Suamiku Suami Bibiku

Suamiku Suami Bibiku
PART 38


__ADS_3

maya pergi menuju UGD karena maya tau kalau ririn saat ini sedang mengecek kondisi pasien yang tadi siang mengalami kecelakaan dan masih belum sadarkan diri.


" dr. ririn apa kita bisa bicara sebentar?" kata maya sopan. ririn yang melihat kedatangan sahabatnya secara tiba2 jadi terkejut. ririn merasa bingung ada apa maya ingin menemuinya. ririn memberikan kode setuju pada maya.


" sus...tolong pantau terus kondisi pasien ini ya...kalau ada apa2 tolong segera hubungi saya" kata ririn pada rita


" baik dok..." kata rita. ririn segera keluar meninggalkan ruang UGD. dan menemui maya yang sudah menunggunya didepan ruangan UGD.


maya yang melihat ririn sudah keluar dari dalam ruangan UGD berjalan yang diikuti ririn dari belakang mencari tempat yang agak sepi biar maya nyaman berbicara pada ririn.


mereka berhenti disalah satu lorong rumah sakit yang nampak sepi tak jauh dari ruang UGD disitu ada kursi panjang. maya menghentikan langkahnya dan duduk dikursi tersebut dan disusul oleh ririn. ririn yang menatap maya bingung akhirnya memecahkan keheningan diantara keduanya.

__ADS_1


" ada apa maya?" tanya ririn penasaran


" rin...gue to the point aja ya, jujur bukan maksud gue untuk ikut campur masalah lo dengan kakak hans. tapi sumpah gue gak tega lihat dia seperti itu. menurut gue lo agak sedikit keterlaluan rin. ngapain sih lo pake acara ngehindarin kak hans segala? apa salahnya jika lo nemuin kak hans dan bicarakan semuanya secara baik2. agar masalah diantara kalian berdua bisa segera terselesaikan " kata maya serius. nampak ririn terdiam sejenak. tatapan mata ririn begitu sendu


" iya may, mungkin lo benar kalau sikap gue selama ini agak keterlaluan ma kak hans. tapi jujur maya...gue belum siap bertemu dengan kak hans untuk saat ini, gue benar2 belum siap..." kata ririn sedih menunduk


" huuufftt...rin, mau sampai kapan lo baru merasa siap. sebulan, dua bulan atau setahun bahkan lebih gitu. tapi ujung2nya tetapkan kalian harus bertemu juga kan? rin, cepat atau lambat kalian pasti akan berjumpa. lebih cepat lebih baik rin, lo nyelesaiin masalah antara lo dan kak hans...biar hati lo tenang...begitu juga dengan kak hans. dia pria yang baik rin, jika dia pria brengsek ngapain kak hans mesti bersusah payah menghubungi lo tapi selalu lo tolak panggilannya. dia bela2in datang tiap harinya bolak balik tidak dirumah sakit bahkan dia juga datang ke apartemen lo agar bisa nemuin lo tapi sikap lo acuh tak acuh gitu ma dia. kasian kak hans rin, dia nampak begitu frustasi. berikan dia kesempatan rin...cobalah bicara dari hati ke hati agar kalian bisa nemuin jalan terbaik untuk penyelesaian masalah kalian berdua okey...( maya menepuk bahu ririn tersenyum) tapi semua keputusan ada ditangan lo...cobalah sebelum semuanya terlambat...gue harap lo bisa mikirin baik2 perkataan gue ya rin. gue pamit dulu bye..." kata maya lalu perjalan meninggalkan ririn begitu saja.


ririn setengah berlari mencari keberadaan hans. ririn melihat kekanan dan kekiri menelusuri setiap lorong rumah sakit namun ririn masih belum menemukan sesosok yang sedang dia cari.


" kemana kak hans, apa dia sudah pulang" gumam ririn. ririn terus melangkahkan kakinya mencari keberadaan kak hans. tak lama kemudian akhirnya ririn menemukan sosok yang sedari tadi ririn cari sedang duduk sendiri dibelakang taman rumah sakit. entah apa yang sedang dia pikirkan.

__ADS_1


hans yang tengah duduk termenung, lamunannya pun buyar ketika mendengar suara seseorang yang tak asing bagi diri hans.


" kak hans...." kata ririn mendekati hans yang sedang duduk dibangku panjang taman rumah sakit. hans menoleh kearah suara itu.


" ririn...( hans berdiri dari duduknya langsung memeluk tubuh ririn, ririn kaget terdiam menerima pelukan hans) aku senang akhirnya kamu mau nemuin aku juga" kata hans merasa bahagia yang masih memeluk tubuh diam ririn.


" kak hans...." kata ririn merasa tak nyaman dengan posisi mereka saat ini


" eh, ma...maafkan aku rin. duduklah..." kata hans gugup melepaskan pelukannya lalu menarik tangan ririn untuk duduk disebelahnya.


dada ririn serasa berdebar dengan kencang. ririn merasa sangat canggung. begitu juga dengan hans, dia bingung pengen ngomong tapi mulainya dari mana. lama mereka berdua terdiam tak ada yang memulai percakapan.

__ADS_1


__ADS_2