
hans berpura2 biasa saja sambil menggosok2 rambutnya yang masih basah. dia cuman diam dengan wajah datarnya meskipun sebenarnya dia mendengarkan perkataan ririn.
" ehem...kakak bisa pinjam sajadah dan boleh numpang shalat disini " kata hans membuyarkan lamunan ririn
" eh..iya bisa kak, sejadahnya ada diatas meja belajar ririn kak. ya udah ririn mandi dulu ya" kata ririn gugup lalu melangkah dengan cepat memasuki kamar mandi. hans yang melihat tingkah ririn jadi tersenyum sendiri.
" ya ampun...ada apa se dengan gue, kenapa setiap kali berhadapan dengan kak hans kok gue jadi salting gini ya...haiiisshhh...ujar ririn dalam hati.
15 menit ririn melakukan ritual mandinya. ririn keluar dari kamar mandi sudah dengan berpakaian lengkap. dilihatnya kamarnya dah nampak sepi berarti kak hans sudah keluar dari kamar.
seusai ririn melaksanakan shalat maghrib. ririn membereskan alat shalatnya lalu ditaruh diatas meja belajarnya. lalu ririn keluar dari kamar dilihatnya maya, reyhan, anita dan hans sudah duduk dikursi meja makan.
ririn segera duduk disamping hans. ada rasa gugup dihati ririn namun ririn berusaha tuk menutupi itu dengan tersenyum dan berusaha bersikap biasa aja. tak lama frans yang sudah selesai mandi dan nampak segar datang dan duduk disamping anita.
" karena semuanya sudah berkumpul, silahkan dinikmati makanan ala kadarnya...kalau gak enak jangan protes ya" ujar nita tegas
maya, reyhan, hans, ririn dan frans hanya mengangguk dan tersenyum. maya berdiri dan mengambil piring diisinya nasi, udang asam manis, perkedel dan sambel kedalam piring reyhan lalu diletakkan dihadapannya. maya menyendokkan sup ayam kedalam mangkuk lalu ditaruh disamping piring reyhan dan segelas air putih. reyhan tersenyum karena merasa senang bisa dilayani seperti itu oleh maya.
__ADS_1
" dimakan mas..." kata maya lalu maya mengambil makanan untuk dirinya.
" so sweat banget se kalian berdua? gak kasian apa ma kita yang gi jomblo" kata ririn cemberut membuat maya jadi malu
" ahayy...serasa dunia milik berdua" goda nita pada maya membuat wajah maya memerah seperti kepiting rebus
reyhan yang mendengar ririn dan anita menggoda maya jadi tersenyum.
" cie...cie...sibabang ganteng seneng banget dilayanin ma istri tercinta?" goda frans membuat reyhan kesal. sebenarnya reyhan senang digoda seperti itu tapi karena gengsi makanya dia berpura2 seolah2 gak suka.
" gue makan sendiri aja baang...makasih" kata frans takut
"rin, apa lo gak ngambilin makan gitu buat kak hans...tuh lihat donk maya layanin kak reyhan dimeja makan..." goda nita
" apaan sih lo nit" kata ririn kesel dengan tatapan tajam pada nita
" iya rin, layanin hans tu, sapa tau dengan begitu dia langsung mau menikah" goda reyhan tersenyum licik
__ADS_1
" iya rin...biar kakak gue yang satu ini gak jadi perjaktu...hahaha..." goda frans tertawa membuat semua orang tertawa kecuali Ririn dan hans.
ririn yang merasa digoda menjadi malu wajahnya berubah memerah seperti kepiting rebus. tapi hans cuman memasang wajah yang datar yang sulit di artikan. maya yang melihat ririn digoda terus ma reyhan, anita dan frans pun gak tega.
" udah...udah...nih lagi dimeja makan. kapan makannya kalau kalian becanda mulu" kata maya tegas
" makasih bebz, lo emang penyelamat gue" sahut ririn tersenyum. mayapun ikut tersenyum
" senyum ini, canda tawa ini, suasana ini pasti akan sangat gue rindukan. akankah dapat selalu seperti ini" kata maya sedih dalam hati
reyhan, hans, frans, maya, anita dan ririn melanjutkan makan mereka yang sempat tertunda. tak ada suara selain dentingan sendok.
" rasa masakan ini masih sama seperti dulu. maafkan aku may, yang slama ini selalu mengabaikanmu.." kata reyhan sedih dalam hati
dulu maya selalu mengirimkan makan siang kekantor reyhan. pada awalnya reyhan selalu menolak dan menyuruh tuk membuangnya tapi hans tidak tega karena maya sudah berusaha untuk memasaknya jadi hans yang selalu memakan makanan tersebut. agar maya tidak merasa sedih tapi maya tau akan hal itu karena maya tampa sengaja melihat kejadian itu.
sedih dan kecewa itu sudah pasti tapi maya tak gentar untuk selalu mencoba secara terus menerus hingga seminggu kemudian reyhanpun akhirnya mau menerima dan memakan masakan yang dibuat maya. dibalik dingin dan keras kepala tersimpan hati yang begitu lembut. itulah yang selalu almarhumah bibi nisa katakan pada maya.
__ADS_1