tumbuh dengan baik.
Satu jam berlalu, Dini bersiap untuk tidur. Tapi ponselnya bergetar. Dini menilik ponsel tersebut. Ternyata Lita yang menghubunginya.
"Ya, Ta, ada apa?" tanya Dini.
"Nggak ada apa-apa, Din. Aku hanya khawatir sama kamu," jawab Lita.
"Aku baik, kok. Semua baik. Abangnya mas Evan juga udah diamankan sama pihak polisi. Hanya saja, aku ngadepin masalah baru, Ta," jawab Dini jujur.
"Iya, aku tahu. Soal suamimu kan? ternyata dia pria itu kan. Pria yang menabrak kamu dan yang bantu biayain kehidupan kamu pas kamu masih sakit," jawab Lita.
"He em. Kok kamu tau, Bian udah cerita semua ya?" tanya Dini.
"He em, bahkan dia juga cerita kalo suamimu beli salah satu unit apartemen supaya bisa lihat kamu tiap hari. Aku rasa dia udah bucin sama kamu, Din. Makanya dia sampai bertingkah seperti itu," jawab Lita.
"Entahlah, Ta... tapi aku malas berurusan dengannya. Dia penipu. Sama seperti Robin," balas Dini, cembetut.
"Tidaklah, Sayang. Jangan menyamakan mereka. Ku rasa suamimu jauh lebih baik dibanding pria bajingan itu. Percayalah, aku saja sampai ikutan baper pas Bian cerita. Ternyata ada pria model begitu di dunia ini," ucap Lita semangat.
"Jangan bahas dia ahh... dia itu nyebelin! Kamu kalo ngajakin bahas dia, mending kita tutup telpon ini. Terus kita tidur. Pokoknya kalo mau ngomongin dia, mending sana Bian aja. Aku malas pokoknya!" jawab Dini kesal.
Lita tersenyum. Tak ingin membuat sahabatnya kesal, Lita pun memutuskan untuk mengakhiri panggilan telpon mereka. Sedangkan Dini hanya menggerutu. Ternyata Evan banyak sekali Sekutu. Kemarin Bian. Sekarang satu-satunya sahabat yang ia miliki juga ikutan membela pria itu.
Malam semakin larut, Dini memutuskan untuk tidur. Melupakan sejenak masalah yang saat ini sedang membelitnya.
Sayangnya, Dini kelewat ceroboh. Ia tak mengunci pintu kamar Almera. Sehingga Evan bisa dengan mudah masuk ke dalam kamar tersebut.
Evan, si pria jahil dengan seribu kelicikannya itu pun langsung naik ke ranjang Dini dan memeluk wanita yang ia cintai ini.
__ADS_1
Tak peduli nanti Dini akan marah padanya, yang jelas ia sangat menginginkan tubuh itu. Untuk ia peluk. Untuk ia dekati.
Evan tak ingin kehilangan kesempatan berharga ini. Di tatapnya wajah sendu Dini yang bersinar di antara tamaramnya malam. Bias cahaya remang-remang membawa aura indah dalam hati Evan.
Ingin rasanya, malam ini ia melahab kekasih hati. Namun sayang, perselisihan yang terjadi antara dirinya dan wanita ayu ini nyatanya tidak bisa membuat Evan gegabah.
"Akan aku buktikan bahwa aku bukanlah pria penipu seperti yang kamu katakan, Sayang. Aku adalah pria yang akan selalu melindungimu. Apapun yang terjadi," ucap Evan sembari mengelus pipi istrinya ini.
Tak lupa, Evan juga memberikan kecupan pe! uh cinta di bibir manis Dini. Membuat Dini menggeliat merasakan tidurnya terusik.
Benar saja, saat ia membuka mata, terlihat Evan sudah ada di atas tubuhnya.
"Mas Evan... apa yang kau lakukan?" pekik Dini terkejut.
"Nggak ada, aku hanya memandangmu saja. Memangnya salah kalo suami peluk istri?" jawab Evan santai.
"Salah, karena hubungan kita bukan hubungan suami istri pasa umumnya. Mas Evan tipu Dini. Sudah jangan dibahas lagi. Sebaiknya mas Evan kembali ke kamar. Kalo nggak Dini teriak ni!" ancam Dini kesal.
"Ya Allah ya Tuhanku... kenapa aku harus terlibat dengan pria macam ini. Ayolah, Mas. Sportif. Kan kita nikahnya nggak di dasari cinta. Ngapain paksa-paksa tidur bersama," jawab Dini kesal.
"Siapa bilang nggak ada cinta, ada kok. Buktinya aku cinta sama kamu. Aku mau memperjuangkanmu. Aku mau menunggumu. Kamu aja yang nggak peka!" jawab Evan sembari melingkarkan tangannya di perut sang istri.
Dini tidak menolak, hanya saja ia terlihat tak suka disentuh oleh Evan.
"Sejak kapan mas Evan suka sama Dini?" pancing Dini.
"Sejak aku tau sejarah tentangmu."
"Sejarah tentangku? Kapan itu?" Dini melirik wajah sang suami yang saat ini berada dekat dengannya.
"Ketika kamu kehilangan bayimu. Saat itu aku mulai mencari tahu tentangmu. Tentang penyebab mengapa kamu dikejar oleh para preman itu, hingga menyebrang jalan tanpa melihat kanan dan kiri," jawab Evan jujur.
__ADS_1
Dini kembali melirik Evan. Ada sedikit desiran aneh yang tercipta, ketika mata mereka bertemu.
"Aku bodoh kan?" tanya Dini.
"Tidak, hanya saja kamu kurang beruntung," jawab Evan.
"Aku terlalu naif hingga mudah dibohongi pria."
"Sini aku peluk, sekarang kamu punya aku. Jadi jangan takut lagi. Oke!" jawab Evan sembari membawa Dini ke dalam dekapannya.
"Aku tidak bisa melupakan kejadian di mana dia menyerahkan aku pada rentenir jahat itu. Ia menjual ku pada pria hidung belang, Mas. Aku takut," ucap Dini gemetar.
"Sstttt.... kejadian itu sudah berlalu. Tak akan ada lagi kejadian yang sama. Aku akan melindungimu. Percayalah, dia pasti akan dapat ganjarannya," ucap Evan, meyakinkan.
Entah ini tipuan atau tidak, yang jelas saat ini Dini sedang membutuhkan asupan nutrisi seperti ini. Dihargai, dihormati, dari setiap kata yang ia ucapkan dari hati.
"Maukah kamu belajar mengenalku?" tanya Evan.
"Haruskah?" balas Dini.
"Ya, aku ingin kita pacaran. Saling mengenal satu sama lain. Aku ingin kamu mengenalku. Aku janji nggak akan pernah ngecewain kamu," ajak Evan.
"Janji jangan tipu!" pinta Dini.
"Janji... "
"Baik. Aku akan coba mengenalmu. Tapi sebelum itu, aku minta tolong jangan memaksaku untuk melayani mulai secara batin. Sebelum aku benar-benar siap memulainya. Aku masih belum siap di sentuh pria. Maksudku dalam hubungan suami istri," pinta Dini jujur.
"Tentu, Sayang. Aku nggak akan memaksamu. Tapi tolong jangan jauhi aku. Oke." balas Evan.
Dini tersenyum. Menyetujui apa yang suaminya inginkan.
__ADS_1
Bersambung...